Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Relung Hati yang Bocor
    Puisi

    Relung Hati yang Bocor

    11 Agustus 2019Updated:15 November 2019Tidak ada komentar3 Mins Read52 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Menguliti negeri sendiri berarti membuka luka, mencipta airmata untuk hati yang masih memiliki nurani. Betapa besar nurani setiap manusia di negeri ini tersingkir oleh dirinya sendiri. Demi pengakuan, kekuasaan, kepuasan. Stratifikasi sosial masih menjadi sembilu. Begitu Zaeni Boli mengungkapkan dalam puisi-puisinya. Kehilangan wajah negeri. Membuat mata terbuka lebar bagi yang mau mengerti. Selamat membaca. (Redaksi)

    [iklan]

    Puisi-Puisi Zaeni Boli
    Tak perlu ada diksi
     
    Tak ada yang menyimpan
    Wajah diksi
    Di kotaku Weber Bercanda
    Tentang apa yang ia sebut pengetahuan
    Orang orang kota menyimpan lelahnya dalam hati
    Namun lewat jendela
    Bernama wajah ia
    Terbuka
    Ada suara batuk
    Ada suara klakson
    Tapi ada pula diam yang angkuh

    Orang-orang kota
    Menyimpan rahasia
    Dalam handphone
    Namun dunia tetap saja
    Tau apa isi hatinya

    Liburan ke Bali,Lombok
    atau Disney Land

    Selfie sana
    Selfie sini
    Tak pernah tau berapa ekor kucing
    Yang mati di negerinya
    Dan dibuang di jalan

    Mari menjumlah entah selain engkau
    Warna baju yang ada di gang

    Atau kita telah kehabisan akal
    Untuk bermurah hati
    Menawarkan duduk pada ibu hamil
    Atau nenek yang kepayahan dalam Comuter Line

    Tak perlu ada diksi
    Untuk berbuat baik sayang

    Cawang 2016

    OT*

    Galaksi mimpi mimpi
    Satpol PP galak galak
    Polisi galak galak
    Orang kaya dengan deretan mobil mewah
    Galak galak

    Para calon senyumnya manis
    Hanya senyumnya

    Aku melihat barisan spanduk ,banner dan slogan
    Yang aduhai

    Nasi bungkus isi orek tempe,
    sambel juga telor dadar
    dimakan malam hari
    baunya sedikit aneh

    Kutatap engkau tuan
    Di sepanjang jalan
    Kususuri jalan kota
    Tak sedikit pun kau bicarakan kami
    Hal hal yang manis saja
    Bayar pajak demi pembangunan
    Bla,bla,bla

    Lupakan kaum papa
    Mereka diurus Tuhan
    Juga Satpol PP

    Galaksi mimpi mimpi
    Jalan proyek
    Jalan malam
    Dengan segudang gundah

    Orang orang terlantar
    Tidurnya pulas
    Diemper Toko

    Bekasi 2016

    Relung hati yang Bocor

    Suara datang hilang tenggelam

    Kursi-kursi mati
    Berdebu

    Bisik bau
    Membawa pergi jam
    Ke arah kematian
    Kesadaran pingsan
    Dan menemukan dirinya telanjang

    Sirine
    Tanpa permisi
    Memasuki
    Hati dan kepalamu
    Yang bocor

    Keasinan-keasinan
    Membawa dingin laut
    Ke meja makan

    Moh Zaini Ratuloli (zaeniboli). Lahir Flores,29-08-1982. Belajar membaca puisi sejak 1989 ,belajar menulis puisi sejak 2002 biasa menulis dihalaman facebook,tapi beberapa karyanya juga pernah ikut di Antologi Puisi menolak korupsi (Jilid 2b dan jilid 4),Memandang Bekasi 2015,Sakarepmu 2015,Capruk Soul jilid 2,Antologi Puisi Klukung 2016,Memo Anti  Kekerasan terhadap  anak,Lumbung Puisi jiid 5 “Rasa Sejati”(antologi) 2017  dan Koran maupun bulletin lokal di Bekasi .sejak 2013 –sekarang tergabung dalam komunitas Sastra Kalimalang(Bekasi). Juga aktif bergiat di literasi dan teater.Sekarang tinggal di Flores aktif di Nara Teater ,menjadi ketua TBM Lautan Ilmu dan mengajar di SMK SURA DEWA Flores Timur. Alamat email:zaeniboli@yahoo.co.id. fb:zaeni boli

    Puisi Kritik Sosial puisi satire
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePekan Sastra Betawi : Lokalitas Metropolitan
    Next Article Mbah Samin Baca Puisi

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Puisi-Puisi Riki Utomo

    21 September 2025

    Puisi-Puisi Kang Thohir

    7 September 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 20252 Views

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 202514 Views

    Ketika Bahasa Tegal Hampir Padam, Sastra Tegalan Menyalakan Api

    2 Desember 202510 Views

    Jika Cinta Datang: Tunduk dan Menyerahlah

    1 Desember 202510 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (158)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (77)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (187)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (22)
    • Sosial Politik (29)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.