Puisi bisa menjadi ungkapan kehidupan sehari-hari yang selalu dijalani oeh setiap orang. Mereka, para penyair yang peka akan itu semua dapat meraciknya menjadi kalimat-kalimat yang hidup untuk dinikmati. Itulah mengapa puisi terasa multitafsir ketika dimaknai. Selamat Membaca. (Redaksi)

[iklan]

Nyamuk Dalam Otak

aku membaca nyamuk-nyamuk yang ada dalam otakmu
terdengar sinting
tapi bukan gila
sebab kepalanya yang kosong
perempuan putih kulitnya
gemuk, dan tak bisa kugambarkan lagi
tak mau menyatakan salah
kini aku ingin membencinya
dia sudah terdiam
namun  masih mencari celah
untuk bisa benar

hari sudah berubah sore
langit meminta kasih
teringat alam yang dulu didepan mata
beruntung sudah terlukis di jendela
tinggal membukanya
ternyata bersaudara
dengan nyamuk-nyamuk
yang menjaga otaknya

(Surabaya, 8 Desember 2019)

Pagi-Pagi

pagi-pagi gelap aku sudah keluar rumah
mencari suara di dinding masjid
langit memerah, bintang sendu, bulan
malu menatap gunung
langkah pemuda basah oleh embun
angkringan trotoar menggambar kata-kata munafik
hari ini bajunya lusuh
lupa disiram bunga

sebagai sejati kedua di kota orang
ia menulis pesan
di ubun-ubun mamak yang bersalju
cair kata melawan hati
rindu melotot untuk tetap sendiri
sampai bertemu arti yang dicari
ini sudah musim penghujam
jalanan sunyi sebab anak kecil
lebih suka tidur di warnet dari pada di kasur

pagiku menjadi bara
lalu berabu di kaki penghina
andai bisa terlahir dua kali
ku tak ingin tumbuh dewasa
biar bumi tak memikul banyak  kata

 (Surabaya, 3 Maret  2018)

Malam Minggu di Cafe

awalnya tak ada rencana
jalanan dihalangi para ibu-ibu
mungkin sedang tahlilan
bergema suara sholawat
dari sore
dan ia mengambil keputusan
untuk menyelamatkan rencana-rencana
yang sebenarnya tak ada

di cafe pinggir jalan
ceritanya menjadi terbagi
menjemput kiriman yang sudah tiga hari
tak diambil
dijanjikan untuk jadi ibadah

ya, untuk ibadah di malam minggu

menjauhi keramaian
yang pernah dijalani sekitar dua kilo jauhnya

aku temukan diriku di sana
kesunyian yang fana
ditangan yang juga pandai berbisik-bisik
dan aku menemukanmu di cafe
kau sendiri saja
tersenyum bahagia
“ayo, sesekali kita harus jadi tamu.”
aku menyapa juga dengan senyum
agar tidak sempit dunia kita

aku selalu melakukannya
sering juga ingin membunuhnya

ini malam minggu
bertemu kau di sini
untuk menyelamatkan sebuah rencana
yang belum pernah kurencanakan
di cafe orang

 (Surabaya, 7 Desember 2019)

Jangan Tanya Di mana Wajahku

jangan tanya dimana wajahku
aku pun sedang melukisnya
berusaha mengingatnya
sejak di curi bulan malam itu

kita di dunia maya
dunia yang penuh kebohongan
dan licik yang bertebaran
di hampir setiap dindingnya

jangan tanya di mana wajahku
aku sedang melipatnya
pada setiap baut puisiku
takkan kusalahkan jika kau terus  bertanya
sebab kau adalah aku
meski jawabnya telah lenyap

aku melihatnya tertawa di langit
kau diam saja bagai tembok
kita adalah mata masing-masing

 (Surabaya, 22 Juli 2019)

Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Kini Berdomisili di Surabaya, Jawa Timur.  Beberapa puisinya juga pernah dimuat di Buanakata, Majalah Simalaba, Medan Pos, Cakra Bangsa, Flores Sastra, Analisa, Radar Cirebon, Rakyat Sumbar, Bangka Pos, Radar Malang, Warta Lambar, Radar Mojokerto, Riau Pos, Fajar Makassar,  Kabar Madura, Palembang Ekspres, Jurnal Asia, Lampung Post, Nusantaranews, Berita Pagi, Takanta.id, Linikini.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *