Oleh Atik Bintoro
Apa Itu Saham, dan BEI?
Siapapun yang pernah membaca, dan atau mendengar istilah saham, dari: teman, sosmed, atau pun internet; tetapi belum mengenal apa itu saham; biasanya langsung mengira bahwa saham adalah investasi besar di pasar modal seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), yang memerlukan modal opersional Jutaan sampai Milyaran rupiah, bahkan bisa Trilyunan. Perkiraan itu memang tidak salah, namun tidak benar benar tepat. Karena pada kesempatan tertentu pasar modal di BEI menawarkan harga saham perlembarnya hanya Rp. 20. BEI menjual saham setiap Satu Lot yang terdiri dari 100 Lembar saham. Sehingga jika harga perlembar saham = Rp. 20, maka harga satu Lotnya mencapai Rp. 20 x 100 = Rp. 2000. Harga ini masih jauh di bawah harga minum secangkair kopi di warung lesehan.
Apa itu saham di BEI ?, sejatinya saham di BEI adalah bukti kepemilikan seseorang dalam ikut andil berperan serta pemodalan di Perusahaan Terbuka. Oleh karena itu ketika seseorang membeli saham perusahaan yang tercatat di BEI, maka secara resmi Orang tersebut adalah satu diantara pemilik perusahaan, sekecil apa pun persentasenya. Pemilik saham atau biasa disebut sebagai pemegang saham, berhak atas keuntungan perusahaan dan hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Sedangkan Bursa Efek Indonesia adalah pasar resmi di Indonesia, sebagai tempat bertemunya para penjual dan pembeli saham di Indonesia. Tidak semua perusahaan bisa menjadi tujuan investasi masyarakat luas. Hanya perusahaan yang telah melakukan Initial Public Offering (IPO) atau go public yang sahamnya bisa diperjualbelikan secara terbuka di BEI. Semua Perusahaan yang ada di BEI memiliki kode unik empat huruf, seperti BBRI kode saham untuk PT. Bank Rakyat Indonesi Tbk, ANTM – PT. Aneka Tambang Tbk, KRAS – PT. Krakatau Steel Tbk, dan SOLA untuk saham dari PT. Xolare RCR Energy TBk.
Bagaimana Menjadi Investor Ritel di Pasar Saham BEI?
Investor perorangan atau sering disebut sebagai Investor ritel, tidak bisa langsung datang ke gedung BEI untuk membeli saham. Proses transaksi jual beli saham dilakukan secara digital melalui perusahaan sekuritas yang bertindak sebagai perantara resmi antara BEI dan investor ritel. Contoh perusahaan sekuritas: PT Stockbit Sekuritas Digital dengan Platform Stockbit.com. Perusahaan ini terdaftar resmi di BEI sebagai Anggota Bursa dengan Kode Broker: XL.
Semua aktivitas pembukaan Rekening Dana Nasabah (RDN) serta transaksi jual-beli saham, langsung diproses lewat infrastruktur sekuritas sendiri, yang sudah berizin dan diawasi oleh OJK serta terdaftar di KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia). Sedangkan aplikasi lain untuk jual beli saham BEI, bisa dicari di toko aplikasi resmi Google Play Store.
Adapun cara mendaftar sebagai investor ritel adalah: calon investor ritel melakukan install aplikasi jual beli saham, kemudian mendaftarkan diri berbekal KTP, dan Rekening Bank yang dimiliki. Setelah mendaftarkan diri, kemudian perlu waktu tunggu sekitar dua hari untuk verifikasi data. Jika semuanya disetujui, calon investor sudah terdaftar sebagai investor di skuritas tersebut. Selanjutnya lakukan isi deposit, misalnya Rp. 100.000 untuk memulai menjadi investor atau pun jual beli saham.
Banyak orang tertarik menanamkan modal di bursa saham, karena secara garis besar, ada dua sumber keuntungan utama yang bisa didapatkan oleh seorang investor, yaitu:
1. Capital Gain (Keuntungan Modal):
Ini adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih harga beli dan harga jual. Sebagai contoh, jika membeli saham suatu emiten pada harga Rp. 100 per lembar dan menjualnya beberapa waktu kemudian saat harganya naik menjadi Rp. 104, maka selisih Rp 4 per lembar itulah yang disebut capital gain.

2. Dividen
Ini adalah bagian dari laba bersih perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham, biasanya sekali atau dua kali dalam setahun. Besaran dividen yang diterima akan berbanding lurus dengan jumlah lembar saham yang dimiliki investor ritel.
Jika perusahaan berkinerja sangat baik dan memutuskan membagikan laba, investor ritel akan mendapatkan aliran pendapatan pasif (passive income).
- Prinsip Dasar Investasi
Potensi keuntungan yang besar pada instrumen saham selalu berjalan berdampingan dengan risiko yang setara, seperti penurunan harga saham (capital loss) atau risiko likuidasi jika perusahaan bangkrut. Hal ini dikenal sebagai prinsip High Risk, High Return.
Oleh karena itu Investor perlu melakukan analisis fundamental sebelum memutuskan untuk menaruh modal pada suatu perusahaan. Analisis fundamental berfokus pada pemeriksaan kesehatan keuangan, manajemen, dan posisi pasar suatu perusahaan untuk menentukan apakah harga sahamnya saat ini mencerminkan nilai intrinsik (nilai nyata) perusahaan tersebut.
Bagi seorang investor yang ingin menyaring saham-saham sehat di BEI, pakar saham dan aplikasi kecerdasan buatan memberikan panduan langkah dasar serta indikator utama yang wajib diperiksa, sebagai berikut:
1. Pahami Model Bisnis Perusahaan
Langkah paling awal bukanlah melihat angka, melainkan logika bisnis. Invesrtor harus memahami bagaimana perusahaan tersebut menghasilkan uang, siapa target pasarnya, dan apakah produk atau jasanya masih akan dibutuhkan dalam 5 hingga 10 tahun ke depan. Pilihlah perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif (economic moat) yang kuat di industrinya.
2. Periksa Likuiditas dan Volatilitas Saham
Untuk investasi jangka panjang yang sehat, pastikan memilih saham dari perusahaan yang memiliki rekam jejak likuiditas transaksi yang baik di BEI (bukan saham “tidur” atau saham spekulatif yang mudah dimanipulasi).
3. Analisis Laporan Keuangan (Indikator Utama)
Investor tidak perlu menjadi akuntan untuk membaca laporan keuangan. Cukup fokus pada beberapa rasio keuangan utama berikut yang mencerminkan kesehatan perusahaan:
Profitabilitas (Rentabilitas):
- Net Profit Margin (NPM):
Mengukur seberapa efisien perusahaan menghasilkan laba bersih dari total pendapatannya. NPM yang stabil atau bertumbuh (idealnya di atas 10%) menandakan bisnis yang sehat.
- Return on Equity (ROE):
Rasio ini menunjukkan seberapa jago manajemen mengelola modal yang dititipkan oleh pemegang saham untuk menghasilkan laba. ROE yang tinggi (misalnya di atas 15%) secara konsisten menunjukkan manajemen yang bekerja dengan sangat efektif.
Kesehatan Utang (Solvabilitas):
- Debt to Equity Ratio (DER):
Rasio ini membandingkan total utang perusahaan dengan total modalnya sendiri. Perusahaan yang sehat biasanya memiliki DER di bawah 1 (atau utangnya lebih kecil dari modalnya). Namun, untuk sektor perbankan, batasan ini memiliki standar yang berbeda.
- Pertumbuhan (Growth):
Periksa pertumbuhan Pendapatan (Revenue) dan Laba Bersih (Net Income) dari tahun ke tahun (Year on Year / YoY). Perusahaan yang sehat harus menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten, bukan yang labanya naik-turun secara drastis tanpa alasan yang jelas.
4. Menilai Kewajaran Harga (Valuasi)
Setelah mengetahui bahwa perusahaannya sehat dan menguntungkan, langkah berikutnya adalah memastikan tidak membelinya di harga yang terlalu mahal (overvalued). Dua rasio valuasi yang paling sering digunakan adalah:
- Price to Earnings Ratio (PER): Membandingkan harga saham dengan laba per lembar saham (EPS). PER yang lebih rendah dari rata-rata industri atau rata-rata historisnya bisa menjadi indikasi awal bahwa saham tersebut sedang murah (undervalued).
- Price to Book Value (PBV): Membandingkan harga saham dengan nilai buku (aset bersih) perusahaan. PBV di bawah 1 biasanya dianggap murah, namun untuk saham blue-chip berkualitas tinggi, PBV sedikit di atas 1 atau 2 masih sering dianggap wajar jika pertumbuhan kinerjanya sangat kuat.
5. Konsistensi Pembagian Dividen
Perusahaan yang secara konsisten membagikan dividen setiap tahun menunjukkan dua hal penting: perusahaan tersebut benar-benar menghasilkan uang tunai (bukan sekadar “laba di atas kertas”) dan manajemennya memiliki kepedulian terhadap pemegang saham ritel.
Penutup
Satu diantara tujuan bergiat di bisnis saham adalah untuk mendapatkan tambahan uang bagi yang memerlukan, bukan sekadar melakukan analisis mendalam tetapi tidak melakukan traksaksi di pasar saham BEI. Adapaun analisis fundamental terhadap saham dan perusahaannya akan mengajarkan pada investor untuk memperlakukan saham sebagai sebuah bisnis nyata, bukan sekadar instrumen permainan harga.
Dengan menyaring saham berdasarkan model bisnis yang jelas, profitabilitas yang kuat (ROE & NPM tinggi), utang yang aman (DER rendah), serta harga beli yang masuk akal, investor dapat membangun portofolio investasi yang kokoh demi mencapai tujuan keuangan yang lebih baik lagi di masa depan. Selamat bergiat bersaham ria bagi yang memerlukan.
Penulis: Atik Bintoro
Pebisnis saham paruh waktu, tinggal di Rumpin Bogor, Jawa Barat – Indonesia.
Artikel ini disusun berdasarkan pengalaman berbisnis saham, dan atas bantuan AI.
