Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Cerbung » Selendang Pelangi : Bagian 2
    Cerbung

    Selendang Pelangi : Bagian 2

    29 Juli 20211 Komentar5 Mins Read63 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Orin terus berlari ia kehabisan tempat untuk menghindar, akhirnya ia pun menghambur ke arah pantai, dengan kalap Betani terus mengejar. Rekan-rekan yang lain segera meletakkan piring mengikuti arah kejar mengejar itu.

    “Ayo kejar! Ayo kejar! Tangkap dia!”

    “Ha… ha… ha…!”

    Betani mendengar sorak-sorai itu, diam-diam ia mulai merasa lelah, napasnya memburu. Orin telah berubah menjadi bayang-bayang jauh di depan seakan menyatu dengan kabut air, tak mungkin ia dapat menangkap ‘anak bengal’ itu, ia pun terduduk lunglai di atas pasir, kakinya mulai dijilati lidah ombak. Tak lama kemudian Bahtiar, Tian, Santri, Vera, Robert, Gini, dan Elmo bergabung. Mereka telah bersiap mandi-mandi bersama ombak, Betani masih terduduk mengatur napas. Ia benar-benar merasa gemas.

    “Engkau tahu bagaimana rasanya tenggelam di lautan?” tiba-tiba Orin telah berada di dekatnya, dengan cekatan pemuda itu telah menggenggam pergelangan tangan Betani. Gadis itu benar tak berdaya ketika Orin telah menariknya di antara gulungan ombak. Tak berapa lama keduanya telah basah kuyup, sementara ombak bergelombang silih berganti.

    “Oriiiin….!! engkau kelewatan!” Betani menjerit-jerit, di pihak lain Orin terbahak-bahak.

    Suara  itu menyatu bersama angin laut dan gelak tawa dari teman-teman yang lain, Betani menyerah, ia kehabisan tenaga, ia menyesal telah mengejek Orin dan kini harus membayarnya dengan mahal. Apa boleh buat? Iapun telah terlanjur basah, ia segera menghambur-hamburkan air laut dengan kedua tangannya ke arah Orin. Pemuda itu tak mau kalah, ia pun membalasnya.

    “Tian bantu aku!” Betani menjerit meminta bantuan.

    Tian mengambil langkah, ia segera membantu Betani menyemburkan air ke arah Orin hingga pemuda itu menjadi kewalahan dikeroyok dua orang gadis. “Sudah, sudah…. beta menyerah….” Orin menjauh, ia merasa telah cukup “mempermainkan” Betani, sekarang adalah saat bersuka cita, berenang mengejar ombak.

    Tak lama kemudian Orin datang kembali menjelang Betani, “Sekarang kita damai…. damai….”

    Maka suasana pun kembali damai, air laut bergelombang menimbulkan rasa cemas sekaligus kegembiaraan, camar-camar terbang rendah, matahari bersembunyi di balik sekalian awan, angin segar seakan berhembus dari suatu tempat yang penuh ditaburi bunga-bunga. Sekelompok remaja itu asyik bermain dengan air, Orin tak pernah jauh dari Betani, ia tahu gadis itu tak pandai berenang. Pasti ia tak akan pernah membiarkan Betani tenggelam.

    Baik Orin maupun Betani tak menyadari, ada sepasang mata yang selalu mengawasi sikap keduanya dengan bermacam rasa berbaur menjadi satu, membersitkan sebuah kesadaran sekaligus menyakiti. Tian senang bergabung bersama rekan-rekan sekelas, ia pun menyayangi Betani, tetapi hati gadis itu tersayat ketika menyadari Orin mengistimewakan Betani lebih dari siapapun. Tian tahu, ia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Orin, mestinya ia merasa benci, tetapi aneh ia tak pernah merasa berat bergabung bersama mereka. Kebencian itu bahkan tak pernah singgah di hatinya, ia cukup merasa terhibur pernah mengenal orang seperti Orin dan Betani. Keduanya adalah jawara kelas yang memang layak dibanggakan dan bukankah perjalanan hidup ini masih sangat panjang?

    Entah berapa lama anak-anak remaja itu bersuka ria, berbasah-basah di dalam air sampai akhirnya mereka merasa lelah dan lapar. Dengan pakaian basah kuyup mereka berjalan beriringan menyusuri pasir putih, diselimuti angin laut, di atas sinar matahari masih terhalang gumpalan awan. Di kejauhan tampak gugusan pulau menghijau segar seakan untaian batu zamrud berserakan.

    Mereka menghabiskan hidangan yang tersisa sambil memetik jambu air sebagai hidangan penutup. Perlahan-lahan pakaian yang basah mulai mengering diterpa angin, Orin tak pernah berhenti mencuri pandang ke arah Betani. Gadis itu semakin diliputi daya tarik dalam keadaan basah, ia demikian bernapsu mengunyah jambu biji tanpa rikuh. Betani memiliki pesona alamiah. Betani bukan tidak tahu Orin selalu memberikan perhatian istimewa, ia menyadari, dan entah mengapa ia merasa gembira. Sekilas Betani dapat menangkap tatap kecemburuan dari sepasang mata Tian, tetapi ia tak berpikir jauh. Ia masih terlalu kanak-kanak untuk berpikir tentang cemburu.

    “O ya, minggu depan ada ibadah syukur rumah baru. Beta harap kedatangannya, yang beragama Nasrani bisa ikut beribadah, yang muslim datang saja,” Betani mengundang rekan-rekannya. Sudah menjadi rituil di tempat ini untuk mengadakan ibadah sekaligus mengundang handai tolan, meski mereka beragama lain. Ibadah syukur selalu ditutup dengan acara makan bersama yang melambangkan kebersamaan.

    “Baik, beta pasti datang,” Orin langsung menjawab, siapa yang akan melewatkan acara makan-makan di kediaman gadis pujaannya.

    “Beta juga yang lain menjawab.”

    Jawaban itu memciptakan lesung pada sepasang pipi Betani. Ia adalah seorang siswi baru pindahan dari Ternate, sebuah kota bertanah subur yang berada tepat di kaki gunung Gamalama. Ia terbiasa dimanja beraneka hasil alam serta laut yang biru dengan bukit-bukit karang menjulang. Ia tercabut dari tempat kelahirannya menuju kota yang lebih kecil di Pulau Halmahera, ia harus menumpang speed boat selama setengah jam kemudian melanjutkan perjalanan dari Sidang Oli dengan menggunakan kendaraan darat dalam tempo delapan jam, melewati dusun-dusun kecil, hamparan kebun kelapa serta rimbun belantara tempat Suku Tugutil tinggal. Fasilitas di kota ini sangat terbatas bila dibandingkan dengan Ternate, ia pasti akan tersedu-sedu  merindukan Ternate seandainya tidak memiliki sahabat yang menghiburnya sepanjang waktu. Kehadiran seorang sahabat pasti sebagai pertanda, ia telah diterima dan menerima pula kehadiran orang lain di dalam lingkungan pergaulan. Hal itu berarti bahwa ia telah menjadi bagian syah pada komunitasnya yang baru, dengan kehangatan sikap Orin di dalamnya.

    Mereka masih bercengkerama hingga senja hari, ketika tiba saat berpisah ada yang terasa berat di hati Orin. Ia ingin secepatnya datang esok pagi supaya dapat bertemu dengan Betani kembali di sekolah, melewatkan saat-saat yang mengesankan dan mendebarkan. Orin tak cukup cermat mensikapi Tian, ia memang tak perlu bersikap cermat dalam hal ini, terlalu banyak gadis yang tergila-gila, tetapi ia hanya mengingat Betani. Sementara Tian meninggalkan kediaman Orin dengan berbagai perasaan berkecamuk, sungguh tak nyaman menjadi tersisih dari harapan yang membumbung tinggi. Akan tetapi Tian berkeyakinan, ia memiliki cukup banyak waktu.

    cerita bersambung cerita dari ambon cerita sulawesi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleSayembara Buku Puisi HPI 2021, Total Hadiah 100 Juta
    Next Article Lomba Pemilihan Komunitas untuk Perayaan Hari Puisi Indonesia 2021

    Postingan Terkait

    Ban Ben Bun : Kisah Santri Uthun Meraih Impian (3)

    5 September 2022

    Ban Ben Bun : Kisah Santri Uthun Meraih Impian (2)

    19 Juni 2022

    Mbah Samin Ngoceh (6)

    2 Februari 2022

    1 Komentar

    1. Pingback: Selendang Pelangi : Bagian 1 - Mbludus.com

    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Kuliner Rumah Makan Kharitzma

    10 Juni 202616 Views

    Evokasi Horison Biru di Puisi Karya Hartojo Andangdjaya “Dari Seorang Guru Kepada Murid-Muridnya”

    9 Juni 202636 Views

    Gunung Ciwaru Majalengka, Destinasi Wisata Alam yang Semakin Populer di Jawa Barat

    9 Juni 202618 Views

    Keheningan sebagai Suara Kemanusiaan dalam Biola Tak Berdawai

    8 Juni 20268 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (92)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (82)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (173)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.