Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Nyadran
    Puisi

    Nyadran

    19 Januari 2022Tidak ada komentar3 Mins Read145 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

     

    Lopis Syawal

    Gema takbir masih menyeriuk
    Beradu dengan bising suara petasan
    Langit yang penuh dengan gelembung hitam
    Menjadikan hiasan yang cukup menawan

    Lopis raksasa khas Pekalongan
    Terbuat dari ketan
    Mempunyai makna persatuan
    Warna putih melambangkan kesucian

    Balutan bungkus hijau
    Melambangkan Islam yang damai
    Tali serat pelepah yang menghias
    Melambangkan sebuah kekuatan

    Lopis raksasa khas Pekalongan
    Hadirmu membawa keramaian
    Memancing orang-orang yang penasaran
    Melihat lopis raksasa yang menawan

    Ya…. itulah Pekalongan
    Kota yang dijuluki dengan kota santri
    Serta terkenal sebagai kota batik
    Yang tersimpan tradisi unik serta menarik


    Nyadran

    Laut yang terbentang luas
    Menjadi kesenangan tersendiri
    Tuk upacara adat masyarakat pesisir pantai
    Sebagai simbul adanya rasa syukur kami

    Kami hidup hanya mengandalkanmu
    Jerih payah dan usaha kan sia-sia
    Jikalau kau tak memberikan ketenangan dalam ombakmu
    Keberadaan ikan yang serentak lompat-lompat
    Membangkitkan semangat bagi kami para nelayan

    Ayam, kepala kerbau, macam-macam bunga dan sebagainya
    Sebagai pernak-pernik dalam upacara nyadran
    Mengandung makna disetiap pernak-perniknya
    Kami selalu membawanya tanpa terkecuali

    Arak-arakan menelusuri jalan
    Dengan mengenakan pakaian adat
    Tak terkecuali bunga desa dengan polesan diwajahnya
    Diikuti para pelandang yang juga cantik menawan

    Gulungan ombak mulai terlihat
    Bisikan angin mulai terdengar
    Pertanda kami telah menginjakkan pantai
    Kapal pun telah terpapar di atas ombak
    Kini saatnya kami mengirim sesaji
    Tuk dihanyutkan dalam bentangan air
    Simbol syukur kami atas selamat dalam mencari ikan di laut


    Krong Bade

    Negeriku….. Indonesia
    Negeriku yang kaya akan budaya dan beragam flora fauna
    Menyadarkanku dari lamunan indahnya Negara tetangga
    Terbius akan keindahan Negara modern bak mempesona
    Oh ternyata…. Negerikulah yang enak dipandang mata

    Di ujung barat terdapat adat yang memikat
    Berkumpulnya masyarakat yang dikenal taat
    Mengingatkan tsunami yang dahsyat
    Menghancurkan keindahan dengan ombak yang kuat

    Provinsi yang dikenal dengan serambi mekkah
    Tak hanya alamnya saja yang indah
    Namun, terdapat bangunan yang elok nan megah
    Krong bade namanya

    Hunian berpanggung agar terhindar dari marabahaya
    Bangunan berbentuk persegi panjang dengan ukiran sebagai penentu kasta
    Berjumlah ganjil anak tangganya menjadikan simbol religius sukunya
    Pintu yang rendah sebagai tanda penghormatan
    Berlangit atap dengan daun rumbia
    Ingin rasanya mengunjunginya

    Decak kagum tari dengan kekompakan
    Warna-warni warna penuh keceriaan
    Gerakan dan lantunan syair  menyampaikan pesan
    Begituah tarian saman

    Ya…. itulah Negeriku di ujung barat
    Sudah banyak harapan yang diinginkan
    Dari kenangan lalu yang menyedihkan
    Terbangun kembali dengan menawan
    Oh, sungguh indah bukan

    Della Rahmadita, lahir di Pekalongan 13 April 2001. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Ia saat ini tinggal di Wiradesa, Pekalongan.

    Puisi puisi mahasiswa puisi populer
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleTradisi Resik Kubur Sebelum Nikahan dan Sunatan
    Next Article Sendang Kamulyan, Kauripan dan Pangusadan

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Puisi-Puisi Riki Utomo

    21 September 2025

    Puisi-Puisi Kang Thohir

    7 September 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 20252 Views

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 202514 Views

    Ketika Bahasa Tegal Hampir Padam, Sastra Tegalan Menyalakan Api

    2 Desember 202510 Views

    Jika Cinta Datang: Tunduk dan Menyerahlah

    1 Desember 202510 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (158)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (77)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (187)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (22)
    • Sosial Politik (29)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.