Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Sosialita » Parenting dan Berhala Performa: Menolak Menjadi Orang Tua “Katalog”
    Sosialita

    Parenting dan Berhala Performa: Menolak Menjadi Orang Tua “Katalog”

    4 Juni 2026Tidak ada komentar5 Mins Read1 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Oleh Wahyu Tanoto

    Kita sedang hidup di sebuah era di mana keberhasilan orang tua tidak lagi diukur dari ketenangan batin seorang anak, melainkan melalui performa sang anak di ruang publik.

    Anak bukan lagi manusia yang tumbuh secara organik dengan segala kerentanan dan keunikannya, melainkan artefak peradaban yang harus dipoles sedemikian rupa agar tampak “mahal” di mata tetangga, kolega, dan pengikut media sosial.

    Parenting, dalam banyak wajahnya hari ini, telah mengalami degradasi makna. Dari kerja-kerja kemanusiaan yang sunyi menjadi sekadar kerja-kerja kurasi yang bising.

    Banyak orang tua hari ini terjebak dalam apa yang saya sebut sebagai “Berhala Performa”. Sebuah kondisi psikologis di mana nilai diri orang tua diproyeksikan sepenuhnya pada pencapaian anak.

    Mereka merasa telah menjadi orang tua yang hebat hanya karena mampu membayar biaya sekolah internasional yang SPP bulannya setara dengan harga satu hektar sawah di pelosok desa.

    Ada semacam keyakinan semu bahwa kuitansi pembayaran sekolah yang mahal adalah jaminan mutu moral dan intelektual. Mereka merasa sukses karena anaknya fasih melafalkan doa-doa atau istilah teknis dalam bahasa Inggris di usia balita, tanpa pernah berhenti sejenak untuk bertanya. Apakah anak itu benar-benar paham substansinya, atau hanya sekadar menjadi “kaset” yang diputar ulang demi memuaskan ego dan dahaga validasi orang tuanya?

    Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena mengerikan di mana anak-anak dipaksa tumbuh lebih cepat dari usianya. Logika yang dipakai sangat sederhana namun sangat cacat. Semakin cepat seorang anak bisa melakukan sesuatu, maka semakin hebat kualitas produksi orang tuanya.

    Maka, lahirlah kelas-kelas akselerasi, les-les spesialisasi sejak dini. Hingga berbagai macam kompetisi yang sebenarnya bukan panggung bagi anak, melainkan panggung bagi orang tua untuk saling pamer “kapasitas ekonomi” dan “akses informasi” melalui bakat anak.

    Anak diposisikan sebagai investasi berjalan, sebuah aset yang diharapkan memberikan return on investment berupa prestise sosial.

    Masalahnya, dalam setiap ambisi yang membuncah itu, ada jiwa yang sering kali terabaikan dan dibiarkan kering. Kita begitu sibuk mendesain masa depan mereka, menyusun kurikulum hidup yang ketat, hingga kita lupa membiarkan mereka menikmati “masa kini”.

    Kita menyiapkan mereka untuk menjadi pemenang dalam sistem kapitalisme yang kompetitif dan bengis, namun kita gagal total menyiapkan mereka menjadi manusia yang mampu mengenali rasa sakit, mengelola kegagalan, dan mempraktikkan empati. Kita menciptakan robot-robot yang fasih angka, tapi gagap rasa.

    Lihatlah bagaimana parenting hari ini sering kali berubah menjadi sekadar komoditas industri. Buku-buku parenting laris manis, seminar-seminar penuh sesak oleh audiens yang haus akan “tips instan”, namun hasilnya sering kali seragam.

    Orang tua yang semakin cemas dan anak-anak yang semakin teralienasi dari dunianya sendiri. Kita membeli metodologi yang kaku, tapi kita kehilangan intuisi yang, katakanlah cair.

    Kita mengikuti setiap arahan para pemengaruh (influencer) di media sosial yang sering kali hanya menjual potongan-potongan momen estetis, tapi kita abai terhadap karakter unik, bakat terpendam, dan ketakutan-ketakutan nyata yang dimiliki setiap anak di rumah kita.

    Realitas pahitnya adalah, parenting kelas menengah kita sering kali menjadi ajang kompensasi atas luka lama. Anak itu bukan kertas kosong seperti yang sering dikatakan teori-teori klasik. Mereka adalah “teks” yang sudah memiliki narasinya sendiri sejak lahir.

    Tugas kita sebagai orang tua bukan menulis ulang narasi itu sesuai dengan syahwat atau kegagalan masa lalu kita, melainkan menjadi editor yang bijak. Editor yang tahu kapan harus memberi tanda koma agar mereka bisa beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk ekspektasi, dan tahu kapan harus memberi tanda titik agar mereka paham akan batasan dan etika.

    Parenting yang jujur dan autentik seharusnya tidak sibuk dengan pencitraan dan angka-angka statistik. Ia adalah kerja-kerja sunyi yang terjadi di meja makan tanpa gawai, di sela-sela obrolan ringan sebelum tidur, atau saat kita memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan di depan mereka.

    Keberhasilan mendidik bukan tentang seberapa banyak piala plastik yang berderet di lemari pajangan ruang tamu, tapi tentang seberapa besar rasa aman yang dirasakan anak saat mereka jatuh dan gagal. Apakah mereka akan lari kepada kita untuk mencari perlindungan, atau justru lari menjauh karena takut akan penghakiman?

    Kita harus berani berhenti memperlakukan anak sebagai “cadangan masa depan” bagi impian-impian kita yang kandas di tengah jalan. Biarkan mereka menjadi manusia yang utuh, yang diperbolehkan melakukan kesalahan tanpa harus merasa takut telah merusak citra keluarga yang sudah dibangun dengan penuh kepalsuan di dunia maya.

    Menjadi orang tua bukan tentang menjadi yang paling pintar atau paling hebat; ini adalah tentang menjadi yang paling otentik.

    Dunia ini sudah terlalu penuh dengan orang-orang yang mengejar performa namun kehilangan esensi. Kita tidak butuh tambahan orang pintar yang hampa nurani. Yang kita butuhkan saat ini adalah manusia-manusia yang “waras”. Manusia yang tahu kapan harus berhenti berlari, tahu cara berterima kasih pada hal-hal kecil, dan tahu cara mencintai sesama tanpa syarat yang rumit.

    Tugas kita bukan mencetak juara, tapi memanusiakan manusia. Karena pada akhirnya, anak-anak tidak butuh orang tua yang tampil sempurna seperti katalog furnitur; mereka hanya butuh orang tua yang manusiawi, yang hadir dengan segala kelemahan dan ketulusannya.

    Wahyu Tanoto, menulis di media mana pun. Tinggal di Bantul, D.I Yogyakarta. Sehari-hari beraktivitas di Mitra Wacana. Ia juga menulis esai, puisi, cerita anak, cerpen, fiksi mini dan geguritan. IG @yutanbantul.

    orang tua dan anak parenting perkembangan anak usia dini
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleKebersamaan dalam Keberagaman Agama dan Budaya dari Novel Hujan Bulan Juni
    Next Article Bahasa Toxic Jadi Trend, Keren atau Ngerusak?

    Postingan Terkait

    Bahasa Toxic Jadi Trend, Keren atau Ngerusak?

    4 Juni 2026

    Revolusi Kue Modern di Era Digital: dari Dapur Rumahan Menjadi Industri Kreatif Bernilai Jutaan

    18 Mei 2026

    Wisata Dataran Tinggi Dieng Kembali Ramai Dikunjungi Wisatawan

    5 Mei 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Bahasa Toxic Jadi Trend, Keren atau Ngerusak?

    4 Juni 20260 Views

    Parenting dan Berhala Performa: Menolak Menjadi Orang Tua “Katalog”

    4 Juni 20261 Views

    Kebersamaan dalam Keberagaman Agama dan Budaya dari Novel Hujan Bulan Juni

    2 Juni 202634 Views

    Makna Takdir dan Kesabaran dari Novel Jodoh pasti Bertemu

    1 Juni 202624 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (88)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (81)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (169)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.