Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Tradisi » Ruwatan Buang Sial
    Tradisi

    Ruwatan Buang Sial

    12 Agustus 2019Updated:15 November 2019Tidak ada komentar6 Mins Read1,265 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    RUWATAN BUANG SIAL

    Dalam budaya masyarakat Jawa dikenal istilah Wong Sukerta, yang artinya orang yang menyandang nasib sial atau orang yang bisa mendatangkan sial bagi orang lain, keluarga atau lingkungkan. Karena itu orang yang tergolong Wong Sukerta ini harus diruwat untuk membersihkan aura negatip, kotoran jiwa, atau kekuatan jahat dalam dirinya. Jika tidak, mereka akan mengalami kesulitan hidup, kesialan, dan malapetaka. Menurut ceriteranya, orang yang nandang sukerta ini, diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala.

    Istilah ruwat berasal dari kata ngruwat yang artinya mengatasi suatu kesulitan bathin, ngudari ruwet renteng, dengan jalan mengadakan pertunjukan wayang kulit dengan cerita tertentu. Biasanya ruwat dilaksanakan pada anak yang sedang sakit, anak tunggal, terkena sial, susah jodoh, hidup susah, dll. Tradisi ruwat untuk membuang sial ini biasa juga disebut ruwatan sukerta  adalah sebuah ritual kuno untuk pembersihan diri yang sudah dikenal masyarakat Jawa sejak jaman pra Hindu, jauh sebelum masuknya agama samawi di Indonesia.

    Sukerta atau nasib sial ini menurut kepercayaan Jawa bisa dibawa sejak lahir atau bisa juga disebabkan oleh tingkah laku dan amal perbuatan seseorang. Adapun nasib sial (sukerta) yang dibawa sejak lahir itu biasanya ada pada orang-orang tertentu saja, misalnya:

    [iklan]

    -Ontang-anting atau anak tunggal, lelaki atau perempuan.
    –Pancuran kapit sendang, tiga anak, laki-laki di tengah.
    –Sendang kapit pancuran, tiga anak, perempuan di tengah.
    –Uger-uger lawang, dua anak laki-laki.
    –Kembang sepasang, dua anak perempuan
    –Serimpi, 4 anak perempuan semua
    –Mancala Putri, 5 anak perempuan semua
    –Kendhana kendhini, dua anak, laki-laki dan perempuan.
    –Pendhawa atau Mancala Putra, anak lima, laki-laki semua.
    –Saramba, 4 orang anak laki-laki semua
    –Pipilan, yaitu 5 orang anak terdiri dari 4 perempuan 1 lelaki
    –Padangan, yaitu 5 orang anak terdiri dari 4 lelaki 1 perempuan.

    Ada pula anak yang perlu diruwat terkait dengan kondisi saat ia dilahirkan ke dunia ini, yaitu:
    -Julung wangi, yaitu anak yang lahir saat matahari terbit
    -Julung pujud,  anak yang lahir saat matahari terbenam.
    -Julung sungsang, anak yang lahir saat tengah hari.
    –Tiba sampir, anak yang lahir berkalung usus
    –Lawang menga, anak yang lahir saat candikala, saat langit berwarna merah kekuningan.

    Dan banyak lagi orang yang dianggap menyandang nasib sial yang lainnya. Dalam Serat Centini disebutkan ada 19 jenis wong sukerta yang harus diruwat. Serat Manikmaya menyebutkan ada 60 jenis wong sukerta, dan Murwakala menyebutkan ada 147 jenis. Sedangkan menurut Pustaka Raja Purwa ada 136 jenis wong sukerta. Sementara menurut pustaka Pakem Pangruwatan Murwakala ada 60 orang yang tergolong wong sukerta.

    Nah lo. Koq bisa beda, ya?

    Ritual ruwatan untuk membersihkan kekuatan negatif yang ada dalam diri wong sukerta, sampai saat ini masih dilaksanakan oleh sebagian orang jawa. Dalam tradisi jawa, orang yang keberadaannya dianggap berada dalam dosa (nandang sukerta), maka harus diruwat agar tak dimakan Sang Batara Kala. Karena kuatnya pada keyakinan tersebut, maka tidak jarang setiap kali terjadi kesusahan atau bencana dalam rumah tangga seseorang, biasanya akan dihubung-hubungkan dengan kehadiran anaknya yang sukerta dan belum diruwat.

    Tradisi ruwatan sukerta ini sering kali membawa mereka yang percaya pada situasi kejiwaan yang keadaan dilematis Kegelisahan batin akan mengusik jiwa mereka jika upacara ruwatan untuk keselamatan anaknya sedikit orang Jawa yang merasa gelisah hidupnya bila belum melaksanakan ruwatan terhadap anaknya yang termasuk sukerta. Ruwatan memang tradisi yang tak bisa ditawar bagi yang percaya.

    Repot dah kalau sudah begini urusannya

    Yang paling repot dalam ritual ruwatan sukerta ini adalah membutuhkan biaya yang cukup besar karena harus mengadakan pertunjukan wayang kulit dengan lakon tertentu dan dalang khusus ruwatan, berikut sesaji dan syarat-syarat lain yang diperlukan. Pertunjukan wayang kulit dalam upacara ruwatan dipergunakan oleh orang Jawa sebagai sarana pembebas dari kekuatan supra natural buruk yang mengancam manusia yang nandang sukerta, sial atas keberadaanya di muka bumi ini.

    Untung saja ruwatan buang sial ini bisa dilaksanakan secara perorangan atau bersama-sama (masal). Bila ruwatan dilakukan secara bersama-sama, biaya bisa ditanggung bersama. Penyelenggaranya adalah Panitia dari instansi tertentu. Berikut ini adalah prosesi ruwatan yang dilaksanakan secara bersama-sama (massal):

    Laku Tarak

    Tahap awal pada proses ruwatan secara bersama-sama dimulai dari rumah masing-masing peserta ruwatan. Seluruh anggota keluarga harus mendukung prosesi ini dengan hati ikhlas.  Bagi peserta ruwatan yang sudah remaja bersama kedua orang tuanya dianjurkan melakukan LAKU TARAK, yaitu tidak memakan daging, ikan dan telur selama 7 hari menjelang hari pelaksanaan ruwatan.

    Siram Jamas, Sungkeman, dll.

    Sebelum berangkat ke tempat di mana ruwatan diselenggarakan, di rumah peserta ruwatan dilaksanakan Siram Jamas.  Anak yang akan diruwat mandi keramas. Setelah itu ia melakukan sungkem, berjongkok mencium lutut orang tuanya. Minta maaf dan mohon doa restu kepada kedua orang tua atau wali. Kalau masih ada kakek dan nenek, paman  atau bibi, mereka juga harus disungkemi. Setelah sungkeman selesai dilaksanakan, peserta ruwatan dengan diiringi keluarganya berangkat menuju tempat acara ruwatan dilaksanakan.

    Dalam pelaksanaan ruwatan ini, orang tua atau wali yang mengantar peserta ruwatan dianjurkan memakai pakaian adat (busana kejawen). Bila tak ada, boleh pakai busana apa saja, yang penting bersih dan, baik, dan sopan.

    Bagi peserta ruwatan, pakaian yang wajib dikenakan dalam acara ruwatan adalah:

    1. Pria dewasa harus mengenakan baju lengan panjang warna putih. Celana panjang bersih warna bebas, dibalut dengan kain mori putih + 2 meter, dan ikat pinggang dari kain mori putih.
    2. Wanita dewasa harus mengenakan kebaya warna putih, bawahan kain mori putih 2 meter, ikat pinggang juga kain mori warna putih.
    3. Bagi peserta yang belum dewasa, baik lelaki atau perempuan, busana yang harus dikenakan adalah baju lengan panjang warna putih, bawahannya kain mori warna putih, dipakai seperti kain sarung (dibebet), dalamnya boleh pakai celana pendek/panjang yang bersih, warna bebas.

    Ruwatan

    Setelah peserta ruwatan tiba di sanggar ruwatan, tempat di mana ritual akan dilaksanakan, segera semuanya ditempatkan di area khusus, duduk berkumpul dengan peserta lainnya untuk mengikuti rangkaian acara mulai dari pembukaan sampai selesainya pagelaran wayang kulit dengan cerita Murwokolo. Dalam membawakan cerita itulah Ki Dalang menyelipkan nasehat-nasehat dan membacakan mantra keselamatan agar peserta ruwat terhindar dari marabahaya yang disebabkan oleh Batara Kala. Selama pertunjukan wayang berlangsung, peserta ruwatan diperbolehkan menyantap hidangan yang tersedia.

    Setelah pertunjukan wayang selesai, dengan dipimpin oleh Ki Dalang, peserta ruwatan mengikuti serangkaian ritual berikut ini:

    1. Siraman Air Kembang Setaman, air yang sudah diberi mantera oleh Ki Dalang.
    2. Tigas Rikma (potong rambut) oleh Ki Dalang
    3. Menarik Kupat Luar (dilakukan oleh orang tua atau wali peserta ruwat)
    4. Peserta ruwatan membuka busana ruwatan (busana sukerta) dan menyerahkannya kepada Ki Dalang.
    5. Peserta melaksanakan sungkeman kepada orang tua/wali.
    6. Peserta ruwat dan orang tua/wali melaksanakan doa bersama (sujud manembah) dipimpin oleh Ki Dalang Ruwat.
    7. Para peserta mendapatkan sebotol Tirta Kembang Setaman untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing.

    Ruwatan akhir di rumah

    Setibanya di rumah, air bunga Tirta Kembang Setaman yang didapat dari Sanggar Ruwatan, dituangkan semua ke dalam ember besar atau bak mandi yang sudah berisi air secukupnya. Setelah itu peserta ruwatan berikut orang tuanya/walinya mengguyur dirinya masing-masing dengan air kembang yang sudah dimantrai tersebut. Mulai dari kepala sampai ujung kaki, lalu dilanjutkan dengan keramas dan mandi biasa sampai bersih.

    Demikianlah, acara ruwatan buang sial atau ruwatan sukerta, diakhiri dengan rasa syukur dan lantunan do’a untuk menyingkirkan segala sial, segala apes yang disandang oleh penyandang sukerta. Semoga terkabul dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa. (AY)

    ruwatan Ruwatan Buang Sial tradisi ruwatan tradisi ruwatan jawa
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePameran Lukisan Kemerdekaan
    Next Article Novel Rea

    Postingan Terkait

    Tradisi Potong Jari, Papua

    17 Mei 2024

    Tradisi dan Riwayat Ketupat

    25 April 2024

    Perayaan Cap Go Meh

    7 Maret 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 20252 Views

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 202514 Views

    Ketika Bahasa Tegal Hampir Padam, Sastra Tegalan Menyalakan Api

    2 Desember 202510 Views

    Jika Cinta Datang: Tunduk dan Menyerahlah

    1 Desember 202510 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (158)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (77)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (187)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (22)
    • Sosial Politik (29)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.