Tradisi

Sepintas Tentang Mocopat

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Abah Yoyok

 

Mocopat, Macapat, Tembang Cilik atau Sekar Alit adalah sekar, kidung atau tembang tradisional klasik Jawa. Diperkirakan muncul pada akhir jaman Majapahit di mana Walisanga mulai menyebar pengaruh ajaran di telatah Jawa.

Dilihat dari asal-usul bahasanya, macapat berarti maca papat-papat, dibaca empat-empat. Yaitu tembang dilantunkan dengan cara dipenggal tiap 4 suku kata di setiap baris. Rangkaian nada tembang disebut Titi Laras dari nada gamelan Slendro atau Pelog. Bagian karya yang ditulis dalam bentuk sekar macapat tertentu disebut pupuh, setara dengan bab dalam buku.

Banyak kitab di zaman Mataram Baru, seperti Serat Wedhatama, Serat Wulangreh, Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Kalatidha, dan yang lainnya disusun disusun dalam format tembang  macapat. Pola penulisan syair mocopat atau Sekar Alit yang diatur berdasarkan Guru yang terdiri dari 3 Guru, yaitu:

  1. Guru Gatra : jumlah baris per bait.
  2. Guru Wilangan : jumlah suku kata per baris
  3. Guru Lagu : bunyi huruf hidup pada akhir suku kata di setiap baris.

Macapat, mocopat atau Sekar Alit tidak hanya ditemukan di daerah Jawa Tengah, tetapi juga hidup dan berkembang di Jawa Timur, Jawa Barat, Lombok, dan Bali. Di Jawa tengah ada 3 daerah berkembangnya tembang macapat dengan cengkok-nya masing-masing yaitu Surakarta, Banyumas, dan Semarang yang lazim disebut dengan Surakartan, Banyumasan, dan Semarangan.

Tembang macapat, tembang cilik atau Sekar Alit terdiri dari 11 jenis tembang, yaitu :

Mijil, Sinom, Kinanthi, Asmarandana, Dhandhanggula, Pangkur, Durma, Pocung, Gambuh, Megatruh, dan Maskumambang.

Masing-masing tembang selain mempunyai watak dan format penulisan yang berbeda, urutannya (berdasarkan nama tembangnya) adalah juga menggambarkan  perjalanan hidup manusia yang dikenal dengan istilah ‘Sangkan Paraning Dumadi.

MIJIL, berarti lahir. Awal kehidupan manusia. Atas kehendak Yang Maha Kuasa si Jabang Bayi lahir ke dunia setelah 9 bulan 10 hari lamanya berada dalam alam kandungan sang Bunda.

MASKUMBANG, adalah masa pertumbuhan jabang bayi yang menjadi buah hati dan harapan ayah bunda yang berbahagia.

KINANTI, adalah masa rawat dan jaga kedua orang tua pada dari jabang bayi si buah hati yang merah merekah menuju masa anak-anak yang ceria.

SINOM, akronim dari Isih Enom. Masih muda. Adalah masa remaja dari si bocah yang seringkali membuat orang tua gelisah karena seringkali salah dalam menentukan langkah.

DHANDANGGULA, adalah masa remaja yang berkembang menjadi dewasa. Masa yang penuh dengan rasa ingin tahu, ingin mencoba apa yang belum pernah dirasa. Rasa ingin tahu yang menggebu, imaginasi yang menggoda bisa jadi membuat mereka tak perduli pada norma agama, budaya, dan nasehat orang tua.

ASMARANDANA, Asmara Dahana, atau Api Asmara, adalah masa-masa dimana api asmara membakar dalam dada. Hidup menjadi semakin hidup lantaran getar asmara yang senantiasa membakar semangat hidup setiap insan. Bahaya bila sampai terlena.

GAMBUH, akronim dari Gampang Nambuh. Adalah masa-masa di mana manusia bersikap acuh pada sesama, mudah menjadi angkuh lantaran merasa sudah menjadi manusia yang ampuh. Sulit mawas diri dan senantiasa merasa diri terlalu tinggi.

DURMA, akronim dari Munduring tata karma. Terbelakangnya tata karma, hilangnya sopan santun dan saling hormat pada sesama.

PANGKUR. Ketika usia memasuki masa senja manusia menoleh ke belakang (mungkur), melihat masa lalu. Ada penyesalan, namun terlambat mengoreksi diri. Tinggalah kini hanya bisa menyesali diri di usia yang sudah renta dan bau tanah.

MEGATRUH.  Megat Ruh, artinya putus nyawa dari raga. Lepasnya jawa dari raga, dan waktunya bisa saja datang tiba-tiba tanpa kompromi. Pada saat ini, penyesalan sudah tak guna lagi.

POCUNG. Pocung atau Pocong adalah orang mati yang dibungkus kain kafan. Inilah batas kehidupan dunia yang amburadul dengan kehidupan sejati yang abadi.

Leave a Comment