Puisi

Rumah Tanpa Televisi

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Kata para ahli sastra: Puisi seringkali mempunyai dunianya sendiri. Pernyataan seperti itulah yang berpotensi dialami oleh puisi-puisinya Penyair Ardhi Ridwansyah. Kali ini sang penyair berhasil menyampaikan pikiran dan perasaannya dalam susunan komunikasi yang penuh simbul simbul metafora kehidupan sehari hari.
Meski demikian untuk bisa menelusuri lorong lorong makna yang tersembunyi di balik kata kata, sungguh diperlukan pikiran gamblang dan perasaan yang lapang. Tidak mudah memang, sebab ibarat teknologi informasi, puisi puisi ini penuh dengan bahasa koding yang kadang tampak saling menegasikan, sehingga penuh jebakan bagi penelusur yang tidak cukup bekal waktu maupun kompetensi dalam hal membuka makna dan rasa di dalamnya.
Entahlah bagaimana Sang Penyair bisa begitu rapi menyimpan rahasia di balik kata. Meskipun kata kata itu tak perlu gaya bahasa yang rumit dalam penyampaian. Ada banyak rahasia di balik setiap kata. Temukan rahasianya. Selamat menelusuri kata demi kata, bait ke bait, Puisi pun tetap setia melayani pembaca.(redaksi).


Rumah Tanpa Televisi

Keriuhan itu menyalak,
Dari televisi tetangga yang menyangga,
Seisi rumah dengan lelucon remah-remah nestapa,
Dari tepung yang diguyur ke kepala tandus.

Tawa serdawa berkembang biak,
Menanak depresi yang kian merepresi,
Secuil emosi lahir dari rahim situasi,
Dari narasi dengan judul basa-basi.

Rumah ini tanpa televisi,
Namun ramai menyoraki,
Terang benderang senyum,
Gegap gempita sambut gemuruh,

Luka lama yang disembunyikan,
Di kamar lah sang hati meringkuk.
Bukan televisi sarat manipulasi,
Ia hadir dengan tuntunan intuisi.

Jakarta, 21 Juni 2020.

Jemala Jeladri

Kupandang jemalamu,
Adalah sebuah jeladri nan biru,
Renang tiap harap bersama ikan-ikan,
Bergoyang kesiur angin dengan ombak
Menari seksi di antara siulan para pelikan.

Seekor ubur-ubur menyengat angan,
Yang duduk tepekur menunggu langit
Tawarkan hujan agar ia tak kering.
Tetap basah dan terus bergairah.

Kala angin cemberut, lalu hantam
Batu karang dibantu air yang geram,
Berlari dan menggulung pasir pantai,

Pohon kelapa adalah korban, ia tumbang.
Menyerah, terkapar, dan mati.

Kupandang jemalamu,
Adalah jeladri yang kini keruh,
Sebab laut mulai mengeluh,
Ia butuh tempat mengaduh.

Jakarta, 24 Juni 2020.

Cerca Mentari

Katanya bulan menangis,
Selepas mentari cerca,
Ihwal absennya ia kemarin malam.

Katanya, mentari senang,
Selepas bulan menangis,

Sebab mentari ingin sekali,
Terbit di malam hari,
Gantikan bulan yang meringis.

Kala ia bisa pandang wajahmu lelap,
Berbinar indah bak sinar rembulan.

Jakarta, 24 Juni 2020.

Kerikil Bercerita

Kerikil rel kereta,
Menata cerita,
Soal anak-anak yang hidup,
Di pinggiran kota.

Riuh kereta datang,
Serta jerit klakson,
Ramaikan rumah-rumah doyong
beratap seng gersang.

Pun anak sekolah genggam ia,
Guna timpuk kening temannya,
Selepas siang datang menyergap,
Raga berbau perengus.

Kereta tiba, dan mencium salah satu,
Dari mereka yang lari dikejar maut,
Namun akhirnya disambut maut,

Kereta menciumnya, dan langit mendung,
Ada di atas kepala rekannya yang sendu.

Jakarta, 24 Juni 2020

Ardhi Ridwansyah lahir di Jakarta 4 Juli 1998, Ia mahasiswa jurusan Komunikasi UPN Jakarta. Dia suka sekali mendengarkan musik, menulis, dan membaca. Tulisan esainya dimuat di islami.co. terminalmojok.co, tatkala.co, nyimpang.com, nusantaranews.co, dan kurungbuka.com. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Penulis buku puisi Lelaki yang Bersetubuh dengan Malam.

Leave a Comment