Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Malam Minggu di Kafe
    Puisi

    Malam Minggu di Kafe

    8 Maret 2020Tidak ada komentar3 Mins Read42 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Puisi bisa menjadi ungkapan kehidupan sehari-hari yang selalu dijalani oeh setiap orang. Mereka, para penyair yang peka akan itu semua dapat meraciknya menjadi kalimat-kalimat yang hidup untuk dinikmati. Itulah mengapa puisi terasa multitafsir ketika dimaknai. Selamat Membaca. (Redaksi)

    [iklan]

    Nyamuk Dalam Otak

    aku membaca nyamuk-nyamuk yang ada dalam otakmu
    terdengar sinting
    tapi bukan gila
    sebab kepalanya yang kosong
    perempuan putih kulitnya
    gemuk, dan tak bisa kugambarkan lagi
    tak mau menyatakan salah
    kini aku ingin membencinya
    dia sudah terdiam
    namun  masih mencari celah
    untuk bisa benar

    hari sudah berubah sore
    langit meminta kasih
    teringat alam yang dulu didepan mata
    beruntung sudah terlukis di jendela
    tinggal membukanya
    ternyata bersaudara
    dengan nyamuk-nyamuk
    yang menjaga otaknya

    (Surabaya, 8 Desember 2019)

    Pagi-Pagi

    pagi-pagi gelap aku sudah keluar rumah
    mencari suara di dinding masjid
    langit memerah, bintang sendu, bulan
    malu menatap gunung
    langkah pemuda basah oleh embun
    angkringan trotoar menggambar kata-kata munafik
    hari ini bajunya lusuh
    lupa disiram bunga

    sebagai sejati kedua di kota orang
    ia menulis pesan
    di ubun-ubun mamak yang bersalju
    cair kata melawan hati
    rindu melotot untuk tetap sendiri
    sampai bertemu arti yang dicari
    ini sudah musim penghujam
    jalanan sunyi sebab anak kecil
    lebih suka tidur di warnet dari pada di kasur

    pagiku menjadi bara
    lalu berabu di kaki penghina
    andai bisa terlahir dua kali
    ku tak ingin tumbuh dewasa
    biar bumi tak memikul banyak  kata

     (Surabaya, 3 Maret  2018)

    Malam Minggu di Cafe

    awalnya tak ada rencana
    jalanan dihalangi para ibu-ibu
    mungkin sedang tahlilan
    bergema suara sholawat
    dari sore
    dan ia mengambil keputusan
    untuk menyelamatkan rencana-rencana
    yang sebenarnya tak ada

    di cafe pinggir jalan
    ceritanya menjadi terbagi
    menjemput kiriman yang sudah tiga hari
    tak diambil
    dijanjikan untuk jadi ibadah

    ya, untuk ibadah di malam minggu

    menjauhi keramaian
    yang pernah dijalani sekitar dua kilo jauhnya

    aku temukan diriku di sana
    kesunyian yang fana
    ditangan yang juga pandai berbisik-bisik
    dan aku menemukanmu di cafe
    kau sendiri saja
    tersenyum bahagia
    “ayo, sesekali kita harus jadi tamu.”
    aku menyapa juga dengan senyum
    agar tidak sempit dunia kita

    aku selalu melakukannya
    sering juga ingin membunuhnya

    ini malam minggu
    bertemu kau di sini
    untuk menyelamatkan sebuah rencana
    yang belum pernah kurencanakan
    di cafe orang

     (Surabaya, 7 Desember 2019)

    Jangan Tanya Di mana Wajahku

    jangan tanya dimana wajahku
    aku pun sedang melukisnya
    berusaha mengingatnya
    sejak di curi bulan malam itu

    kita di dunia maya
    dunia yang penuh kebohongan
    dan licik yang bertebaran
    di hampir setiap dindingnya

    jangan tanya di mana wajahku
    aku sedang melipatnya
    pada setiap baut puisiku
    takkan kusalahkan jika kau terus  bertanya
    sebab kau adalah aku
    meski jawabnya telah lenyap

    aku melihatnya tertawa di langit
    kau diam saja bagai tembok
    kita adalah mata masing-masing

     (Surabaya, 22 Juli 2019)

    Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Kini Berdomisili di Surabaya, Jawa Timur.  Beberapa puisinya juga pernah dimuat di Buanakata, Majalah Simalaba, Medan Pos, Cakra Bangsa, Flores Sastra, Analisa, Radar Cirebon, Rakyat Sumbar, Bangka Pos, Radar Malang, Warta Lambar, Radar Mojokerto, Riau Pos, Fajar Makassar,  Kabar Madura, Palembang Ekspres, Jurnal Asia, Lampung Post, Nusantaranews, Berita Pagi, Takanta.id, Linikini.

    penyair surabaya puisi narasi puisi penyair daerah puisi populer
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleGambar Anjing
    Next Article Tradisi Kenduri

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202611 Views

    Wisata Waterpark Tiga Bintang Firdaus Indramayu

    24 April 20266 Views

    Wisata Modern Pantai Kesambi

    24 April 20267 Views

    Pesona Kolam Renang Cikomboy

    24 April 202612 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (160)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.