Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Cerpen » Mbah Samin Baca Puisi
    Cerpen

    Mbah Samin Baca Puisi

    11 Agustus 2019Updated:15 November 20192 Komentar4 Mins Read27 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    MBAH SAMIN BACA PUISI

    Abah Yoyok

    Kliwon bingung dengan sikap Mbah Samin pada perayaan tujuhbelasan yang diselenggarakan oleh warga RT 13, dari pagi sampai sore. Seluruh warga mulai dari anak-anak sampai orang dewasa semua bergembira ria menyambut HUT RI, tapi Mbah Samin justru seperti orang kehilangan gairah. Wajahnya murung seperti awan tertutup mendung.

    Diajak lomba lari karung, nggak mau. Diikutsertakan tim panjat pinang, menolak. Pokoknya semua jenis permainan yang ditawarkan langsung ditolak. Bahkan permohonan Pak RT untuk membacakan do’a di acara malam hiburan dan pembagian hadiah pun ia tolak

    “Kalau nggak ikutan perlombaan-perlombaan, saya bisa maklum, Mbah. Tapi kalau sudah tak mau membacakan do’a untuk Indonesia, berarti Mbah… ”

    “Saya cinta Indonesia, saya sayang Indonesia.”

    “Kalau memang cinta, kalau memang sayang. Mengapa untuk mendoakan saja tak mau?”

    “Apa artinya do’a kalau dilantunkan dalam suasana hura-hura. Untuk apa kita berdo’a kalau hanya untuk mensejahterakan para penguasa yang sepanjang kemerdekaan ini hanya bisa mengumbar angkara murka, demi kepentingan kelompok dan diri sendiri. Untuk apa?”

    Biyuh…biyuuuhh… Kliwon jadi berpikir, ada apa dengan Mbahku yang Samin ini? Tumben-tumbenan dia mikirin negara. Diam-diam rupanya dia juga memperhatikan perilaku para penguasa yang memang kalau kita mau jujur, telah membuat kehidupan di negeri ini semakin amburadul. Bisa-bisanya si Mbah ngomong begitu. Jangan-jangan dia sedang kerasukan roh para pahlawan yang gentayangan karena penasaran?

    “Mbah,” kata Kliwon pelan, tenang dan hati-hati. Maksudnya agar beliau juga ikutan tenang hatinya. “Indonesia ini kan milik kita juga. Milik saya, milik Mbah Samin, milik seluruh rakyat Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke.”

    “Dulu memang iya. Sejak Soempah Pemoeda diikrarkan, kita semua berbangsa satu bangsa Indonesia.”

    “Sekarang?”

    “Indonesia udah somplak. Tanah dan air berikut isinya hampir habis dikuras dan dikuasai para penguasa negeri yang notabene adalah putra-putri terbaik ibu Pertiwi.”

    Nah lo, ibu Pertiwi dibawa-bawa.

    “Memangnya ibu Pertiwi itu siapa sih, Mbah?” tanya Kliwon menggoda. Maksudnya ingin mencairkan suasana.

    “Ibu Pertiwi adalah pemilik sah republik ini. Sejak kita merdeka, dia terus berduka. Sampai saat ini, ia terus bersusah hati karena ulah para putra putrinya. Kesedihan ibu Pertiwi adalah tangis negeri ini. Negeri yang katanya subur makmur gemah ripah loh jinawi.”

    Kliwon hanya bisa terpana memandang Mbah Samin. Heran dan kagum campur aduk jadi satu mengaduk-aduk hatinya.

    “Kalau begitu mari kita ber do’a untuk ibu Pertiwi saja, Mbah.”

    Belum sempat Mbah Samin berkata, sang Pembawa Acara Malam Tasyakuran Kemerdekaan RI, mempersilahkan Mbah Samin naik ke atas pentas untuk membacakan do’a sebagai penutup acara. Kliwon segera menggandeng Mbah Samin naik ke atas panggung. Alhamdulillah, beliau menurut saja.

    Setelah hadirin tenang dalam khidmat, Mbah Samin mengucap salam lalu berkata. “Hadirin sekalian, kita semua tahu dan mengaku pernah melihat ibu Pertiwi yang sedang bersusah hati. Tapi kita semua tak pernah ada yang mau tahu di manakah sekarang dia berada.

    Ketahuilah saudara-saudara sekalian. Tangis ibu Pertiwi adalah tangisan negeri ini. Kita harus menemukan di mana kini ibu Pertiwi berada. Kita harus menghentikan tangisnya dan membuatnya bahagia. Marilah kita bersama-sama berdo’a untuk menghapuskan kesedihan ibu Pertiwi yang tak lain adalah duka cita negeri ini.”

    Para hadirin seperti terbuka ruang kesadarannya. Dengan khidmad semua menanti lantunan do’a. Tapi ternyata Mbah Samin malah membacakan sebuah puisi.

    [iklan]

    DAN IBU MASIH TERUS MENANGIS

    Sekian puluh tahun lamanya ibu bersusah hati
    air matanya berlinang
    mas intan berkilauan
    dibawa orang ke seberang lautan

    sekian puluh tahun lamanya ibu merintih dan berdoa
    hutan gunung sawah lautan
    simpanan kekayaan untuk anak cucu
    dibawa orang ke negeri seberang

    dan ibu masih terus menangis
    mas intan berkilauan yang tersisa
    apakah cukup untuk membayar hutang
    yang seluas hutan setinggi gunung
    dan bunganya sedalam lautan

    ibu masih terus menangis
    masih terus merintih
    jangan gadaikan tanah ini anakku
    jangan gadaikan air ini cucuku
    jangan gadaikan tanah air ini anak cucuku
    Cisauk, 10 agustus 2019

    Abah Yoyok adalah penyair kelahiran Klaten, Jawa Tengah pada 1 Mei 1954. Penyair ini adalah pendiri Komunitas Dapoer Sastra Tjisaoek–Tangerang, Banten. Karya puisi tergabung dalam Dari Negeri Poci, Puisi Menolak Korupsi, Memo Untuk Presiden dan Tifa Nusantara. Antologi puisi tunggalnya, yaitu Sekar Alit (Kumpulan Syair Macapat) yang terbit pada tahun 2016 dan Asal Gobleg: Salah pada tahun 2017. Dia mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Banten dibidang sastra tahun 2016. Penyair ini juga aktif mengadakan kegiatan sastra di Tangerang dengan para penyair, seniman, dramawan muda di Tangerang. Alamat Rumah : Bermis Blok B-7/19. Rt 002/004. Desa Cisauk, Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang. No Hp : 085882386713

    Cerpen Indonesia cerpen komedi Cerpen kritik sosial cerpen sastra indonesia
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleRelung Hati yang Bocor
    Next Article Pameran Lukisan Kemerdekaan

    Postingan Terkait

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 2025

    Rumah Balian

    30 November 2025

    Sandal Jepit Pesantren

    9 November 2025

    2 Komentar

    1. saat fauzi on 11 Agustus 2019 5:31 am

      merdeka…
      sekali merdeka tetap merdeka…
      nkri harga mati…

      cup.. jng menangis ibu pertiwi..
      hapus airmatamu..

      Reply
      • nana sastrawan on 29 Oktober 2019 12:11 am

        siapa yang nangis, Om? cuman sedih aja mikirin anak-anak negri yg nakal. He he he…

        Reply
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202686 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202540 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202543 Views

    Perbandingan Film Animal Farm (1954) dan Animal Farm (1999): Kajian Adaptasi dan Alih Wahana

    18 Desember 202529 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.