Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Tradisi » Sintren
    Tradisi

    Sintren

    29 Juli 2019Updated:15 November 2019Tidak ada komentar3 Mins Read117 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    SINTREN

    Turun turun sintren
    sintrene widadari
    temu kembang yun ayunan
    temu kembang yun ayunan

    ……

    Sintren, adalah tarian mistis khas Cirebon yang dalam pertunjukannya tak hanya dimainkan oleh  manusia tapi juga melibatkan roh halus. Seni tari tradisional Sintren ini konon kabarnya adalah kesenian tradisi masyarakat Jawa, khususunya di wilayah pesisir utara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Mulai dari pesisir Indramayu, Cirebon, Majalengka sampai ke pesisir Pekalongan.

    Tarian Sintren yang sakral dan bernuansa mistis ini tak bisa dimainkan oleh sembarang orang. Sintren harus dimainkan oleh seorang gadis yang masih suci (perawan). Dalam menari Sintren di dampingin oleh penari lain yang berperan sebagai dayang. Beberapa hari sebelum pertunjukan mereka harus berpuasa.

    Perlengkapan yang diperlukan dalam pertunjukan Sintren adalah seperangkat gamelan, sebuah kurungan ayam yang cukup besar, seperangkat pakaian tradisi, sesaji, tali, perlengkapan rias dan kemenyan atau wewangian lainnya.

     [iklan]

    Rangkaian pertunjukan tarian Sintren

    Pertunjukan Sintren diawali dengan ritual Dupan. Doa bersama agar terhindar dari marabahaya. Setelah do’a selesai, seorang pawang segera menyiapkan beberapa oran gadis sebagai penari. Satu orang penari Sintren dan empat pendampingnya (dayang). Pawang dalam pertunjukan Sintren ini biasanya lebih dari satu orang.

    Sebagai permulaan, calon penari sintren yang berpakaian biasa diikat tangannya . Mantra pun dibacakan dengan meletakkan kedua tangan calon penari Sintren di atas asap kemenyan yang dibakar. Penari yang sudah terikat tangannya itu lalu dimasukkan ke dalam sangkar ayam bersama dengan busana dan perlengkapan rias.

    Dengan diiringi tetabuhan gending, pawang lalu memutar mengelilingi kurungan ayam sembari membaca mantera, mengundang roh Dewi Lanjar agar segera datang bertandang. Jika pemanggilan roh Dewi Lanjar berhasil, kurungan ayam terlihat bergetar.

    Suara gending mengalun, kadang mendayu. Asap dupa melenggang lenggok menebarkan aroma mistis di sekitar arena seperti membujuk kehadiran roh Dewi Lanjar. Ketika kemudian kurungan ayam yang tertutup kain itu Nampak bergetar, para penonton mulai berdebar-debar membayangkan apa yang kira-kira akan terjadi.

    Begitu kurungan dibuka, keajaiban terjadi. Ikatan tali yang melilit tangan sang gadis sudah terlepas, dan dia sudah berdandan cantik, pakaiannya sudah ganti. Dengan gerakan yang  lemah gemulai bagaikan bidadari, Sintren pun menari, diringi para dayang-dayangnya. Musik yang ditabuh para nayaga tak hanya gending saja melainkan juga ditambah alat musik lain yang terbuat dari tembikar dan kipas bambu sehingga dapat menimbulkan irama musik yang khas.

    Ketika Sintren mulai menari bersama dayang-dayangnya, maka itu adalah pertanda kalau acara berikutnya bisa dimulai, yaitu Balangan atau Saweran. Penonton menyambit penari Sintren dengan uang. Anehnya, si penari Sintren begitu terkena balangan atau saweran dari penonton, dia akan jatuh lemas bahkan bisa jadi ia pingsan. Pawang segera menolongnya dengan membacakan mantra. Sintren bangun kembali, menari kembali. Kena balangan lagi, jatuh pingsan lagi, lemas lagi, ditolong lagi oleh pawing. Begitu terus berulang-ulang. Sampai akhirnya penari Sintren beserta para dayang-dayangnya melaakukan gerak tari penutup, yaitu Temohon. Para gadis penari mendatangi penonton meminta sumbangan. Penonton memberikan uang sumbangan sebagai ucapan terimakasih.

    Sejarah Sintren

    Konon kabarnya, kesenian Sintren berasal dari kisah cinta Raden Sulandono dan Nyi Sulasih yang tidak direstui oleh Ki Bahurekso,  Bupati Kendal, ayah dari Sulandono. Sedangkan Sulasih adalah seorang putri dari rakyat biasa di desa Kalisalak.

    Karena percintaannya tak direstui oleh ayahnya, Sulandono akhirnya pergi bertapa dan Sulasih menjadi seorang penari. Meskipun demikian pertemuan keduanya masih bisa berlangsung dengan bantuan dari sang ibu yang berjuluk Dewi Lanjar  dengan cara memasukkan roh bidadari ke dalam tubuh Sulasih,vdan pada saat itu pula sukma Dewi Lanjar memanggil Sulandono. Maka terjadilah pertemuan Sulasih dan Sulandono di alam ghaib. Sejak saat itulah setiap ada pertunjukan sintren, sang penari selalu dimasuki roh bidadari oleh pawangnya. Dengan syarat hal tersebut bisa dilakukan dilakukan apabila sang penari masih gadis yang perawan suci. (AY)

    seni jawa seni tradisi jawa tradisi jawa
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleKisah Sepasang Mata Indah dan Secangkir Kopi
    Next Article Pekan Raya Urban dan Konsumtif, Menuju Masyarakat Hedon

    Postingan Terkait

    Tradisi Potong Jari, Papua

    17 Mei 2024

    Tradisi dan Riwayat Ketupat

    25 April 2024

    Perayaan Cap Go Meh

    7 Maret 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisi dan Cerpen Terpilih mbludus.com Tahun 2026

    29 Maret 202685 Views

    Puisintaksis dan Manusia Algoritma: Ketika Peluncuran Buku Menjadi Peristiwa Ontologis

    21 Februari 202690 Views

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 202615 Views

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 202616 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (208)
    • Bisnis (7)
    • Buku (84)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.