Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Penyatuan Diri Seorang Penyair Pada Kata
    Kritik Sastra

    Penyatuan Diri Seorang Penyair Pada Kata

    29 Januari 2024Tidak ada komentar6 Mins Read4 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Oleh Nana Sastrawan[1]

    Puisi dan penyair tidak dapat dipisahkan. Puisi akan hadir, kemudian hidup pada kegelisahan penyairnya. Begitu pun penyair akan lahir dari puisi-puisi yang dapat menghidupkan jiwanya. Sebab puisi, menjadi ilustrasi pikiran, gerak dan laku dari penyair itu sendiri. Tentu saja, perjalanan mencapai titik penciptaan puisi yang seperti itu bukan ‘flat’ melainkan memerlukan perjalanan yang terjal, mendaki, berkelok-kelok dan sebagainya. Maka, penyair tidak seharusnya menyerah pada kenyataan hidup. Penyair dapat melampaui ‘batas’ pada pikirannya.

    Puisi-puisi karya Enthieh Mudakir dalam buku ini tidak menunjukkan kelemahan sikap pada kehidupan, melainkan setiap puisi-puisinya terbaca semacam dialog antara pikirannya, kenyataannya, dan sikap religiusitas. Ia menyatu pada setiap puisi yang diciptakan; pengalaman lahir dan batin yang akhirnya bermuara pada sikap ketegaran meskipun dihantam badai kebudayaan modern dan topan filsafat. Beberapa puisinya pun menunjukkan hubungan penyair dan lingkungan kesenian yang heterogen.

    Yang menarik bagi saya; puisi-puisinya sebagian besar memberikan tanda pencapaian ‘religius’ dalam dirinya. Jalan kesufian yang bisa jadi terbentuk dari perjalanan panjangnya menempuh kehidupan ini. Kesadaran diri; raga dan jiwa pada puisi-puisinya ini membuka pintu kemanusiaannya. Menyadarkan pada setiap mahkluk bahwa segalanya akan masuk ke ruang yang paling dalam dan gelap tanpa ada siapapun menemani. Di sinilah kejujuran puisinya termaknai.

    Semakin saya baca puisi-puisinya, semakin saya memahami bahwa puisi bagi Enthieh Mudakir adalah sebuah zat yang abadi, bisa jadi itu adalah Tuhan. Atau bisa jadi, puisi-puisinya adalah norma, agama, hukum yang hidup dan dihidupkan.

    Puisi memang cenderung muncul dari kepribadian penyair; yang terasakan maupun yang terpendam. Akan tetapi, puisi tidak ditulis sendirian, sebab puisi adalah makhluk gaib, karena itu ada tangan gaib yang ikut andil dalam menuliskannya. Meskipun penyair berupaya meraih kata-kata semaksimal mungkin pada pencapaian estetik bahasa, tanpa pengalaman batin yang matang, kata-kata tidak akan mendapatkan ‘ruh’. Itulah satu di antara kegaiban puisi.

    Kegaiban yang lainnya berupa ‘kegelisahan’ pikir pada penyairnya, ketika ia menemukan satu kata atau satu peristiwa, maka kata itu semakin beranak-pinak menjadi puisi-puisi, naskah-naskah lainnya dan buku-buku. Tidak heran jika penyair semakin menulis puisi semakin dalam dan semakin lama, ia akan merasakan puisi itu menyatu ke dalam diri, ke dalam tubuhnya. Itu pun sepertinya dirasakan oleh Enthieh dalam puisi ‘Tubuh’.

    Tubuhku
    Bersenggama
    Mencari pasangan
    Pada tubuhku sendiri
     
    Lahirlah anak-anak nurani
    Malam begini bening
    Cemas belum menyerah
    Angin perlawanan
    Koor zaman
    Anjing ingin pulang
    Dua belas jam berikut ini:
    Siapa berlari sekejap tadi
    Ayat-ayat meriwayatkan

    Di bait awal ia sudah menjelaskan puisi-puisi dengan disimbolkan kata ‘tubuh’ yang ia ciptakan saling terikat, kawin, mengawini lalu lahir anak-anak nurani yang dapat ditelusuri dengan karya-karyanya pada buku-buku yang telah ia terbitkan seperti Malam Begini Bening, Cemas Belum Menyerah, Angin Perlawanan, Koor Zaman, Anjing Ingin Pulang, Dua Belas Jam Berikut Ini, Siapa Berlari Sekejap Tadi, Ayat-Ayat Meriwayatkan.

    Maka pada tahun 2023, saya dapat mengilustrasikan setelah membaca puisi-puisinya, buku yang berjudul ‘Situs Kata’ ini memiliki tiga konsep kelahiran (1) pikiran (2) pengalaman (3) budi. Ketiga konsep kelahiran ini disadari akan mengakar dan mengabadi meskipun sudah tutup usia, mereka akan menjadi situs atau monumen-monumen sakral berupa kata (puisi) dalam buku ini.

    Penyatuan diri pada kata yang dirasakan Enthieh Mudakir, bisa saja ‘seperti’ peristiwa Syekh Siti Jenar yang menemukan konsep penyatuan diri dengan Tuhan. Meskipun tetap berbeda ‘ruang’ dan ‘pembahasan’. Yang saya garis bawahi adalah ‘proses’ penyatuan diri Enthieh dengan kata. Saya menyakini, seorang penyair dalam menulis puisi tidak ‘mencuri kata’ tapi ‘menemukan kata’ sehingga ia memahami betul makna-makna kata. Menemukan kata, yang paling magis adalah melakoni, yang telah saya ungkap di atas tentang tiga konsep kelahiran puisi-puisi dalam buku ini.

    Maka tidak heran jika lahir puisi ‘Situs Kata’ yang pada akhir lariknya: Bila atas nama /Pohon, ranting serta daunnya/Buahnya puisi. Jadi puisi, adalah ‘buah’ hasil dari proses penyatuan diri seorang Enthieh Mudakir pada kata.

    Kepekaan penyair pada kehidupan sosial, politik, ekonomi, agama dan lainnya yang terjadi di lingkungan dirinya menjadi hal yang menarik bagi saya. Sebab, dari puisi-puisinya yang bernapaskan atau bertemakan itu, terasa sekali kejujuran penyair dalam menyampaikannya. Ya, meskipun puisi-puisi yang bertemakan itu bukan suatu hal yang baru di dunia kepenyairan Indonesia, akan tetapi dengan nilai kejujuran yang dalam maka akan selalu bertemu dengan kesegaran pada puisi-puisi yang bertemakan serupa.

    Tanpa sikap yang jujur, penyair akan goyah, terombang-ambing dan jatuh pada lubang ‘kepenatan’ belaka, sehingga puisi-puisi yang tercipta hanyalah unek-unek yang sia-sia.

    Pada puisi ‘di Meja Makan; ia menggambarkan bagaimana peristiwa politik pasca reformasi, terutama pada peristiwa-peristiwa pemilihan umum di negeri ini.

    Sepenggal kepala kambing di
    meja makan
    Di santap di antara kawan
    lawan politik
    Suka dan tidak suka bertawar
    keharusan
    Api sekam di satu lubang ke
    dalam rantang
    di dalam tungku saling
    bertukar

    Perhelatan boleh dimulai
    Di pintu masuk kota gambar
    berterbangan
    Pasangan calon pamer
    Pendampingan
    Lumrahnya harapan kepada
    pandangan
    Waktunya sibuk menjadwalkan
    adu pinalti
    Ada yang bersembunyi
    menyarungkan belati
    Ada yang terang-benderang
    menyebar uang

    Aku bersama anak kampung
    yang tidak mengerti
    Sambil menyeduh kopi
    Membaca janji
    Pelakor mahar kesohor
    Atau gagalnya independensi
    gagalnya tradisi kami

    Sejurus,
    Digerus pilihan
    Ideologi identitas
    Tak henti dikayuh
    Derasnya gerimis, sampai
    Hujan deras!

    Puisi ini menghadirkan tatanan masyarakat yang ramah, tentram dan damai mendadak porak-poranda ketika munculnya pemilihan wakil rakyat atau presiden. Pada larik Ada yang bersembunyi/menyarungkan belati/Ada yang terang-benderang/menyebar uang. Menunjukkan kepekaan penyair; merekam peristiwa, menganalisa, kemudian diungkapkan sebagai pengingat dan harapan bahwa hal-hal semacam itu dalam akan merusak kehidupan bermasyarakat di suatu daerah.

    Inilah kejujuran penyair yang tidak berputar-putar pada pikirannya saja, namun mengungkapkan peristiwa yang nyata sehingga tidak terjebak pada kekerdilan kenyataan empiris dalam kehidupannya sehari-hari. Sikap kejujuran dalam diri penyair juga akan membentuk kedewasaan dalam gaya pengucapan puisi-puisinya.

    Begitulah kiranya pengantar yang saya tulis ini, sebagai pintu gerbang memasuki puisi-puisi Enthieh Mudakir dalam buku ‘Situs Kata’. Saya tidak ingin terlalu banyak ‘mengoceh’ yang mengakibatkan tidak produktifnya pembaca untuk menggali setiap puisi-puisi yang tercipta, dan tentu saja setiap pembaca akan menemukan isi, atau pemaknaan yang berbeda dalam buku ini.

    Sebagai penutup, kiranya puisi ‘Ulat Menjelma Kupu-Kupu’ karya Enthieh Mudakir dapat kita renungkan bersama, sebagai sesama manusia :
    /1/
    Dari ulat menjelma kepompong
    lahirlah kupu-kupu ruh ditiupkan
    bersama angin. Diterbangkan

    Tertulis kepada nasib sendiri hanya
    dua kali dua puluh empat jam
    percaya bahwa hidup bukan keputusan
    pemilik tubuh. Ada pihak lain yang
    berkuasa atas dirinya tanpa bisa
    kompromi

    Lahir, hidup, mati. Kata bilangan
    yang harus diurai secara langsung
    maupun tidak langsung. Serupa
    lebar kali panjang kali
    tinggi
    sama dengan luas. Satu utuh tidak
    terbagi

    /2/
    Kita adalah kisah ditentukan oleh teks
    waktu. Sebagaimana kehendak angin
    yang menggoyangkan daun. Pada
    ketetapan runduk. Mengubah mega
    gelap menjadi terang. Melakonkan
    isian kotak catur. Maha luas dinding
    semesta untuk dicerna. Manusia
    melukiskan akhir ceritanya sendiri

    Demikian cerita ulat menjelma
    kupu-kupu. Manusia dipaksa
    istiqomah setelah kesaksiannya
    dipertanyakan. Apakah kita abadi atau
    cuma menggeser waktu. Ketika
    diammu adalah gerak. Gerakkanmu
    menjaga irama, dentang itu skala!

    Selamat membaca dan menyatu bersama puisi.

    Desember 2023

    [1] Peraih Penghargaan Acarya Sastra IV Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015.

    buku puisi Penyair Tegal Situs Kata
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePuisi-Puisi Iis Singgih
    Next Article Seniman yang Terkutuk

    Postingan Terkait

    Diksi Unik di Puisi Emha Ainun Nadjib “Doa Terampun Ampun”

    12 Desember 2025

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202681 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202539 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202543 Views

    Perbandingan Film Animal Farm (1954) dan Animal Farm (1999): Kajian Adaptasi dan Alih Wahana

    18 Desember 202528 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.