Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Cerbung » Mbah Samin Ngoceh (6)
    Cerbung

    Mbah Samin Ngoceh (6)

    2 Februari 2022Tidak ada komentar3 Mins Read26 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Siapa berani berkata bahwa Soeharto tidak pernah bersalah?
    Siapa berani berkata bahwa Susilo Bambang Yudoyono tidak pernah bersalah?
    Siapa berani berkata bahwa Gus Dur, Megawati dan Habibie tidak pernah bersalah?
    Siapa berani berkata bahwa Mbah Samin tidak pernah bersalah?
    Semuanya pernah bersalah!
    Oleh karena hanya sekedar manusia biasa.

    ***

    Fulan berdiri memberi applause. Bertepuk tangan dengan hati terkagum-kagum. Surprise. Diam-diam ternyata Mbah Samin juga seorang deklamator jempolan.

    “Itu tadi puisi Mbah Samin, ya?”

    “Iya. Memangnya kenapa? Kamu nggak percaya kalau saya bisa nulis puisi?”

    Fulan tertawa melihat roman muka Mbah Samin yang sedikit tersinggung dengan pertanyaannya. Agaknya Mbah merasa diremehkan.

    “Percaya. Saya percaya kalau itu puisi Mbah. Apa sih yang Mbah Samin nggak bisa?”

    “Preet!” balas Mbah Samin lalu ngeloyor pergi.

    “Lho, Mbah Min mau kemana?”

    “Mau menghitung kesalahan!”

    Mbah Samin pun lenyap di keheningan malam.

    ***

    Menghitung kesalahan? pikir Fulan. Kesalahan koq dihitung-hitung. Aya aya wae si Mbah ini. Pasti dia lagi datang kumatnya.

    Beberapa hari kemudian, Mbah Samin datang menemui Fulan dengan membawa setumpuk buku yang mana setiap buku rata-rata cukup tebal.

    “Bantuin saya, dong,” katanya sambil meletakkan tumpukan buku di hadapan Fulan.

    “Bantu apa?”

    “Memeriksa dan menghitung kesalahan-kesalahan saya.”

    Fulan mengambil satu buku. Membuka dan membacanya lembar demi lembar.

    “Lho, koq?”

    “Kenapa, ada yang aneh?”

    “Iya. Bagaimana mungkin kesalahan Mbah Min koq bisa sama persis dengan kesalahan saya. Jangan-jangan ini hanya akal-akalan Mbah Min untuk menegur saya.”

    Mbah Samin tak menanggapi ucapan Fulan. Dia ngeloyor pergi entah ke mana. Beberapa saat kemudian sudah kembali lagi dengan membawa tumpukan buku yang lebih banyak lagi.

    “Segitu banyaknya itu semua buku berisi catatan kesalahan Mbah?”

    “Iya. Memangnya kenapa?”

    “Nggak apa-apa. Sekedar bertanya saja memangnya nggak boleh?”

    “Daripada bertanya tanpa guna, mendingan juga bantu saya.”

    “Menghitung kesalahan-kesalahan Mbah Min? Nggak mau, ah. Buang-buang waktu saja.”

    Mbah Samin melotot mau marah. Fulan pura-pura tak merasa.

    “Dari pada waktu habis terbuang untuk sekedar menghitung kesalahan, saya lebih memilih untuk memperbaiki kesalahan. Dan selebihnya adalah minta ampun kepada Tuhan Yang Maha Pengampun. Bukankah ampunan-Nya jauh lebih besar ketimbang buku-buku catatan kesalahan yang Mbah buat?”

    Mbah Samin sudah tak melotot lagi. Dengan wajah bersungut-sungut dia mengikat seluruh buku-buku catatan kesalahannya.

    “Mau dibawa kemana bukunya, Mbah?”

    “Nggak usah tanya. Pinjam korek apinya, cepet.”

    “Buat apa korek api?”

    “Nggak usah tanya.”

    Setelah Fulan memberikan korek api, Mbah Samin segera pergi sambil menenteng seikat buku-buku catatan kesalahannya. Fulan memandang kepergiannya dengan tersenyum. Kesalahan koq hanya dicatat. Ya diperbaiki, dong !

    ***

    Dapoer Sastra Tjisaoek, Oktober 2021.

    Ocehan sebelumnya (5) : https://mbludus.com/mbah-samin-ngoceh-5/

     

    cerita asal gobleg Mbah Samin ngoceh
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePoe Tanpa Huruf T
    Next Article Gali Inspirasi 2022, Safari Literasi

    Postingan Terkait

    Ban Ben Bun : Kisah Santri Uthun Meraih Impian (3)

    5 September 2022

    Ban Ben Bun : Kisah Santri Uthun Meraih Impian (2)

    19 Juni 2022

    Mbah Samin Ngoceh (5)

    23 November 2021
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 20268 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202688 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202541 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202545 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.