Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Rumah Tanpa Televisi
    Puisi

    Rumah Tanpa Televisi

    7 September 2020Updated:7 September 2020Tidak ada komentar3 Mins Read33 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Kata para ahli sastra: Puisi seringkali mempunyai dunianya sendiri. Pernyataan seperti itulah yang berpotensi dialami oleh puisi-puisinya Penyair Ardhi Ridwansyah. Kali ini sang penyair berhasil menyampaikan pikiran dan perasaannya dalam susunan komunikasi yang penuh simbul simbul metafora kehidupan sehari hari.
    Meski demikian untuk bisa menelusuri lorong lorong makna yang tersembunyi di balik kata kata, sungguh diperlukan pikiran gamblang dan perasaan yang lapang. Tidak mudah memang, sebab ibarat teknologi informasi, puisi puisi ini penuh dengan bahasa koding yang kadang tampak saling menegasikan, sehingga penuh jebakan bagi penelusur yang tidak cukup bekal waktu maupun kompetensi dalam hal membuka makna dan rasa di dalamnya.
    Entahlah bagaimana Sang Penyair bisa begitu rapi menyimpan rahasia di balik kata. Meskipun kata kata itu tak perlu gaya bahasa yang rumit dalam penyampaian. Ada banyak rahasia di balik setiap kata. Temukan rahasianya. Selamat menelusuri kata demi kata, bait ke bait, Puisi pun tetap setia melayani pembaca.(redaksi).

    [iklan]

    Rumah Tanpa Televisi

    Keriuhan itu menyalak,
    Dari televisi tetangga yang menyangga,
    Seisi rumah dengan lelucon remah-remah nestapa,
    Dari tepung yang diguyur ke kepala tandus.

    Tawa serdawa berkembang biak,
    Menanak depresi yang kian merepresi,
    Secuil emosi lahir dari rahim situasi,
    Dari narasi dengan judul basa-basi.

    Rumah ini tanpa televisi,
    Namun ramai menyoraki,
    Terang benderang senyum,
    Gegap gempita sambut gemuruh,

    Luka lama yang disembunyikan,
    Di kamar lah sang hati meringkuk.
    Bukan televisi sarat manipulasi,
    Ia hadir dengan tuntunan intuisi.

    Jakarta, 21 Juni 2020.

    Jemala Jeladri

    Kupandang jemalamu,
    Adalah sebuah jeladri nan biru,
    Renang tiap harap bersama ikan-ikan,
    Bergoyang kesiur angin dengan ombak
    Menari seksi di antara siulan para pelikan.

    Seekor ubur-ubur menyengat angan,
    Yang duduk tepekur menunggu langit
    Tawarkan hujan agar ia tak kering.
    Tetap basah dan terus bergairah.

    Kala angin cemberut, lalu hantam
    Batu karang dibantu air yang geram,
    Berlari dan menggulung pasir pantai,

    Pohon kelapa adalah korban, ia tumbang.
    Menyerah, terkapar, dan mati.

    Kupandang jemalamu,
    Adalah jeladri yang kini keruh,
    Sebab laut mulai mengeluh,
    Ia butuh tempat mengaduh.

    Jakarta, 24 Juni 2020.

    Cerca Mentari

    Katanya bulan menangis,
    Selepas mentari cerca,
    Ihwal absennya ia kemarin malam.

    Katanya, mentari senang,
    Selepas bulan menangis,

    Sebab mentari ingin sekali,
    Terbit di malam hari,
    Gantikan bulan yang meringis.

    Kala ia bisa pandang wajahmu lelap,
    Berbinar indah bak sinar rembulan.

    Jakarta, 24 Juni 2020.

    Kerikil Bercerita

    Kerikil rel kereta,
    Menata cerita,
    Soal anak-anak yang hidup,
    Di pinggiran kota.

    Riuh kereta datang,
    Serta jerit klakson,
    Ramaikan rumah-rumah doyong
    beratap seng gersang.

    Pun anak sekolah genggam ia,
    Guna timpuk kening temannya,
    Selepas siang datang menyergap,
    Raga berbau perengus.

    Kereta tiba, dan mencium salah satu,
    Dari mereka yang lari dikejar maut,
    Namun akhirnya disambut maut,

    Kereta menciumnya, dan langit mendung,
    Ada di atas kepala rekannya yang sendu.

    Jakarta, 24 Juni 2020

    Ardhi Ridwansyah lahir di Jakarta 4 Juli 1998, Ia mahasiswa jurusan Komunikasi UPN Jakarta. Dia suka sekali mendengarkan musik, menulis, dan membaca. Tulisan esainya dimuat di islami.co. terminalmojok.co, tatkala.co, nyimpang.com, nusantaranews.co, dan kurungbuka.com. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Penulis buku puisi Lelaki yang Bersetubuh dengan Malam.

    puisi kehidupan puisi populer sastra populer
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleKetika Anugerah Dibayar Darah
    Next Article Si Bujang Kirai

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202611 Views

    Wisata Waterpark Tiga Bintang Firdaus Indramayu

    24 April 20266 Views

    Wisata Modern Pantai Kesambi

    24 April 20267 Views

    Pesona Kolam Renang Cikomboy

    24 April 202612 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (160)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.