Sinematografi

Siapa Sangka Bapaknya Si Doel Ternyata Bukan Orang Betawi

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Anak Betawi ketinggalan zaman
Katenyee
Anak Betawi nggak berbudaye
Katenyee

Aduh sialan, nih Si Doel anak Betawi asli
Kerjaannye sembahyang mengaji

Ya, siapa yang tidak tahu dengan lirik lagu di atas? Bagi kita generasi yang sempat menikmati atau melewati era 90-an, lirik lagu di atas tentu akan akrab di telinga kita, karena lagu itu pernah dengan riang menyapa kita setiap hari lewat layar kaca televisi, sebagai lagu pembuka sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta. Bahkan, jika kita adalah generasi milenial terkini, kita pun tentu masih dapat mengenalnya. Lagu yang dibawakan kelompok musik Armada sebagai original sound track Si Doel The Movie, sebuah film yang merupakan sekuel dari sinetron Si Doel Anak Sekolahan tersebut.


Si Doel Anak Sekolahan adalah sebuah sinetron yang mencoba mendobrak stigma yang selama ini dilekatkan pada anak Betawi sebagai anak yang ketinggalan zaman, anak yang nggak berbudaya. Lewat sosok si Doel yang berhasil menyelesaikan pendidikan tingkat tinggi sebagai seorang insinyur dan berhasil bekerja dengan menempati posisi yang cukup lumayan, film ini mencoba membuktikan bahwa anggapan itu keliru. Bahwa anak Betawi pun sama seperti anak-anak lainnya yang tidak ketinggalan zaman, anak yang berbudaya, anak yang tidak hanya rajin sembahyang dan mengaji, namun juga dapat bersekolah tinggi dan dapat bekerja kantoran bahkan dengan kedudukan yang tidak remeh.

Dan dalam perjalanan sejarah, kita pun memang mengenal orang-orang besar yang lahir dari Betawi. Sebut misalnya Husni Tamrin dan Ismail Marzuki. Atau yang terkini, komedian dan artis sekaligus budayawan Benyamin S atau yang akrab dipanggil Bang Ben, yang mendirikan pula Radio FM Bens Radio, sebuah radio dengan format radio etnik, yaitu radio yang menggali potensi budaya Betawi, agar audience dapat merasakan budayanya sendiri, berkesenian dengan tradisinya sendiri, bertutur dan berdialog dengan bahasanya sendiri. Bang Ben juga hadir dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan memerankan babehnye si Doel [1].

Diangkat dari Buku Cerita
Sinetron Si Doel Anak Sekolahan diilhami oleh serial cerita Si Doel Anak Betawi. Cerita, yang seperti dalam sinetronnya, menggunakan dialek Betawi. Cerita Si Doel Anak Betawi sebelumnya pernah juga diangkat ke layar lebar oleh sutradara Sjuman Djaya pada tahun 1972 dengan judul yang sama.

Namun, siapa sangka, jika cerita si Doel yang sangat Betawi tersebut, terlahir dari tangan seorang penulis yang sama sekali tidak mempunyai darah keturunan Betawi. Ya, Si Doel Anak Betawi ditulis oleh Aman Datuk Madjoindo (1896—1969), seorang penulis asal Padang, Sumatera Barat. Cerita ini ditulis Aman karena kecintaannya kepada dunia anak-anak dan untuk memperkenalkan dialek atau budaya Betawi kepada orang luar Betawi baik di Jakarta maupun luar Jakarta.

Aman memang dikenal sangat perhatian terhadap cerita anak-anak. Pengalamannya yang pernah menjadi seorang guru hampir selama satu dasawarsa, tentu banyak memberikannya wawasan. Selain serial cerita Si Doel Anak Betawi, Aman menulis cerita anak-anak lainnya antara lain Pak Djanggoet dan Boedjang Bingoeng, Srigoenting, Koentoem Melati serta Putri Rimba Larangan [2].

Tontonan yang Edukatif
Sebagai sebuah tontonan, Si Doel Anak Sekolahan memang sarat dengan pesan edukatif. Latar belakang maupun cerita yang ditampilkan yang diangkat dari kehidupan nyata sehari-hari yang tidak bombastis dan utopis, memang dapat lebih mengena dan mudah untuk dicerna oleh penonton. Dan, memang semestinya demikianlah adanya.

Sayang, tontonan yang seperti itu justru sangat jarang dan mewah untuk didapatkan saat ini. Kita mesti gigih mecari lewat kanal film luar negeri yang lebih mudah untuk mendapatkannya.

Dulu kita pernah mengenal juga sinetron serupa yaitu Keluarga Cemara yang dibintangi antara lain oleh Novia Kolopaking, yang kini lebih berkosentrasi membantu dakwah suaminya, Emha Ainun Nadjib bersama Kyai Kanjengnya. Tampil juga dalam sinetron Keluarga Cemara, Adi Kurdi, yang beberapa waktu yang lalu baru saja meninggal dunia. Belakangan, seperti juga Si Doel Anak Sekolahan, Keluarga Cemara juga diangkat ke layar lebar.

Mudah-mudahan, dari hikmah pandemi Covid-19 sekarang, dengan kesadaran untuk lebih menjaga keluarga dan anak-anak, para sineas kita akan lebih banyak lagi menghasilkan film-film edukatif yang ramah terhadap anak-anak. (DK)

Leave a Comment