Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Membawa Pesan dari Dayak Kenyah
    Puisi

    Membawa Pesan dari Dayak Kenyah

    14 Juli 2019Updated:15 November 2019Tidak ada komentar3 Mins Read44 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Rekam jejak. Seringnya, dari sanalah puisi beranak-pinak dalam kepala seseorang. Jejak daksa atau spiritual kerap kali membawa seseorang ke dalam ruang imaji tanpa batas. Lalu, ketika berbicara tidak menjanjikan apa-apa, maka puisi selalu memberi ruang sendiri. Seperti bait-bait dalam syair milik Imam Budiman. Puisinya tidak mengikat, tapi membuat para pembaca terpikat. Salam Mbludus! (Redaksi)

    [iklan]

    Puisi-Puisi Imam Budiman
    Membawa Pesan  dari Dayak Kenyah

    kami terima kedatangan dikau dari berantah pulau tanpa nama, dari sebuah kapal rempah yang terdampar tanpa kemudi, di bentang tua papan Lamin1 kami. biar lekuk gemulai para penari, dalam mantra dan kaidah sakral tari-tari Gong,2 menyambut gelisah gemetar lututmu.

    selepas seluruh prosesi usai ditunaikan, blontang3 sangar penjaga kampung dan rumah limas kami mengintrogasimu. sebab para blontang menaruh curiga, kulit kami dan kulitmu beda warna.

    bolehkah kami bertanya,
    saudara datang, bermaksud apa?

    tanpa ada kalimat. tiada jawab. rupanya kau tak cakap berbahasa. hanya isyarat. kau hanya melafalkan semacam mantra yang tak pernah kami dengar sebelumnya –bahkan setelah kau diusir beramai-ramai dari kampung kami.
    —
    kami terima kedatangan siapa pun,
    kecuali para bajing kulit putih
    berupaya merebut-sikut
    tanah moyang kami.

    2018

    1 rumah adat Dayak Kenyah di Kalimantan Timur. Rumah berbentuk panggung setinggi 3m dari tanah dan dihuni oleh 25-30 kepala keluarga.
    Ujung atap rumah diberi hiasan kepala naga; simbol keangungan, budi luhur, dan kepahlawanan.
    2 rutin dipentaskan dalam upacara penyambutan terhadap tamu agung.
    3 patung khas Dayak Kenyah, dewa yang dipercayai sebagai penjaga rumah atau kampung.

    Ular Pencuri Daging

    seekor ular tengik, menggeliat pelan,
    mencuri daging berwarna pucat dari piringmu,
    lalu kabur melalui rimbun asap dapur.

    kau hanya sempat melihat ekornya sekilas,
    sebelum dugaanmu berubah menjadi umpatan.

    “makan malam sial tak berlauk,” kau mengutuk.
    butir-butir nasi itu kaulahap dengan bayang
    daging tercinta yang sebetulnya
    sudah setengah busuk.

    kau tak habis mengamuk, seusai kosong piringmu,
    kau lempar begitu saja ke dinding, penuh amarah.

    di sebuah liang gundukan tanah, ular pencuri itu pulang
    dengan riang; mengambil wudhu singkat dan sembahyang.

    2017

    Di Balik Kulit dan Belulang

    di seruas daun pala, seekor serangga berkepala puisi menulis
    semacam isyarat kata yang sulit dibaca jika dieja sekilas saja.

    isyarat itu, oleh para penafsir sebuah pagi, memiliki
    kemungkinan ditujukan kepada kekasih, sebelah
    sayapnya remuk dihantam oleh serdadu angin:
    —
    kau melahirkanku dan aku memeranakkanmu
    tubuhku terdiri dari tulang-belulangmu,
     
    tulang belulangmu terdiri dari padatan darahku
    kulitmu-kulitku bahan abadi lelayang waktu

    2016

    Masa Depan Dua Tubuh
     
    sejejak udara mengenang
    pelbagai macam wewangian
    remah cengkih dirembuk bertalu,
    juga harum pagar damar

    dihafalkannya wangi itu
    demi menyatu pada leluhur
    juga demi berlangsungnya
    sebuah ikatan sehidup-semati

    aku  meminangmu, sayang
    serumit persegi sarang lebah
    yang dirawat sekian waktu
    hingga padat membatu

    kita kerap bergerak pada alur
    pohon yang suka berubah
    demi perbincangan di beranda
    soal bilangan anak-cucu

    2016

    Imam Budiman, kelahiran Loa Bakung, Samarinda, Kalimantan Timur. Bergiat di Komunitas Sastra Rusabesi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kini mengabdikan diri di Madrasah Darus-Sunnah, Ciputat.

    Puisi dari Kalimantan Puisi Dayak puisi indonesia Puisi Melayu
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleTitik Balik
    Next Article Tatkala Roket Telah Menjadi Magnet

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Kolam Renang “Bukit Lumpang” Menjadi Destinasi Warga Lokal

    27 April 20268 Views

    Situs Ziarah KH. Abdul Hanan Babakan Ciwaringin Cirebon

    27 April 20265 Views

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202612 Views

    Wisata Waterpark Tiga Bintang Firdaus Indramayu

    24 April 20267 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (162)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.