Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Agama Puisi dalam Naluri Kebinatangan: Hari Raya Puisi
    Kritik Sastra

    Agama Puisi dalam Naluri Kebinatangan: Hari Raya Puisi

    14 Juli 2019Updated:15 November 2019Tidak ada komentar8 Mins Read78 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Agama Puisi dalam Naluri Kebinatangan: Hari Raya Puisi

    Nana Sastrawan

    “Saya kira pada waktu-waktu yang paling buruk itulah saya menulis puisi. Saya kira bukan puisi, tapi hanya semacam puisi.”

    Itulah pernyataan Hanna Fransisca dalam pengantar buku antologi puisinya yang berjudul ‘Konde Penyair Han’. Setelah kelahiran buku puisi pertamanya itu, Hanna menjelma penyair perempuan dengan kesadaran mempertahankan integritasnya pada kebudayaan leluhur. Dia melanglang ke dunia sastra dengan karakteristiknya sendiri. Beberapa penghargaan pun dia raih, satu di antara bukunya meraih penghargaan Sayembara Anugerah Buku Puisi Yayasan Hari Puisi Indonesia, itulah sebabnya kepenyairan Hanna semakin kokoh dalam sastra Indonesia.

    Pada buku ‘Hari Raya Puisi’ yang memuat sepuluh judul puisi Hanna Fransisca, saya menemukan hubungan kuat dengan karya-karya sebelumnya. Tampak di sana Hanna menghadirkan sesuatu yang biasa namun serius. Kita dirangsang untuk berpikir, diperdayai melalui puisinya yang menyampaikan pesan kultural. Oleh karena itu, terbuka peluang bagi puisinya untuk ditafsirkan bermacam-macam. Tema puisinya biasa saja, akan tetapi menghadirkan problem yang komplek tentang konflik batin dan perubahan sikap yang dilatari oleh kehidupannya dalam tarik menarik antara ke-Tionghoan dan ke-Indonesiaan. Meskipun demikian dalam beberapa puisinya Hanna memasuki wilayah tema umum tentang kehidupan sosial perkotaan. Gambaran tersebut tampak pada puisi ‘Kota Suci’ berikut ini.

    Jalan menuju kotamu,
    rawa-rawa di sekelilingnya. Langit lurus, pohonan mampus.
    Tak ada kelinci, tak ada bangkai ikan mujair, hanya senapan untuk
    memangsa
    kawanan burung.
     
    Asap dari langit seperti ayat,
    sisa sayap serangga, bangkai semut
    dan legenda para cacing
    yang hilang
    pada suatu malam.

    [iklan]

     
    Tak akan kautemui pabrik arak,
    tak ada pelacur, bahkan patung-patung berhala roboh
    pada suatu masa:
     
    Dulu, ketika anjing peliharaan masih ada. Dulu, ketika huruf-huruf latin masih dipakai untuk menuliskan kisah bahagia. Dulu, ketika lelaki
    perempuan
    masih bebas berciuman
    membicarakan dunia.
     
    Jangan pernah bernyanyi
    di jalan kotamu. Sebab suara tembakan akan menggantikan
    seluruh nada.
     
    Di radio, hanya tinggal nasehat
    dan doa-doa.
     
    Sebelum engkau pesta akhirat:
    saling membunuh,
    antar saudara.

    Puisi ini tersirat menampilkan tema yang komplek. Hanna membidik peristiwa besar dengan persoalan-persoalan di dalamnya disajikan secara rumit. Hanna fokus terhadap persoalan manusia, isu sosial dan ketidakadilan. Kehidupan kota yang keras dihadirkan oleh Hanna dengan begitu lugas, lalu ia membungkusnya dengan harapan, bahwa kota bisa saja menjadi suci tanpa dosa. Namun, apakah itu memang hanya semacam impian semua orang, atau sebenarnya Hanna hendak menyampaikan sesuatu isu yang tengah berkembang baru-baru ini, dia membungkusnya dengan metafora.

    Jika kita cermati puisi selanjutnya, Hanna memang hendak menyampaikan peristiwa besar yang terjadi di kota, mungkin kota Jakarta. Puisi ‘Ziarah ke Kota’ pada bait pertama, Engkau pamit pergi ke kota, membawa kalung temanmu/yang beda agama. Larik itu mengisyaratkan hubungan persoalan toleransi dengan peristiwa keagamaan di kota Jakarta. Ada semacam kritik di dalam puisinya itu, bagaimana dia lirik memiliki seorang teman yang berbeda agama di kota, kemudian dia pergi untuk mengunjungi kuburannya. Akan tetapi, keluarganya, orang-orang di sekitarnya melarang dan menertawakan. Hanna ingin menyampaikan sesuatu yang suci, bahwa sesama manusia mestinya saling menghormati dan menghargai. Di larik terakhir puisinya, Tak ada nama temanmu di sana/Tapi jasadnya terbaring mesra/di dalam hatimu. Teka-teki penggunaan dia lirik dalam puisinya itu pun seolah hendak menyampaikan bahwa mereka yang berbeda agama semestinya selalu ada di dalam hati setiap orang beragama, dijaga haknya sebagai manusia, sesama makhluk ciptaan Tuhan.

    Hal tersebut tidak hanya terhenti pada persoalan intoleransi, tapi juga pada persoalan kekerasan dan kerusuhan sosial. Puisi ‘Anjing Punya Rika’ terasa getir dan sunyi. Peristiwa kekerasan yang muncul pada puisi ini sebagai bentuk ironi dan sebagai pertanyaan retoris, mengapa kita saling menyakiti hanya karena rasa takut, benci atau dendam? Simaklah puisinya!

    Anjing punya Rika, pergi
    minggu lalu
     
    Kedinginan
    kelaparan
    kena hujan
     
    dan punggungnya luka
    dilempar batu
     
    Seorang anak pulang dari sekolah
    Ia patuh ajaran Pak Guru, “Untuk menjadi anak berani, harus belajar melempar anjing.”
     
    Anjing punya Rika, memandang ke kejauhan, Menggigil kedinginan,
    di bawah halte bis antar kota
     
    Punggungnya luka
    memandang dunia
     
    Cukup jelas bahwa Hanna hendak menyampaikan hal yang biasa terjadi namun memiliki makna yang luar biasa. Ya, ada pertanyaan selanjutnya setelah membaca puisi tersebut. Mengapa untuk menjadi berani harus melukai?

    Berbeda dengan puisi ‘Anjing Punya Saya’, naluri kebinatangan ditempelkan pada aku lirik, Hanna menunjukan bahwa setiap manusia memiliki sifat kebinatangan yang senang mencakar, menerkam, memangsa, dan saling membunuh tetapi bukan hanya karena lapar, melainkan sifat itu dipelihara sehingga menjadi ambisi, dan ambisi yang berlebihan berakibat pada kegilaan. Kau dan aku/sepasang anjing gila/menyalak/di kaki/ meja makan/Kita tidak berebut tulang iga, tidak berebut daging/Kita hanya senang/saling/mencakar.

    Hanna masih menyuarakan sikap kemanusiaan melalui puisi berjudul ‘Kucing Kecilku’. Puisi itu seolah menunjukkan sikap apatis seseorang pada penghakiman keyakinan antar individu. Ya, dengan kesadaran bahwa beragama adalah hak pribadi di dunia ini, tak boleh ada pemaksaan kehendak keyakinan pada siapa saja. Pada larik, Ia menari bersama orang-orang suci/yang berkumpul untuk membangun tembok agama/dari kata yang penuhi duka cita: “Pedang menyala. Enyalah mata kafir. Najis Babi. Lendir anjing …” Larik ini menegaskan bahwa ada semacam pemberontakan pada dirinya untuk tidak sepakat pada fenomena keriuhan di negeri ini yang beratas-namakan agama tertentu. Bagaimanapun juga puisi adalah simbol untuk menyembunyikan makna. Pesan-pesan yang sengaja disembunyikan membuat puisi hidup menjadi bahan renungan yang sublim.

    Puisi berjudul ‘Musyawarah Katak’ semakin menegaskan bahwa penyair menolak agama dijadikan senjata untuk saling menghancurkan. Sikap Hanna ini bisa saja dilatarbelakangi oleh kultur leluhur. Namun, siapa pun pasti akan menolak kehancuran dan permusuhan bukan? Hanna berdiri dengan menyimpan kultur leluhur di belakangnya dan problem sosial yang kini di hadapinya. Bagaimana dia harus bersikap?

    1.
    Nyanyi sore
    di kolam kita
    biar hujan tak lekas reda.
     
    Putik belimbing daun talas
    kamboja kuning
    mekar serentak
     
    2.
    Gurih udara milik siapa:
    kita bernyanyi,
    untuk apa?
     
    “Kita bernyanyi untuk semesta.”
     
    “Kita bernyanyi
    untuk manusia.”
     
    Bukan. Bukan buat manusia.
    Mereka tak akan mampu mendengar
    suara. Mereka tak bisa mengintip sunyi,
    yang menumbuhkan biji
    di subuh hari
     
    “Tapi mereka punya Tuhan.”
     
    “Tapi mereka juga membakar pendosa,
    yang berdosa di rumah ibadah.”
     
    3.
    Sore bahagia,
    ranting dan pohonan
    mendengar suara.
     
    Di pojok kebun kolam kita:
    Tuhan tersenyum
    duduk di sana.
     

    Dalam puisi ini, metafora ditempatkan tidak hanya sebagai wadah persembunyian makna. Ia juga memunculkan wujud estetika puitik. Itulah salah satu usaha membangun jurus untuk menyadarkan emosi dan menggugah rasa kemanusiaan. Dalam hal ini ada usaha untuk mengaitkannya dengan penyadaran beragama dan berketuhanan. Ada dialog sesama katak yang membicarakan manusia, kemanusiaan dan ketuhanan. Ini membuktikan satire yang dihadirkan begitu tajam.

    Dalam puisi berjudul ‘Perahu Kayu’ dan ‘Baju Orang Biasa’ ada kesan seruan atau ajakan untuk menjadikan manusia dekat dengan kesadaran dirinya sendiri, dengan alam, dan denganTuhan. Peristiwa pegunungan, hutan dan keheningan orang-orang dusun membawa kerinduan pada kedamaian. Pikiran Hanna seolah tak ingin sesak oleh keruwetan, kerusuhan di kota besar. Dia seakan ingin mengajak kita berdamai untuk dirinya sendiri, meskipun terkadang harus menelan kepahitan dalam menjalankannya.

    Peristiwa dalam puisi terkadang sama namun tafsirnya berbeda. Dalam puisi berjudul ‘Malaikat’. Peristiwa dalam puisi itu terkesan seolah-olah tidak ada hubungannya dengan judul.

    di tanah
    cuma cacing mengeliat
    sisa hujan
    daunan busuk
     
    rengat kayu
    di antara suara guntur
    tengah hari
     
    laba-laba memintal jerat
    serangga terbang
    burung elang lapar
    anak ayam menciap
    dan petir meletus
    di telinga
     
    antara rimbun padi
    air mengering
    dan ular merayap
     
    menuju rumahmu       
     

    Begitulah, kata bisa menciptakan citraan yang berbeda, bergantung pada tombol mana yang ditekan untuk merangsang memori. Kualitas memori pun dilatari oleh kekayaan pengalaman masing-masing. Hewan-hewan yang dimunculkan pada puisi ini seolah menjadi simbol untuk menggiring pembaca kepada Malaikat. Lalu pertanyaannya adalah apakah malaikat di sini sebagai wujud, atau sifat-sifat malaikat? Nah, di sinilah pentingnya suatu jembatan agar puisi tersebut dapat dimaknai secara utuh. Hanna seolah sengaja melakukan itu semua sebagai hal yang biasa. Begitu pun dengan puisi ‘Kuburan Batu’ terasa aroma kegelapan menyelimuti puisi tersebut, sehingga naruli puisi yang menghidupkan seakan menjadi mati seperti kuburan pada wujudnya, diam tak bergerak.

    Berbeda dengan ‘Puisi Mei’ pada bait pertama Hanna menjadikan seorang anak sebagai tokoh. Anakku menulis puisi/Dengan tinta merah/serupa darah. Permulaan puisi itu membawa kita ke hal yang mengerikan. Mei, adalah namanya, dijadikan tanda untuk menarik dalam konteks peristiwa Mei 1998. Ada semacam kegalauan pribadi yang tak bisa ditahan sehingga melahirkan kecemasan peristiwa sejarah. Hanna, tak ingin menjadi seorang diri yang menjadi saksi, dia menutup puisinya dengan bait, Ia tak tega/jika dari matanya/menyimpan saksi/kobaran api.

    Sementara puisi berjudul ‘Daun’ memberikan aroma semesta yang terasa kental. Hanna menghadirkan makna yang membuat diri kita menyadari sebagai manusia. Makhluk yang diciptakan Tuhan tanpa keabadian. Pada larik; Ia ingin kembali/menjadi bumi, muasal ia/dilahirkan. Daun yang jatuh menyimpan makna bahwa manusia akan kembali ke tanah. Puisi ini seakan menutup dari puisi-puisi di atas, bagaimanapun manusia hidup dengan segala pikirannya, prilaku, dan kebudayaannya. Mereka pada akhirnya kembali kepada sang pencipta dan harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.

    Demikianlah puisi-puisi Hanna dalam buku antologi puisi Pemenang Anugerah Hari Puisi 2013-2017 yang diciptakan olehnya pada tahun 2017. Tampak jelas jika Hanna hendak memberikan pandangan bahwa dalam diri manusia memiliki sifat-sifat kebinatangan, dan puisi hadir sebagai agama untuk mengingatkannya.

    Jika dia menulis puisi pada waktu yang paling buruk, dapat diakui kegelisahannya itu pada setiap kata yang dituliskannya, pada peristiwa yang dihadirkannya, pada tema yang diutarakannya. Hanna seorang penyair yang membaca, tidak hanya buku-buku sastra, melainkan hal-hal lain yang hadir pada dirinya. Peradaban kota, persaingan hidup telah membentuk dirinya memiliki kekuatan untuk berdiri tegar sebagai penyair.

    Desember, 2018

    Kritik Buku Puisi kritik puisi Kritik Puisi Hanna Fransisca kritik sastra Kritik Sastra Indonesia Nana Sastrawan
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleTatkala Roket Telah Menjadi Magnet
    Next Article Main Gatrik

    Postingan Terkait

    Diksi Unik di Puisi Emha Ainun Nadjib “Doa Terampun Ampun”

    12 Desember 2025

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202686 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202540 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202543 Views

    Perbandingan Film Animal Farm (1954) dan Animal Farm (1999): Kajian Adaptasi dan Alih Wahana

    18 Desember 202528 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.