Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Puisi-Puisi Tjahjono Widarmanto
    Puisi

    Puisi-Puisi Tjahjono Widarmanto

    15 Oktober 2023Tidak ada komentar3 Mins Read0 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    JADWAL UNTUK MATI

    lentera-lentera telah di padamkan
    kunang-kunang menyusupkan cahayanya di mantel warna abu-abu
    sebaris puisi ditulis seperti ratapan penjaga mercu suar menangkap kabar celaka

    : tak ada yang kembali ke dermaga itu. tak ada yang kangen pada cucu-cucunya!

    langit terkesiap menatap awan yang mengeriput seperti kulit jeruk
    hanya ada bayang-bayang serombongan orang memanggul koper dan goni
    menyimpan kata-kata dalam kedalaman mata yang takluk pada takdir

    orang-orang antri berdesak-desak tanpa sempat menitip salam
    pada para perempuan yang meninggalkan dapur membiarkan uap kopi
    meruap bersama harapan yang diburu waktu
    “detik denyut itu telah menggocang lonceng penanda kematian berderap menjemput!”

    maut seperti asap mendekat perlahan
    kalimat-kalimat puisi tegak seperti pasukan berdoa
    sebelum melintasi puputan terakhirnya
    jembatan perang yang tak menginjinkan siapa pun kembali

    perempuan dan anak-anak bertanya
    “manakah yang lebih pilu: meninggalkan atau ditinggalkan?”

    (ah, guru, kematian tak sesederhana itu
    tak hanya cukup sekedar di riwayatkan dengan ringkas  dalam kitab-kitabmu
    : pengetahuanmu ternyata abai menafsir teka-teki suram itu)

    ABU

    sama dengan bangkai ia sekejap akan sirna mungkin melesak
    dalam kerak paling palung di tanah paling liat dan hitam
    atau melesat ke angkasa, menabrak dan mengguncang pepohonan
    sebelum lenyap jadi butir-butir molekul seperti gerimis tipis

    seperti juga sama dengan semua mayat yang tak pernah tahu dalamnya neraka
    ia tak akan lagi merapal ayat-ayat. segenap mantra dan jampi-jampi kidung suci
    berubah menjadi serabut-serabut yang ringkih seperti putik merambat menuju layu

    “hai, tak perlu kau menoleh ke belakang untuk mengingat-ingat apapun.campakkan ingatan
    bergegaslah kau telah di tunggu kereta dihela delapan lembu melenguh tanpa henti!”

    maka, engkau pun berjalan sendiri dengan berdebar-debar mendengar lenguh itu.
    cemas sendiri tanpa siapa-siapa, bahkan tanpa nama

    PENGEMBARA

    seorang pengelana tak butuh kunci rumahnya
    tak perlu menghitung atau melingkari kalender
    menandai kapan pulang

    pengelana akan bersekutu dengan peta
    yang remang-remang dan tak peduli
    kuncinya hilang saat mandi di sungai
    dicuri dan ditelan ikan-ikan

    tanpa kunci ia berjalan seperti unta
    dan sampailah di gerbang surga

    : “hoii, siapa di dalam bukakan pintu
    aku tak bisa melompat atau memanjat
    sedang kunciku lenyap di remang-remang!”

    AKHIRNYA CUMA SEKEDAR BUNGA!

    Pada akhirnya: sekedar bunga. Kembang yang selalu membuat bimbang
    menyisakan sekuncup doa yang tengadah dan menggigil di kulum senja

    Sekedar bunga. Sekejap gemetar lunglai menahan sesuatu yang meleleh
    lantas menjalar di rongga paling rahasia. Semacam rindu yang keparat

    Pada akhirnya: kembang yang selalu membuat bimbang
    menakar rahasia tersangkut di ranting-ranting getas
    tak henti-hentinya menusuk-nusuk rahim dan dubur langit
    beranak candikala dan seekor gagak yang paruhnya terbakar

    Pada saatnya: hanyalah cuma sekuntum bunga yang lupa pada putiknya
    seperti doa yang menggigil kehilangan tanda baca tak sanggup
    menerka-nerka kedalaman rahasia

    Pada akhirnya: sekedar bunga yang gagal jadi buah
    kembali pada kuncup yang hanya bisa terpejam seperti malam.
    Mata yang bisu, mata yang batu.

    Amboi, siapa yang datang?

    Sang Medusa atau malaikat-malaikat bersayap hitam mengayun-ayunkan cemeti?

    Segenap suluk jadi serupa desah menyapa ajal
    perlahan menggeliat lantas menggandeng tangan
    beringsut pelan ke puncak hening yang kuning.

    Tjahjono Widarmanto, Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Tulisannya berupa puisi, esai, artikel dan cerpen dipublikan berbagai media. Beberapa kali menerima penghargaan di bidang kesastraan, antara lain: Penghargaan Seniman dan Budayawan Berprestasi Jatim dari Pemrov. Jatim (2002), Sayembara Penulisan Buku pengayaan Tingkat Nasional dari perpusbuk (2003, 2007, 2010, 2016, 2017), Penghargaan Sutosoma, Kategori Guru Sastra Berdedikasi dari Balai bahasa Jatim (2013), Penghargaan Sastrawan Pendidik Tingkat Nasional dari Pusat Pembinaan bahasa (2013), Sayembara Buku Puisi Terbaik  Nasional versi HPI 2016, dll.

    penyair ngawi sastra puisi sastrawan indonesia
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleDarurat Sampah Ancam Kasus Stunting Bertambah
    Next Article Mi Ayam Indonesia dan Cerita Kelezatannya yang Populer

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 2026

    Menikmati Panjat Tebing Puisi Penyair Darmanto Jatman “Memandang Padang Alang-Alang Pada Suatu Malam”

    9 Mei 2026

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 202618 Views

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 20266 Views

    Menikmati Panjat Tebing Puisi Penyair Darmanto Jatman “Memandang Padang Alang-Alang Pada Suatu Malam”

    9 Mei 202647 Views

    Wisata Dataran Tinggi Dieng Kembali Ramai Dikunjungi Wisatawan

    5 Mei 20267 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (80)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (166)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.