Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Tradisi » Kuda Lumping Makan Beling
    Tradisi

    Kuda Lumping Makan Beling

    2 Desember 2019Updated:2 Desember 2019Tidak ada komentar4 Mins Read396 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Kuda Lumping Makan Beling

    bukan kuda sembarang kuda
    makannya beling minumnya kaca
    itulah kuda lumping namanya
    seni tradisi dari pulau jawa

    Kuda Lumping, Jaran Kepang atau Jathilan adalah tarian tradisional Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit naik kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu atau Kepang dalam bahasa Jawa. Karena itu disebut Kuda Kepang.

    [iklan]

    Tarian Kuda Lumping ini tidak hanya menampilkan adegan prajurit naik kuda saja, akan tetapi dalam penampilannya tari Kuda Lumping ini ditambahi suguhan atraksi-atraksi menarik lainnya yang memperlihatkan kekuatan magis pemainnya, seperti adegan makan beling, jalan di atas pecahan kaca, makan gabah, dan adegan magis lainnya yang pada umumnya diakukan oleh pemain dalam keadaan trance (kesurupan).

    Meskipun tarian Kuda Lumping ini berasal dari Jawa, tarian ini juga diperkenalkan oleh orang Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan di beberapa daerah di luar Indonesia, bahkan sampai ke Malaysia, Suriname, Hongkong, dan Jepang.

    Sampai saat ini belum ada catatan sejarah yang mampu menjelaskan asal mula tarian ini. Hanya riwayat verbal saja, dari mulu ke mulut yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ada yang mengatakan kalau Tari Kuda Lumping itu menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah yang dibantu oleh Sunan Kalijaga. Ada juga yang mengatakan bahwa tari Kuda Lumping ini menceritakan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin oleh Raja Mataram untuk menghadapi pasukan tentara Belanda. Juga ada yang mengatakan kalau Tari Kuda Lumping ini ada hubungannya dengan tari Reog Ponorogo, dan Jaran Kepang dari Kediri dalam cerita Songgolangit. Versi yang lain lagi mengatakan bahwa tari Kuda Lumping ini menggambarkan kisah seorang pasukan pemuda cantik bergelar Jathil penunggang kuda putih berambut emas, berekor emas, serta memiliki sayap emas yang membantu pertempuran kerajaan Bantarangin melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan Lodaya pada serial Legenda Reog abad ke 8.

    Sampai saat ini ada beberapa jenis Tari Kuda Lumping yang berkembang di beberapa daerah di Jawa, antara lain:

    Jaranan Thek dari Ponorogo
    Jaranan Kediri dari Kediri
    Jaranan Sentherewe dari Tulungagung
    Jaranan Turonggo Yakso dari Trenggalek
    Jaranan Buto dari Banyuwangi
    Jaranan Dor dari Jombang
    Jaran Sang Hyang dari Bali
    Jathilan Dipenogoro dari Yogya dan Jawa Tengah

    Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, terlepas dari riwayat yang menceritakan begini dan begitu, pertunjukan KudaLumping ini kalau kita amati adalah merupakan tari yang menggambarkan semangat kepahlawanan sebuah pasukan berkuda. Ada pun atraksi-atraksi yang memperlihatkan kekuatan magis seperti makan beling, berjalan di atas pecahan kaca, menyayat kulit dengan golok, membakar diri, dan lain sebagainya, adalah refleksi dari kekuatan supra natural yang pada jaman dahulu yang tumbuh dan berkembang di lingkungan kerajaan Jawa dan dipergunakan utntuk melawan penjajah Belanda.

    Di Jawa Timur, seni tari Kuda Lumping ini cukup akrab dengan masyarakat. Tari Kuda Lumping biasanya ditampilkan pada hajat tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, dan sebagai ucapan syukur, atas hajat yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

    Dalam setiap pagelarannya, seni tari Kuda Lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yang terdiri penampilan tari Buto Lawas 2 kali, tari Senterewe, dan tari Begon Putri. Pada fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari.

    Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kerasukan roh halus, dan uniknya,  para penonton juga tidak luput dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya.

    Untuk menjaga ketertiban pagelaran, biasanya dalam setiap pagelaran Kuda Lumping ini selalu diawasi oleh para warok. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan supranatural untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan roh halus (trance). Para Warok itu mudah dikenali kehadirannya. Ciri-cirinya adalah pakaian serba hitam bergaris merah dan berkumis tebal.

    Setelah fragmen tari Buto Lawas selesai, pertunjukan dilanjutkan dengan fragmen selanjutnya, yaitu penari pria dan wanita bergabung menampilkan Tari Senterewe. Selanjutnya pada fragmen terakhir, pagelaran ditutup dengan sajian Tari Begon Putri. Tari dengan gerakan-gerakan santai dari 6 orang putri atau lebih. (AY)

    Jaranan Kuda lumping seni tradisi jawa
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleKebun Organik di Halaman Rumah
    Next Article Jualan Buku Online

    Postingan Terkait

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 2026

    Tradisi Potong Jari, Papua

    17 Mei 2024

    Tradisi dan Riwayat Ketupat

    25 April 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menakar Aroma Surealisme Puisi Penyair D. Zawawi Imron “Sungai Kecil”

    19 Mei 20262 Views

    Revolusi Kue Modern di Era Digital: dari Dapur Rumahan Menjadi Industri Kreatif Bernilai Jutaan

    18 Mei 202611 Views

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 202628 Views

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 202611 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (81)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (167)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.