Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Perempuan Tanah Garam
    Puisi

    Perempuan Tanah Garam

    27 Januari 2020Tidak ada komentar3 Mins Read61 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Puisi yang tercipta kerap kali berada pada penyair yang terbelah; satu kaki berada dalam keterikatan kultur etnik dengan segala karakteristik tradisionalismenya, satu kali lagi berada dalam dunia modern yang hadir pada dirinya dengan segala macam persoalannya. Tetapi, puisi tetap akan memiliki jalannya sendiri untuk menginformasikan suatu keadaan atau kenyataan. (Redaksi).

    [iklan]

    Puisi Zen KR. Halil

    Perempuan Tanah Garam
     
    Saban hari
    Kami hanyalah seorang tak kenal bosan
    Membangunkan matahari
    Dengan asap merubung
    Dari tungku yang tiada keluh
    Setia menemani kami berpeluh.
    Lalu, tanpa letih kami merawat pagi
    Di taneyan lanjheng[1] dengan sapu lidi
    Sembari mengusap dada
    Yang sesak oleh doa
    Mengharap keselamatan bagi suami
    Saat memerangi takdir mereka sendiri;
    Melawan maut di bentang laut,
    Memanjati nasib di pucuk pohon siwalan,
    Atau menanam mimpi di ladang
    Dengan dada paling lapang.

    Kendati kami mengerti
    Bahwa otot kami masih tak sekekar akar
    Tetaplah kami panggul peltong[2] di punggung
    Menikmati terik bersama celurit
    Mengarit rumput untuk sapi-sapi piara
    Yang kami sebut sebagai hidup kami sendiri.

    Mata kami begitu akrab menatap harap
    Menata ingin dan angan anak-anak kami
    Meski hati terus menjelma gudang
    Penuh akan tumpukan kecemasan.

    Dan dalam malam-malam yang bising oleh tembang
    Sungai mengalir di pipi
    Membanjiri doa dan mimpi kami
    Yang begitu puisi.

    Madura, 2019

    [1] Halaman Panjang, ciri khas yang banyak digunakan perumahan-perumahan orang madura
    [2] Tempat rumput yang biasa digunakan saat menyiangi

    Bibir yang Lupa Cara Tersenyum
     
    Pernah kami lepas
    Tawa tanpa cemas
    Memanen hasil tembakau
    Dengan harga yang hijau
    Saat segala doa kami
    Diamini musim kemarau.

    Betapa dunia semakin surga
    Ketika hidup seolah tanpa kata duka
    Anak-anak bernyanyi ceria
    Melupakan hujan yang menyimpan lain kesenangan
    “Pajher lagghu arena pon nyonara
    Bapak tani se tedung, pon jheghe’e
    Ngala’ are’ so landu’ tor capenga
    Ajhelenaghi sarat kawajibhen
    Atatamen mabennya’ hasel bhumena
    Ma makmur nagherena tor bhengsana…”
     
    Namun, kini kemarau adalah
    Dada kami sendiri
    Menyimpan panas paling terik dalam hati
    Setelah seluruh cinta yang kami rajut
    Pada hijau daun tembakau
    Menyajikan kisah paling elegi
    ; ironi harga pasar yang kasar
    Tak cukup buat membeli
    Sebiji permen untuk anak-anak kami.

    Maka, adakah senyum kami
    Hanya akan terlipat rapi
    Dalam kenangan?
    Dan kami harus benar-benar melupakan
    Segala cara merangkai kebahagiaan.

    2019

    Nadzam Annuqayah
    #1
    Kota kami bukan kota yang berisik
    Dengan motor ataupun pabrik mengusik

    Serupa firdaus sejuk dan indah
    Kota kami disebut Annuqayah

    Di sinilah pusat kirana berpendar
    Nur Tuhan dari hati kiai memancar

    Keramaian bacan qur’an dan syi’ir
    Mengalir tak pernah menjumpai hilir.

    #2
    Ketika lapar mengakar dan menjalar
    Teman setia adalah rasa sabar

    Di sini segala bernama ibadah
    Diasah agar resah tak kian rekah

    Sebab barangkali dengan semua itu
    Sejuk embun kiai larut ke tubuh.

    #3
    S’perti petani kami suka bertanam
    Ladangnya hati dibajak dalam diam

    Yaitu ta’dzim kami tanam sengaja
    Kepada para kiai yang mulia

    Setelah ditanam kami siram lalu
    Dengan doa agar tumbuhnya tak layu

    Hingga nanti kami bisa mengecap
    Kenikmatan buah t’lah menjadi harap

    Dan hati bukan lagi semak belukar
    Tak lagi sesak dosa berduri liar.

    Annuqayah, 2019

    Zen KR. Halil. Santri PP. Annuqayah Lubangsa dan Mahasiswa INSTIKA prodi Tasawuf  dan Psikoterapi asal Batang-batang, Sumenep. Sejumlah karyanya pernah dimuat di beberapa media dan antologi bersama. Sedang menimba air di beberapa sumur diantaranya: Komunitas Persi dan Majelis Sastra Mata Pena. Bisa dikunjungi di kampung halamannya: zen.kr@yahoo.com

    komunitas puisi puisi indonesia puisi madura
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleAda yang Mesti Kita Lupakan Setelah Ini
    Next Article Patung Sigale-gale

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 20269 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202664 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202636 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202613 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.