Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Debu-Debu Jalanan
    Puisi

    Debu-Debu Jalanan

    19 Juni 2021Updated:20 Juni 2021Tidak ada komentar2 Mins Read183 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Ca’at Fa, kali ini berhasil menayangkan beberapa puisi yang beraroma tentang pencarian makna, siapa sejatinya dirinya. Hal ini bisa terduga di dalam pemilihan metafora dan diksi yang mendayu dayu, diselingi dengan berbagai nuansa keragu raguan. Mirip seorang pencari yang tidak pernah bertemu jawaban langsung dari proses pencariannya. Sebut saja beberapa bait puisi puisinya, semisal hanya Engkaulah yang kutuju dalam puisi ‘debu-debu jalanan’.

    Diksi ini mampu menjadi semacam tiang pancang yang ditancapkan kuat di antara debu-debu kehidupan, namun apakah sudah sampai pada tekadnya? Belum terendus jawab dari puisinya. Terus mencari… serasa itulah yang mewarnai puisi puisi besutan Sang Penyair. Di samping itu, penyair juga terpindai tidak terlalu berjarak dengan alam sekitar untuk memilih diksi dan melontarkan simbol-simbol yang sudah biasa dikenal di masyarakat luas, lebih-lebih tentang rindu dan cinta. Bagaimana tidak, Penyair pun tidak segan segan memilih ungkapan keseharian, semisal mata terpejam/ kidung asmara/karena mulutmu adalah harimaumu/kugenggam tanganmu. Itulah Ca’at Fa, Penyair yang kadang punya potensi menyembunyikan makna sesungguhnya di dalam setiap puisi puisinya, meski ditulis dalam kalimat yang terang benderang. Selamat menelurusi rahasia diksi Puisi puisinya. (Redaksi).

    Debu-Debu Jalanan
    beribu aksara telah kurangkai
    menjadi syair indah penuh makna
    beribu langkah telah kutempuh
    tak kuhiraukan debu-debu jalanan
    : hanya Engkaulah yang kutuju

    sf 26.08.2020 12:51

    Diam
    ketika sang bayu enggan berhembus
    apakah wangimu masih kan tercium
    ketika derasnya hujan menghujam
    apakah airmatamu masih dapat terlihat
    engkau terdiam dengan mata terpejam

    sf 28.08.2020 05:45

    Kembara
    terdengar seruling sang kembara
    di sunyinya padang savana
    melantunkan kidung-kidung asmara
    tentang rindu dan juga cinta
    yang berdesakan dalam dadanya

    sf 30.08.2020 06:08

    Maaf
    jangan kau umbar
    kebohongan, tipu muslihat serta kebencian
    hingga berserak di mana-mana
    maaf, jangan kaulakukan itu
    karena mulutmu adalah harimaumu

    sf 10.09.2020 06:51

    Tentang Gerimis
    tentang gerimis waktu itu
    kita berlari kecil kugenggam tanganmu
    memburu rindu di stasiun pasar minggu
    basah rambutku basah rambutmu
    kurangkul engkau di peron satu

    sf 14.08.2020 06:04

    Ca’at Fa, seorang penyair dari Tangerang. Ia aktif di komunitas Dapoer Sastra Tjisaoek. Buku puisinya Sekeranjang Puisi Cinta dan Bulan Merah Saga.

    Penyair tangerang puisi kehidupan puisi lima baris
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleHari Raya, Angpau dan Literasi Finansial
    Next Article Buku Pasang Surut Idealisme

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 2026

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Kuliner Rumah Makan Kharitzma

    10 Juni 202612 Views

    Evokasi Horison Biru di Puisi Karya Hartojo Andangdjaya “Dari Seorang Guru Kepada Murid-Muridnya”

    9 Juni 202630 Views

    Gunung Ciwaru Majalengka, Destinasi Wisata Alam yang Semakin Populer di Jawa Barat

    9 Juni 202617 Views

    Keheningan sebagai Suara Kemanusiaan dalam Biola Tak Berdawai

    8 Juni 20268 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (92)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (82)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (173)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.