Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi Ini
    Kritik Sastra

    Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi Ini

    25 Mei 2025Tidak ada komentar8 Mins Read79 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Menikmati Satu di antara Puisi Penyair Tabrani Yunis

    Oleh Atik Bintoro

    Mengenal Penyair Tabrani Yunus, dan Puisi Gerimis Pagi ini

    Menurut laman https://potretonline.com/2025/05/13/gerimis-pagi-ini/, Penyair Tabrani Yunis, lahir di Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh. Dia seorang guru bahasa Inggris, sudah menulis di media sejak tahun 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini, essay dan puisi. Menerbitkan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan”.

    Tabrani Yunis juga aktif di gerakan literasi anak negeri, sejak tahun 1990 mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013).

    Pada kesempatan ini Penulis sebagai Penikmat Puisi, akan menikmati Puisi berjudul Gerimis Pagi ini, Karya Penyair Tabrani Yunis. Adapun Puisinya tayang seperti di bawah ini [1].

    Gerimis Pagi ini
     
    Gerimis pagi ini turun berembun pagi
    Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi
    Burung-burung diam bersembunyi
    Senyap tanpa ada lantunan suara nyanyi
    Pagi ini gerimis bernyanyi sendiri
    Berlari-lari mengitari udara pagi
    Menyebarkan sensasi
    Menyambut terbitnya sang matahari
    Gerimis pagi ini terus bernyanyi
    Membelah sepi
    Mengurai sunyi
    Mengiringi gerak gadis kecil menari
    Gerimis pagi terus menari
    Menghibur hati nan sedang sendiri
    Menikmati pagi dengan secangkir kopi
    Anugerah ilahi yang sangat berarti
    Gerimis pagi belum reda berhenti
    Basahi pagi sebelum fajar beranjak pergi
    Janganlah gusar hadapi hari
    Gerimis turun membawa rezeki dari Ilahi
    Gerimis pagi ini masih enggan berhenti
    Sebelum rintik dan rinainya disusun rapi
    Terurai dalam sebait puisi
    Gerimis pagi ini

    Menelusuri Puisi Gerimis Pagi Ini

    Puisi berjudul /Germis Pagi ini/, karya Penyair Tabrani Yunis seperti yang tertulis di atas, akan disusun ulang agar memudahkan di dalam menikmati Puisi tersebut.
    Puisi disusun seperti di bawah ini.

    Gerimis Pagi ini

    1.
    Gerimis pagi ini turun berembun pagi (1)
    Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi (2)
    Burung-burung diam bersembunyi (3)
    Senyap tanpa ada lantunan suara nyanyi (4)

    2.
    Pagi ini gerimis bernyanyi sendiri (1)
    Berlari-lari mengitarl udara pagi (2)
    Menyebarkan sensasi (3)
    Menyambut terbitnya sang matahari (4)

    3.
    Gerimis pagi ini terus bernyanyi (1)
    Membelah sepi (2)
    Mengurai sunyi (3)
    Mengiringi gerak gadis kecil menari (4)
     
    4.
    Gerimis pagi terus menari (1)
    Menghibur hati nan sedang sendiri (2)
    Menikmati pagi dengan secangkir kopi (3)
    Anugerah ilahi yang sangat berarti (4)

    5.
    Gerimis pagi belum reda berhenti (1)
    Basahi pagi sebelum fajar beranjak pergi (2)
    Janganlah gusar hadapi hari (3)
    Gerimis turun membawa rezeki dari Ilahi (4)

    6,
    Gerimis pagi ini masih enggan berhenti (1)
    Sebelum rintik dan rinainya disusun rapi (2)
    Terurai dalam sebait puisi (3)
    Gerimis pagi ini (4)

    Puisi berjudul /Germis Pagi ini/, karya Penyair Tabrani Yunis di atas akan dinikmati menggunakan peralatan pemindaian: rasa, logika dan makna; berdasarkan pendekatan dari sisi: makna bahasa, praduga metafora, keterkaitan dengan diksi diksi pada satu dua puisi yang sudah beredar di masa sebelumnya, dan bantuan analisis berbasis aplikasi kecerdasan buatan semisal Meta AI.

    Diksi pada judul /Gerimis Pagi ini / mengingatkan pada fenomena Gerimis dan Pagi. Germis adalah hujan kecil kecil atau hujan ringan. Pada umumnya bulatan air gerimis berukuran diameter lebih kecil dari 0.5 mm. Kapasitas air gerimis yang jatuh belum memungkinkan menjadi hujan deras [2]. Sedangkan diksi pagi pada umumnya untuk Waktu Indonesia Bagian barat (WIB) berlaku beberapa istilah, yaitu: Dini hari dari Jam 00.01 s/d 02.00, Pagi buta dari Jam 02.01 s/d 04.00, Pagi pagi dari Jam 04.01 s/d 06.00, Pagi hari dari Jam 06.01 s/d 08.00. Diksi /Pagi ini/ berpotensi terjadi pada jam 06.01 s/d 08.00.

    Penyair Tabrani Yunis rupa rupanya berhasil mengungkapkan: logika, makna, dan rasa keindahan yang menyangkut suasana pagi bergerimis, melalui gaya ungkap apa adanya, hampir tanpa metafora rumit. Meskipun kadang ada sedikit tanya dari penikmat puisi yang mungkin memperhatikan detail suasana, misalnya di bait 1, baris 1 & 2.

    /Gerimis pagi ini turun berembun pagi (1) 
    Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi (2)/

    Pada bait (1) diksi /Gerimis/, dan /pagi/ secara sekilas penjelasannya sudah disampaikan di uraian di atas. Sedangkan diksi /berembun/ mengingatkan pada embun, yang biasanya turun di waktu malam hari, karena kondensasi udara atau uap, kemudian membentuk embun berupa butiran air. Embun seringkali menempel bergelayut di daun dan di rerumputan.

    Pada pagi hari bersamaan dengan gerimis yang membawa hawa dingin, bisa timbul kondensasi udara pagi, kemudian mengembun di permukaan yang dingin, misalnya di  kaca mobil bagian luar, atau pun di meja dan kursi yang berada di luar ruangan. Semua permukaan terasa basah oleh embun, termasuk mampu /Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi (2)/.

    Dari baris (1) dan (2) ini, sepertinya Sang Penyair berusaha memanfaatkan makna ganda kata kata dalam ranah multi tafsir alias Polisemi [3], sehingga berpotensi hampir tidak ketahuan kalau kalimatnya mengandung Polisemi, kecuali bagi penikmat yang mulai punya naluri mengerti tentang Polisemi.

    Bagaimana tidak, embun yang biasanya turun di malam hari, dan kadang tidak selalu berbarengan dengan gerimis, di tangan Penyair Tabrani Yunis menjadi bagai pedang bermata seribu. Hal ini memungkinkan bagi beragam penikmat bisa leluasa: merasakan, memaknai, dan melogikakan setiap pindaian kata yang terendus di benak penikmat. Misalnya ada yang mengajukan pertanyaan: mengapa diksi /gerimis pagi/ selalu tayang di hampir setiap bait? Apakah diksi ini semacam metafora yang diperluas, simbol tesembunyi, atau kah diksi terang benderang yang bermakna apa adanya, tanpa harus menafsirkan arti misteri apa yang ada di balik diksi. Beragam tanya dari beragam penikmat berpotensi bisa menikmati tanya jawab mengenai masing masing kandungan diksi.

    Jawabannya pun bisa beragam, sesuai latar belakang atau latar depan penikmat puisi. Misal jawaban bisa mengarah pada pikiran bahwa diksi tersebut merupakan metafora yang diperluas memasuki ranah makna batin dan spiritual dari diksi yang sudah disampaikan [4], sekaligus bisa dibaca berulang dari bait demi bait, dari baris ke baris, naik turun, atau pun turun naik; dari bawah ke atas, atau sebaliknya. Sehingga penikmat bisa mendapatkan fenomena intertekstual di antara beberapa barisnya [5], tanpa harus membandingkan dengan puisi lain karya Sang Penyair Tabrani Yunis sendiri, maupun karya Penyair lain.

    Dari potensi fenomena intertekstual ini, puisi /Gerimis Pagi ini/ bisa disusun ulang lagi menjadi semacam kalimat majemuk setara [6] yang hanya menampilkan diksi /Gerimis pagi ini/ cukup sekali dua kali saja, karena dipandang bisa mewakili makna keseluruhan, dan memungkinkan tidak terjadi perubahan: rasa, makna, dan logika puisi. Adapun kalimat puisi yang dimaksud yang kata /Gerimis Pagi ini/ nya dua kali saja, di awal, dan di akhir kalimat, adalah sebagai berikut:

    Gerimis pagi ini turun berembun pagi, Membasahi jalan dan lorong-lorong sunyi, Burung-burung diam bersembunyi, Senyap tanpa ada lantunan suara nyanyi, bernyanyi sendiri,  Berlari-lari mengitari udara pagi, Menyebarkan sensasi, Menyambut terbitnya sang matahari, terus bernyanyi, Membelah sepi, Mengurai sunyi, Mengiringi gerak gadis kecil menari, terus menari, Menghibur hati nan sedang sendiri, Menikmati pagi dengan secangkir kopi, Anugerah ilahi yang sangat berarti, Belum reda berhenti, Basahi pagi sebelum fajar beranjak pergi, Janganlah gusar hadapi hari, Gerimis turun membawa rezeki dari Ilahi, Pagi ini masih enggan berhenti, Sebelum rintik dan rinainya disusun rapi, Terurai dalam sebait puisi Gerimis pagi ini.

    Dari kalimat puisi yang telah disusun ulang seperti di atas, bisa dinikmati bahwa kalimat kalimat puisinya dapat diduga sebagai beberapa pernyataan deskripsi dari induk kalimat /Gerimis Pagi ini/.

    Masing masing pernyataan tersebut hampir tidak ada hubungan deduksi induksi ala silogisme Aristoteles [7]. Sehingga jika dihilangkan satu kalimat pernyataannya, akan tidak mempengaruhi pernyataan yang lain, karena mereka saling lepas, dan sanggup berdiri sendiri sendiri. Di sisi lain, juga bisa timbul tanya: Bagaimana hubungan dksi /Gerimis Pagi ini/ yang ada di setiap bait, saling bergantung atau kah saling lepas, dalam arti terjadi di pagi hari yang sama, atau berbeda?

    Rupa rupanya di sinilah kelihaian Sang Penyair dalam bermain fenomena Polisemi dalam baris baris puisi. Adapun tafsir puisi dari aplikasi kecerdasan buatan dalam bentuk gambar adalah seperti di bawah ini [8].

    Mungkin sambil ngopi, Penyair pun menikmati pagi, meski tanpa gerimis sekali pun, dan sedang membayangkan para Penikmat puisinya bertanya tanya: Masa sich begitu, jangan jangan: makna, rasa, dan logika; puisi ini begini ini. Hm…

    Selamat berpuisi
    dan teruslah berpuisi!

    Daftar Pustaka

    1. Tabrani Yunis, 2025, Gerimis Pagi ini, Potret Online. https://potretonline.com/2025/05/13/gerimis-pagi-ini/
    2. Gerimis, 2025, Wikipedia Ensklopedi Bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Gerimis
    3. Regina Riamoriska Kolin, I Putu Dewa Wijana, 2025, Polisemi Leksem Heart: Kajian Semantik, Jurnal Pendidikan Indonesia, p-ISSN : 2745-7141 e-ISSN : 2746-1920. Vol. 6 No. 4 April 2025
    4. Nurdiana simbolon, Irma Suryani, Julisah Izar, 2023, Analisis Struktur Fisik dan Batin Pada Puisi “Membenci Tuhan dan Aliran Pedang” Karya Gus Ubab, Kajian Linguistik dan Sastra P-ISSN 2963-8380, Vol 1, No 3, Januari 2023. https://online-journal.unja.ac.id/kal
    5. Septoriana Maria Nino, 2023, Intertekstualitas Puisi “Di Jembatan Mirabeau” karya Agus R. Sarjonodan Le Pont Mirabeau karya Guillaume Apollinaire, NUSA, Vol. 15 No. 3 Agustus 2020
    6. Hamsiah Djafar, 2017, Penggunaan Kalimat Majemuk dalam Karya Tulis Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, Jurnal al-Kalam Vol. IX No. 2 – Desember 2017
    7. Imron Mustofa, 2016, endela Logika dalam Berfikir: Deduksi dan Induksi sebagai Dasar Penalaran Ilmiah, EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam, Volume 6, Nomor 2, Juli-Desember 2016
    8. Gemini Flash 0.2, https://gemini.google.com/app

     

    Penulis: Atik Bintoro atau sering dikenal sebagai Kek Atek
    Penikmat Puisi tinggal di Rumpin, Kab. Bogor, Jawa Barat, Indonesia.
    Pegiat Komunitas Dapoer Sastra Tjisaoek

    Catatan:

    Artikel ini terbit pertama kali di Majalah Potret Online
    https://potretonline.com/2025/05/19/fenomena-polisemi-dalam-gerimis-pagi-ini/
    Atas seijin Majalah Potret Online, artikel ini diterbitkan ulang di Platform mbludus.com
    Artikel ini sudah mengalami revisi kecil kecilan oleh penulisnya.

    penyair aceh puisi kehidupan Tabrani Yunis
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleBarkanli OP Melahirkan Beragam Juara Memancing
    Next Article Membaca Peta Jalan Pemikiran Gus Dur: Catatan dari Esai Republik Bumi di Surga

    Postingan Terkait

    Menakar Aroma Surealisme Puisi Penyair D. Zawawi Imron “Sungai Kecil”

    19 Mei 2026

    Menikmati Panjat Tebing Puisi Penyair Darmanto Jatman “Memandang Padang Alang-Alang Pada Suatu Malam”

    9 Mei 2026

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Kebersamaan dalam Keberagaman Agama dan Budaya dari Novel Hujan Bulan Juni

    2 Juni 202611 Views

    Makna Takdir dan Kesabaran dari Novel Jodoh pasti Bertemu

    1 Juni 202623 Views

    Perjuangan Perempuan dalam Mempertahankan Martabat dan Haknya Ditengah Penindasan Sistematis dalam Novel Entrok

    31 Mei 20265 Views

    Menakar Aroma Surealisme Puisi Penyair D. Zawawi Imron “Sungai Kecil”

    19 Mei 202666 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (88)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (81)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (167)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.