Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Tradisi » Siganjang Laleng Lipa
    Tradisi

    Siganjang Laleng Lipa

    31 Agustus 2021Updated:1 September 2021Tidak ada komentar3 Mins Read341 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Namanya juga laki-laki. Demi harga diri dan kehormatan kalau perlu nyawa dipertaruhkan dalam sebuah pertarungan dalam sarung. Suku Bugis di Sulawesi Selatan punya tradisi unik yang juga bisa dibilang ekstrim, ngeri-ngeri asyik.  Tradisi ini bisa menelan korban, dikenal dengan sebutan Sigajang Laleng Lipa. Tradisi saling tikam menggunakan badik dalam satu sarung. Waw!

    Sesungguhnya, tradisi ini adalah tradisi adat Bugis-Makassar dalam menyelesaikan sebuah masalah. Dua perwakilan keluarga yang bertikai menyelesaikan masalah akan saling tikam dalam sebuah sarung. Cara ini adalah cara paling terakhir apabila musyawarah mufakat tak menemui titik terang.

    Baku tikam saja kok harus dalam sarung? Di arena terbuka kan lebih enak, lebih leluasa dan bebas untuk bergerak serta mudah memainkan jurus-jurus silat atau ilmu yang dimiliki oleh si pelaku . Ternyata, secara adat tradisi masyarakat Bugis-Makasar itu, Sarung dalam arena Sigajang Laleng Lipa memiliki arti sebagai simbol persatuan dan kebersamaan suku Bugis Makassar. Sarung yang mengikat bukanlah ikatan yang menjerat, melainkan sebuah ikatan kebersamaan antara sesama manusia.

    Pertarungan Sigajang Laleng Lipa biasanya dilakukan di Tempat Terbuka atau tempat tertentu yang kemudian dijadikan sebagai arena. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Bugis Makasar dikarenakan mereka berpegang pada pepatah lama yang berbunyi: ‘Ketika badik telah keluar dari sarungnya, pantang diselip di pinggang sebelum terhujam di tubuh lawan.’

    Dan apabila sudah menyangkut harga diri, mau tidak mau biasanya, tradisi Siganjang Laleng Lipa ini akan ditempuh oleh pihak yang berkonflik. Karena dalam budaya suku Bugis-Makassar terdapat dua hal yang digenggam erat, yaitu konsep Ade’ yang berarti adat istiadat yang harus dijunjung dan Siri Na Pacce/Passe adalah rasa malu atau harga diri yang perlu dijaga dan dipertahankan agar harkat dan martabat tetap terjaga.

    Siri punya makna paling kuat dalam budaya masyarakat Bugis-Makassar. Hal ini terlihat dari sebuah pepatah Bugis yang berbunyi, ‘Siri Paranreng Nyawa Palao’’, yang berarti harga diri yang rusak hanya bisa dibayar dengan nyawa lawannya. Bagi masyarakat Bugis-Makassar, manusia yang tidak punya siri atau rasa malu bukanlah siapa-siapa, tapi seekor binatang.

    Biasanya pertarungan Sigajang Laleng Lipa akan memberikan hasil yang imbang, antara kedua pihak meninggal atau kedua pihak sama-sama hidup. Setelah melakukan Sigajang Laleng Lipa, kedua pihak yang bertikai tidak boleh lagi memiliki rasa dendam, dan masalah yang menjadi bahan pertikaian dianggap sudah selesai.

    Sebenarnya, tradisi ini adalah tradisi adat Bugis-Makassar untuk menyelesaikan sebuah masalah. Dua perwakilan keluarga yang bertikai menyelesaikan masalah akan saling tikam dalam sebuah sarung. Cara ini adalah cara paling terakhir apabila musyawarah mufakat tak menemui titik terang.

    Tradisi Sigajang Laleng Lipa ini banyak terjadi pada masa lalu saat keluarga merasa harga dirinya terinjak. Akan tetapi, seiring dengan kemajuan pendidikan dan teknologi, tradisi ekstrim macam ini mulai ditinggalkan oleh masyarakat Bugis Makassar sendiri. Namun, tradisi Sigajang Laleng Lipa ini tetap menjadi warisan budaya leluhur Sulawesi Selatan. Bahkan, budaya ini masih dipentaskan di atas panggung sebagai hiburan semata tanpa harus menghilangkan nyawa.
    ****

    Dihimpun dari berbagai sumber oleh : NS dan AY

    Si ganjang lale lipa Tradisi bugis Tradisi makasar
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleSeribu Tahun Lagi
    Next Article Sajak di Skypiea

    Postingan Terkait

    Tradisi Potong Jari, Papua

    17 Mei 2024

    Tradisi dan Riwayat Ketupat

    25 April 2024

    Perayaan Cap Go Meh

    7 Maret 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202686 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202540 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202543 Views

    Perbandingan Film Animal Farm (1954) dan Animal Farm (1999): Kajian Adaptasi dan Alih Wahana

    18 Desember 202528 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.