Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Tradisi » Tari Bambu Gila
    Tradisi

    Tari Bambu Gila

    30 Maret 2020Tidak ada komentar3 Mins Read233 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Tari Bambu Gila

    Indonesia, negeri kita tercinta ini, adalah salah satu wilayah yang menjadi surga bagi jenis tanaman bambu. Diperkirakan ada lebih dari 100 jenis tanaman bambu, yang hampir separuhnya adalah spesies endemik Indonesia. Hanya ada di Indonesia. Hebat, kan? Ada Bambu Totol ada Bambu Petung, Bambu Tali, dan ada satu jenis bambu yang tak duanya di dunia ini. Namanya Bambu Gila. Sebatang bambu yang panjang sekitar 3 sampai 4 meter dengan diameter 10-20 Cm dan jumlah ruasnya ganjil. Kalau bambu sudah menggila dibutuhkan 5 sampai 7 orang untuk menjinakkannya.

    Bukan bambu sembarang bambu. Inilah dia si Bambu Gila, seni tarian tradisonal bernuansa mistis dari Ambon, Maluku yang hingga kini masih terjaga kelestariannya. Dikenal juga sebagai Buluh Gila atau Bara Suwen.

    [iklan]

    Pertunjukan tari tradisional Bambu Gila ini menampilkan sekumpulan pemuda yang sedang berusaha menahan gerakan liar dari sebatang bambu. Tradisi tari Bambu Gila ini sudah ada sejak Agama Islam dan Kristen belum masuk ke wilayah Maluku. Pada waktu itu masyarakat Maluku masih mengenal anismisme.  Kehidupan mereka masih akrab dengan ritual-ritual leluhur mereka yang berkaitan dengan roh gaib.

    Dahulu, tarian bambu gila ini merupakan sebuah ritual yang dilakukan pada kondisi-kondisi tertentu, seperti perang melawan musuh, memindahkan barang-barang berat, atau pekerjaan berat lainnya. Seiring perkembangan zaman, ritual tersebut perlahan memudar. Kini, tarian tradisional ini dikenal sebagai Atraksi Seni sebagai upaya untuk melestarikan budaya warisan leluhur.

    Kesenian Tari Bambu Gila ini biasanya dimainkan oleh 7 orang sebagai pemain dan 1 orang bertindak sebagai pawing (dukun). 7 orang pemain, nantinya akan bertugas menahan laju atau pergerakan batang bambu yang akan bergerak setelah pawang membacakan mantra untuk memasukkan roh ke dalam bambu.  Sedangkan tugas seorang pawang adalah membacakan mantra, memasukkan roh, dan menjinakkan bambu.

    Pertunjukkan tari Bambu Gila ini dimulai dengan pembakaran dupa atau kemenyan dan pembacaan mantra oleh Pawang. Para pemain siap-siap sembari memeluk/memegang batang bambu. Oleh pawang, asap dupa dihembuskan pada batang bambu untuk memanggil/mengundang kedatangan roh gaib. Lama kelamaan batang bambu dirasakan semakin berat oleh penari/pemegang bambu, dan bergerak sendiri. Ketika kemudian Pawang meneriakan kata kata: “Gila, gila, gilaaa…,” atraksi segera dimulai.

    Atraksi Tari Bambu Gila ini biasanya diiringi tetabuhan musik perkusi. Semakin cepat irama musik pengiring, semakin cepat pula pergerakan batang bambu. Para pemain harus berjuang sekuat tenaga untuk menahan pergerakan batang bambu yang dikendalikan melalui asap kemenyan oleh pawang.

    Kostum yang dikenakan oleh para pemain, biasanya menggunakan pakaian adat berupa celana dan ikat kepala berwarna merah, tanpa baju atau kaos. Seluruh pemain haruslah pemuda yang kuat, tangguh, dan berotot.

    Gerakan bambu yang semakin menggila dan semakin kuat membuat para pemain semakin kewalahan. Beberapa di antaranya bahkan sampai terjatuh dan terseret bambu yang menggila. Ketika salah satu pemain terjatuh dan pingsan, hal ini menandakan bahwa tarian harus segera diakhiri. Pawang akan segera membalikkan tempurung yang digunakan untuk membakar dupa/kemenyan.

    Walaupun ritual telah dihentikan dan permainan telah berakhir, belum tentu kekuatan mistis di dalam batang bambu hilang sepenuhnya. Kekuatan mistis tersebut akan hilang sepenuhnya ketika Pawang membacakan mantra sambil membakar kertas. (AY)

    Referensi:
    https://www.adira.co.id/
    https://id.wikipedia.org/
    https://www.indonesiakaya.com/

    tari tradisi tarian mistis tradisional tarian penuh mistis
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleRuang-Ruang Cinta
    Next Article Corona Meluas, Beberapa Wilayah Berlakukan Karantina Lokal

    Postingan Terkait

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 2026

    Tradisi Potong Jari, Papua

    17 Mei 2024

    Tradisi dan Riwayat Ketupat

    25 April 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 202612 Views

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 20265 Views

    Menikmati Panjat Tebing Puisi Penyair Darmanto Jatman “Memandang Padang Alang-Alang Pada Suatu Malam”

    9 Mei 202641 Views

    Wisata Dataran Tinggi Dieng Kembali Ramai Dikunjungi Wisatawan

    5 Mei 20267 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (80)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (166)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.