Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Puisi Ketika Masjid Sepi
    Puisi

    Puisi Ketika Masjid Sepi

    10 Mei 2020Tidak ada komentar3 Mins Read1,580 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Bisa dikatakan menciptakan puisi sama dengan mengasah kepekaan diri. Puisi dapat menjadikan seseorang mengenal kultur sosial di lingkungan, termasuk perubahan-perubahan yang terjadi. Begitulah Ca’at Fa, dia sadar betul ada sesuatu yang berubah, yang tidak biasa membuat hatinya tersentuh. Sisi religius dalam puisi-puisinya pun mewakili keadaan yang terjadi di seluruh dunia, disaat pandemi corona mewabah. Ca’at Fa mengajak kita semua untuk peka dan kembali kepada kemanusiaan untuk mencapai ketuhanan. (Redaksi)

    [iklan]

    Sepi

    ketika masjid
    sengaja tak dikunjungi
    sepi terasa di hati
    orang-orang merunduk
    menatapi ujung sajadah
    tanpa berkata-kata
    hanya dadanya yang bergelora
    yang ingin menumpahkan airmata
    airmata kesedihan yang dalam
    oh Alloh ampuni kami

    sf 24.04.2020 20:20

    Malam Pertama

    ketika hati menangis
    menyaksikan masjid-masjid sepi
    tak ada jamaah yang datang
    di malam pertama romadhon
    biasanya penuh orang tua
    anak-anak, remaja, ibu-ibu
    sandal berserak di pintu masjid

    malam ini tak ada yang datang
    untuk melaksanakan sholat tarawih
    malam ini begitu sepi
    pengeras suara di masjid-masjid
    tak ada yang mengumandangkan doa-doa
    tak terdengar doa kamilin
    masjid bagai ditinggal jamaahnya

    dan hati menangis
    sambil terus mengangkat tangan
    bermohon agar semua segera berlalu
    dan menghapus wabah yang melanda
    aamiin ya Alloh

    sf 23.04.2020 22:08

    Hamba

    apalah aku ini di hadapanNya
    sungguh tak ada apa-apanya
    semua milikNya
    ya… semua…
    jiwa dan ragaku
    bumi dan langit serta seisinya
    aku hanya boleh bergantung padaNya

    dan aku hanya sebutir pasir
    di bibir pantai
    yang kan tergulung ombak
    tanpa bisa apa-apa
    aku hanya sebutir pasir
    di padang yang amat luas
    yang kan terlempar
    ketika dihempas angin
    tanpa bisa apa-apa

    aku hanyalah hamba
    yang patut mengangkat tangan
    memohon doa
    dan bermunajat hanya kepadaNya

    ya Alloh ya Robbi…
    ampuni aku… ampuni kami…
    ampuni…

    sf 18.03.2020 05:41

    Hanya Pada-Mu

    semua beringsut
    hati diliputi rasa takut
    membuat gemetar memagut

    wabah meraja
    semua berwaspada
    menutup pintu dan jendela

    panjatkan segala doa
    mengangkat tangan tundukan kepala
    berserah diri pada yang Kuasa

    sf 28.03.2020 20:55

    MU

    siapapun
    apapun
    di manapun
    ke manapun
    berapapun
    bagaimanapun

    hanya Engkau-lah
    penguasa

    sf 02.04.2020 22:11

    Ca’at Fa. Nama pena dari Saad Fauzi. Pria kelahiran Jakarta, 29 Mei 1958 ini. Puisi-puisiya menyebar di beberapa buku Antologi Puisi bersama, al: Gerhana,  Kutulis Namamu Di Batu, Bebas Melata Menenun Kasih. Karya puisinya pernah juga dimuat di koran Sinar Harapan. Sekeranjang Puisi Rasa Cinta (2017) dan Gelora Merah Saga (2018) adalah 2 buku Antologi Puisi tunggalnya. Selain nulis puisi, ia juga senang nonton teater, nonton orang-orang baca puisi, dan tak lupa ikutan nimbrung di Dapoer Sastra Tjisaoek, Tangerang, Banten. Sampai saat ini, Ca’at Fa masih sibuk sebagai Pensiunan Pegawai Negeri Sipil di Kementan RI.

    Positif corona puisi islami Puisi lockdown Sastra islam
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleAbunawas Dokter Cinta
    Next Article Datang Sebelum Pergi

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Kolam Renang “Bukit Lumpang” Menjadi Destinasi Warga Lokal

    27 April 20269 Views

    Situs Ziarah KH. Abdul Hanan Babakan Ciwaringin Cirebon

    27 April 20266 Views

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202612 Views

    Wisata Waterpark Tiga Bintang Firdaus Indramayu

    24 April 20267 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (162)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.