Gambar Anjing
Aljas Sahni H
Suri suka menggambar, maka dari itu ia membeli buku gambar. Buku gambar baru yang masih kosong, tak ada gambar-gambar apa pun, semua putih dan bersih, kira-kira begitu harapan Suri. Sebab, kala ia sampai di rumah, membuka buku gambarnya yang baru, ia melihat gambar anjing di halaman pertama.
“Anjing!” umpat Suri geram. Ia merasa ditipu dan dihina. Ia merasa ditipu oleh penjaga toko yang bilang buku gambar yang ia beli masih putih dan bersih, dan ia merasa dihina setelah mengetahui buku gambar itu memiliki gambar dan gambarnya sungguh amat menghina. Gambar anjing dengan ekor buntung, perihal itu sudah cukup membuat urat-urat muka Suri menegang.
[iklan]
Berkali-kali ia menggosok-gosokkan penghapus ke gambar anjing terhina itu, tapi gambar anjing itu tak mau lenyap, meski sececah. Ah, kenapa bisa? tanyanya dalam hati, kenapa gambar anjing ini tak dapat dihapus dan tak dapat memudar? Padahal melihat gambar anjing itu, Suri dengan cepat mengetahui bahwa gambar itu dibuat dengan pensil.
Gambar anjing yang tak dapat dihapus dan terbuat dari pensil itu sungguh menghina Suri yang penggambar sejati. Amat menghina. Ia bahkan meludahi gambar itu berulang kali, namun gambar anjing tetap tak luntur. Ia telah merobek halaman buku gambar pertama, namun seketika gambar anjing itu berpindah ke halaman kedua. Ini tak bisa dibiarkan, katanya, ini sungguh menghinaku.
Tak kuasa lagi melenyapkan gambar anjing dengan menghapus, meludahi, dan menyobeknya, ia melakukan cara yang sudah terbesit dari awal ia melihat gambar anjing itu. Ia akan mengembalikan buku gambar itu ke toko dan meminta buku gambar yang baru. Ia sungguh-sungguh melakukan itu, berjalan tergopoh-gopoh untuk meminta perhitungan pada si pemilik toko.
“Penipu!” semprot Suri pada pemilik toko, sang pemilik toko malah menganga terheran-heran. “Tiga jam lalu aku ke toko ini, untuk membeli buku gambar kosong, putih, dan bersih.” Ia melempar buku gambar yang sudah renyuk dan kotor ke hadapan pemilik toko. “Tapi lihatlah, kamu malah memberikanku buku gambar dengan gambar anjing berekor buntung!”
Melihat kemarahan dan kata-kata kasar Suri yang meluap-luap, menjadikannya sebagai tontonan hangat hari ini. Para pembeli memandang ke arahnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah menumpuk di tempurung kepala. Orang-orang yang tadinya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tetiba berkeriapan di luar toko, untuk menyaksikan atau hanya sekadar ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi?
Begitu pula dengan aktor kedua dalam kehebohan tersebut, pemilik toko, tampak tak tahu menahu apa yang sedang terjadi. Tiga jam yang lalu Suri memang masih dalam ingatannya, bahwa ia membeli buku gambar, namun sekarang ia datang kembali dengan uring-uringan.
Pemilik toko menilik sungguh-sungguh buku gambar yang telah dihempaskan Suri, buku gambar itu renyuk dan kotor. “Mohon maaf, Tuan. Buku gambar ini akan saya ganti bila buku gambar ini masih bersih seperti tadi.”
“Anjing!” lagi-lagi Suri mengeluarkan seekor anjing dari mulutnya. “Kamu tahu kenapa buku gambar itu renyuk dan kotor tak bersih seperti tadi?”
Pemilik toko hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala.
“Karena ada gambar anjing di dalam buku gambar itu! Kamu tahu kenapa ada gambar anjing di dalam buku gambar itu?”
Pemilik toko hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala lagi.
“Mana aku tahu?! Makanya aku tanya padamu, kenapa ada gambar anjing di dalam buku gambar yang masih baru?”
Pemilik toko tak lagi menggeleng-gelengkan kepala, ia mengangkat kedua bahunya. Kata-kata kasar Suri nyaris membuat jantung pemilik toko copot, tapi untung saja tidak. Untuk kedamaian bersama, pemilik toko mengambil buku gambar itu, membuka halaman per halaman yang tersisa sedikit, sebab halaman-halaman lain telah disobek oleh Suri.
Jika iya ada gambar anjing di buku gambar itu, pemilik toko berniat akan mengganti dengan buku gambar yang lebih baru, meski ia tahu ini bukan salahnya. Namun sepasang mata pemilik toko tak mendapati gambar apa pun, ia hanya melihat sebuah bekas ludah. Sebenarnya ia merasa terhina dengan ludah itu, tapi ia tak mau memperpanjang masalah. “Mohon maaf, Tuan. Saya tak menemukan gambar apa pun di sini.”
“Bohong!” cela Suri. Kata-kata pemilik toko sungguh menghina dirinya. Dengan kata-kata itu berarti si pemilik toko telah menganggap dirinya sudah gila. “Kamu pikir aku buta? Ha! Mataku masih melihat dengan jelas, gambar anjing berekor buntung memenuhi buku gambar itu!”
“Maaf, Tuan. Kalau tak percaya, Tuan bisa lihat sendiri.”
Suri merampas buku gambar di tangan pemilik toko, ia melihat dengan saksama buku gambar itu, dan ya, masih ada gambar anjing berekor buntung, dan kini berjumlah puluhan. “Hey…, Bajingan! Lihat sendiri katamu, aku masih lihat dengan jelas ada gambar anjing di buku ini!” Ia juga memperlihatkan ke orang-orang, gambar anjing yang ia lihat. “Lihatlah, teman-teman. Bukankah ini gambar anjing? Anjing buntung!” tapi sayang, orang-orang tak mendapati gambar itu, mereka hanya melihat bekas ludah di buku gambar itu.
***
Akhir-akhir ini memang anjing-anjing kerap keluar dari mulut Suri. Anjing-anjing memang mengisi tempurung kepala Suri, hingga sewajarnya anjing-anjing itu dibuang dari mulut. Ia tak mau hidupnya terus-terusan begini, tapi ia juga sadar hiduplah yang mengantarkan ke situasi yang begini.
Anjing-anjing itu datang dari koran-koran yang ia baca tiap pagi. Anjing-anjing itu berloncatan dari koran-koran dan masuk ke dalam tempurung kepala Suri. Tiap malam, anjing-anjing itu menyalak berisik di tempurung kepalanya. Suri tak dapat memejamkan mata, anjing-anjing itu selain berisik juga mengusik.
Sebab itulah Suri kerap membuang beberapa ekor anjing melalui mulutnya, ia berharap sedikit demi sedikit anjing-anjing bisa lenyap dari tempurung kepalanya. Ia mengeluarkan seekor anjing dari mulutnya, kala ia sedang membaca koran. Koran-koran itu tak henti-henti memberitakan ketidakbecusan pemerintah dalam menangani negeri ini, dan bersamaan dengan itulah anjing-anjing lain menyelinap masuk ke dalam tempurung kepala Suri.
Suri tak dapat mengeluarkan anjing-anjing selain dari mulut. Anjing itu mulai keluar saat ia melihat orang-orang radikal yang ingin mengubah negeri ini dengan percekcokan mulut saja, mana bisa. Tatkala anjing sudah keluar dari mulut Suri, orang-orang itu juga membalas dengan cara serupa, mengeluarkan seekor anjing dari mulutnya. Sepertinya orang-orang itu memiliki masalah yang serupa dengan Suri, sama-sama dirasuki anjing-anjing.
Kian lama bukan makin sedikit, anjing-anjing kian banyak dan membiak. Kira-kira ada ratusan atau bahkan ribuan anjing dalam tempurung kepala Suri. Di musim kawin, anjing-anjing berkembang biak seenaknya saja, seolah tempurung kepala Suri adalah habitat para anjing. Dan itu semakin mengganggu tidur Suri, baik gonggongan anjing-anjing dalam tempurung kepalanya dan gonggongan anjing tetangga.
Ia pun mencari cara agar anjing-anjing dapat terusir tak hanya melalui mulut saja. Ia sudah membuktikan bahwa mulut tak lagi efisien membuang kawanan anjing, apalagi anjing-anjing sudah membeludak dalam tempurung kepala. Ia ingin mencoba mengusir anjing-anjing melalui jari jemarinya pula. Ia ingin membangkitkan hobi yang sudah lama tersisih. Ia akan kembali menggambar.
Maka dari itu ia membeli buku gambar yang masih baru, kosong, putih, dan bersih. Namun kenyataannya, sebelum ia menggambar anjing, anjing berekor buntung telah tergambar di buku gambar yang ia beli. Anjing itu bermunculan di buku gambar seolah menghentikan jemari Suri untuk menggambar anjing.
Ia sudah mencoba menghapus, meludahi, merobek, dan mengembalikan buku gambar dengan gambar anjing itu. Gambar anjing itu tampak abadi di buku gambar yang ia beli. Dan saat ia mengembalikan buku gambar itu ke toko karena ada gambar anjingnya, ia malah diusir dari toko dan dianggap gila. Ah, lama-lama aku gila benaran gara-gara anjing, pikirnya.
Entah ini hanya ilusi atau anjing-anjing itu memang sengaja mempermainkan Suri, tapi ia benar-benar melihat gambar anjing di buku gambar itu, dan orang-orang malah sebaliknya tak melihat gambar apa pun. Ya, ia yakin bahwa ia memang sedang dipermainkan oleh anjing-anjing itu. Sebentar lagi anjing-anjing itu akan membuatnya gila.
Bahkan sekarang ia melihat anjing-anjing di mana-mana. Ia mendengar gonggongan anjing dari segala penjuru angin. Ia melihat anjing-anjing berkeliaran di jalanan, baik sendirian, bersama kawanan anjing lain, atau bersama majikan. Ia juga melihat gambar anjing di tembok-tembok, di langit-langit, bahkan ia ke toilet pun banyak sekali coretan kata ‘anjing’.
Tak hanya gambar-gambar anjing, tulisan anjing, gonggongan anjing, atau anjing-anjing biasa yang berkeliaran, sekarang ia juga melihat manusia berwajah anjing.
Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura. Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak.
