Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Ruang-Ruang Cinta
    Puisi

    Ruang-Ruang Cinta

    29 Maret 2020Tidak ada komentar4 Mins Read48 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Membaca Puisi-puisi Rd Nanoe Anka, kita dibawa ke suasana yang sejuk dalam menghayati manusia, alam dan lingkungan, dan dalam mengagungkan kebesaran Allah. Tak hanya melukiskan masalah moral dan sosial yang dihayati dari hidup dan kehidupan, namun dalam batas-batas kearifan dari seorang yang rendah hati, kita dibawa ke suasana hati yang sejuk. Mari kita nikmati puisi-puisinya berikut ini. (Redaksi)

    [iklan]

    RUANG RUANG CINTA (1)

    SATU
    Sesaat dalam jelaga ku reguk kopi malam
    Di café itu semua redam dalam kenangan
    Hanya sosok sosok yang pernah ku kenal
    lewat tanpa kata kata dan mata yang lelah
    beku terkulum dalam senyuman di mulutnya
    Singgah sejenak dalam rekaman tak kunjung usai
    inilah hidup tiada akhir dan kalimat tiada titik
    Hanyalah perjalanan panjang terhampar di depan
    tak perlu tahu kapan bisa masuk ke ruang-ruang cinta-Mu

    DUA
    Di lubuk terdalam pada ceruk sanubari
    ada rindu bertalu membawa dahaga
    lengkapi sejarah di setiap langkah
    berurut terurai benang merah ruang-ruang cinta
    Di kakimu ya Rabb pasrah itu kuserahkan
    hanya doa terbilang laksa ku hadirkan di hadapan-Mu
    manakala pencarian tak putus-putus merayapi hidup

    TIGA
    Rindu yang tertata dalam lembaran nafas
    memburu waktu hingga matahari terbenam
    Namun belum tampak peluk tererat menyentuh batin
    Di mana lagi kucari keikhlasan itu?
    Sementara peluh terus mengalir dan langkah belum lengkap
    kemana lagi ku kejar baying-bayang itu
    Ya Rabb tuntun aku tuk jumpai ruang-ruang cinta-Mu

    November 2014.

    RUANG RUANG CINTA (2)

    Ada gundah dalam hati, cinta membahana,
    cemburu dan seteru, gairah tak berujung.
    Ada semangat bangkit siap berlari,
    harapan menggapai, nilai dalam hidup
    yang tak habis angka-angkany.a
    Ada Allah yang Agung, kepastian tak tergoyahkan
    tanpa ada yang bisa menolak-Nya.
    Jiwa dalam raga mencipta ruang-ruang cinta, ada
    dimana-mana, Milik-Nya semata.

    Jakarta, 2014

    RUANG RUANG CINTA (3)

    I
    Menoleh jejak masa lalu, saat hujan berderap di bumi
    Basah sekujur tubuh, berdua kita berjalan sepayung
    Lalu mendendangkan cinta dalam hati
    Pada seloka kita ikrarkan hidup bersama menempuh tantangan
    Sedang masa depan yang kita harap belum terjangkau
    Namun kau tinggalkan aku tuk menghadap-NYA lebih cepat
    Begitulah episode yang pertama di perjalanan hidupku

    II
    Memandang masa depan menerawang keakanan
    Jejak kita adalah obsesi cahaya memancar di cakrawala
    Berdua melangkah menuju altar ikrarkan jalinan kasih
    Saat hujan membasuh kuyup di tubuh, sepayung jua kita
    berjalan
    Kau iya kan janji pelaminan dank u sunting kau di gemerlap
    cuaca
    Maka kita jadilah meski untuk yang kedua
    Di hatimu bijak nan ikhlas terpahat indah
    Ikatan saying dan cinta erat tertambat pada kisi kisi sanubari
    Begitulah episode yang kedua di kehidupanku.

    **
    Di ujung senja, 2015

    RUANG RUANG CINTA (4)

    Di kaki siang langkah mulai perlahan
    Panas matahari mengucurkan keringat
    Dalam perjalanan hari yang merindukan senja
    Hasrat bertemu semakin kuat
    Namun matahari masih membalut dengan terik
    Di saat angin mulai menebar bau basah
    Di ujung senja kulihat barisan awan telah berjajar
    Mereka membuat barikade menyambut sang malam
    Dan warna senja pun mulai kelabu
    Dan air pun mulai menetes perlahan
    Dan waktu pun mulai tak perduli
    di malam basah ini
    ku siapkan ruang cinta yang masih penuh tanda tanya
    Bersama ranjang yang masih rapih tertata

    2016

    RUANG RUANG CINTA (5)
    :Lisnawati

    Senja dalam keramaian dan kemacetan
    Meruaskan gelombang jiwa dan resonansi kegelisahan
    Warna kelabu pada awan merebak hingga ke sudut cakrawala
    Merata menebal dalam pancaroba cuaca
    Semoga tak berdampak pada hati
    Tak menajam pada rasa
    Hingga tak sampai membuat guratan
    Setipis apapun itu
    Namun pedihnya hingga ke ujung kepala
    Lembayung menopang angkasa
    Merambat naik ke atasmemberi warna kelam
    Namun angin memindahkan mendung ke sisi utara
    Dan langit sedikit terkuak
    terlihat taburan bintang berkerlip
    Menebar pesona ke segala arah
    Dan malam menitipkan salam lewat nyanyian air hujan
    Ku tangkap merdunya ku tangkap maknanya
    Ruang ruang cinta perlahan terbuka pintunya
    Dalam kesabaran dan keteguhan
    Menemukan hati yang kokoh
    Dalam keikhlasan dan kepasrahan
    Menemukan cinta hakiki
    yang tak pernah goyah

    **

    2016

    Rd. Nanoe Anka, lahir di Yogyakarta Feb 1959. Adalah pekerja seni, aktivis seni sastra, teater dan fotografer.  Pensiunan PNS ini juga aktif di Komunitas Seni Bulungan dan Sanggar Seni Rupa GARAJAS, Jakarta Selatan. Pernah menjadi Pelatih dan Sutradara seni Teater di beberapa SMA di Jakarta. Mulai belajar menulis sejak di bangku SMP hingga tahun 1993, kemudian fakum sejenak dan beralih ke Fotografi. Pernah menjadi Juri pada lomba-lomba baca puisi tingkat Wilayah sampai tingkat Provinsi DKI (1987-sekarang) dan Tingkat Nasional (1996, 2001, 2004 dan 2007).  Juara Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional (1978 dan 1980) dan tingkat Provinsi DKI Jakarta (1981-1982). Juara Baca Prosa (1983.

    komunitas bulungan komunitas garajas komunitas sastra bulungan komunitas seni bulungan
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleGandrung Marisi
    Next Article Tari Bambu Gila

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 202610 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202676 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202639 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202615 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.