Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Tradisi » Main Ular Naga
    Tradisi

    Main Ular Naga

    25 Mei 2020Updated:25 Mei 2020Tidak ada komentar4 Mins Read1,660 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Ular naga panjangnya bukan kepalang…
    menjalar-jalar selalu kian kemari
    umpan yang lezat itulah yang dicari
    ini dianya yang terbelakang…
    tangkep… tangkep… tangkep…

    Begitulah kira-kira syair lagu yang dinyanyikan oleh bocah-bocah yang berbaris meliak-liuk seperti ular sambil saling memegang pinggang, pundak atau bagian belakang baju teman di depannya. Anak-anak tersebut sedang asyik bermain Ular Naga, jenis permainan anak-anak yang kini sudah jarang lagi terlihat. Bahkan nyaris sudah punah.

    Ular Naga adalah jenis permainan anak-anak secara berkelompok yang biasa dimainkan anak-anak Jakarta (Betawi) di luar rumah di waktu menjelang sore dan malam hari. Tempat bermainnya bisa di tanah lapang atau halaman rumah yang agak luas. Akan lebih menarik apabila dimainkan ketika malam dalam keadaan terang bulan. Dibutuhkan pemain yang cukup banyak dalam permainan ular nagaini, kira-kira 5-10 anak, perempuan atau lelaki. Aturan mainnya adalah:

    [iklan]

    Pertama:
    Dua orang anak akan menyatukan kedua tangan di atas kepala membentuk sebuah terowongan dan menyanyikan lagu ular naga.

    Kedua:
    Saat lagu dinyanyikan pemain yang lain berbaris memanjang seperti ular, bergerak mengitari terowongan atau ‘gerbang’. Sambil menyanyikan lagu, barisan akan terus bergerak melingkar kian kemari, sebagai Ular Naga yang berjalan-jalan mengitari ‘terowongan’ atau ‘gerbang’ yang berdiri di tengah-tengah halaman. Pada saat-saat tertentu sesuai dengan lagu, Ular Naga akan berjalan melewati (memasuki) ‘gerbang’ atau ‘terowongan’. Pada saat terakhir, ketika pas lagu habis, sampai pada bait: “…tangkep, tangkep… tangkep!”. Bocah yang berbaris paling belakang akan ‘ditangkap’ oleh ‘gerbang’. Ular naga terus berjalan sembari menyanyi. Ketika kemudian barisan ular akan memasuki terowongan kembali, Ular naga berhenti di depan terowongan. Induk naga (bocah paling depan pada barisan naga) akan berdialog dan bantah-bantahan dengan kedua anak yang menjadi ‘gerbang’ atau ‘terowongan’ mengenai anak/bocah yang ditangkap. Seringkali dialog berlangsung seru dan kocak, karena anak-anak yang di belakang induk naga juga ikutan berbantah-bantahan. Sampai akhirnya, bocah yang tertangkap itu disuruh memilih di antara dua pilihan. Berdasarkan pilihannya ia lalu ditempatkan di belakang salah satu ‘gerbang’. ‘Gerbang’ yang terdiri dari dua orang anak itu diam-diam sudah memiliki kode pilihan untuk dirinya masing-masing.

    Berikut adalah contoh dialog dan bantah-bantahan antara ‘Induk naga’ (I) dengan ‘Gerbang’ (G).

    I : “Mengapa anak saya ditangkap?”
    G1: “Karena dia sudah mencuri ketimun!”
    I : “Lho, yang suka mencuri ketimun itu kan namanya Kancil. Bukan anak saya.”
    G2: “Anak ibu namanya siapa?”
    I : “Nggak tau, saya lupa.”
    G1: “Kamu ini ibu apaan sih sama anak sendiri lupa namanya…!”
    I : “Saya Ibunya naga bukan ibu anak ini.”
    Bersama: “Huuu….!!”
    G2: “Yaudah sekarang anak ibu harus masuk penjara… ”
    I : “Tapi….,” dan seterusnya.

    Sampai akhirnya si induk menyerah dalam perbantahan. Kemudian, untuk meyakinkan kokohnya ‘penjara’ yang dihadapinya, si induk biasanya menanyakan:

    (Sambil menepuk/menunjuk salah satu lengan si ‘gerbang’)

    I : “Ini pintu apa?”
    G : “Pintu besi!”
    I : “Yang ini ?” (menepuk tangan yang lain)
    G : “Pintu api!”
    I : “Ini ?” (menunjuk tangan yang lain lagi)
    G : “Pintu Air!”
    I : “Kalau yang ini?” (menunjuk tangan yang terakhir)
    G : “Pintu Angin”

    Induk Naga putus asa, tak yakin bahwa pintu ‘penjara’ bisa ditembus. Si Induk kemudian bertanya kepada anaknya yang tertangkap (pelan atau berbisik):

    I : “Kau mau pilih ‘Api’ atau ‘Air’ ?”

    A : “Air.”

    Setelah menentukan pilihan ‘Air’, anak yang malang itu ditempatkan di belakang salah satu “gerbang”, yang digelari ‘AIR’ (disepakati secara diam-diam oleh 2 pemain yang jadi ‘Gerbang’ atau ‘Terowongan’).

    Ketiga:
    Selanjutnya, permainan dimulai kembali. Nyanyian terdengar lagi, Ular Naga kembali bergerak dan menerobos gerbang, lalu ada lagi seorang anak yang ditangkap. Perbantahan lagi.

    Hal yang demikian itu berlangsung terus, hingga ‘Induk Naga’ akan kehabisan anak dan permainan selesai dengan sendirinya. Atau, anak-anak bubar karena ada pemain yang dipanggil pulang oleh orang tuanya karena sudah larut malam.

    Permainan Ular Naga ini sungguh sangat bermanfaat bagi kecerdasan anak-anak. Selain mendapatkan kegembiraan karena bisa bernyanyi dan tertawa bersama, anak-anak juga belajar bersosialisasi pada sesama, belajar patuh pada aturan (permainan) dan saling bahu membahu agar satu sama lain tidak terlepas dan ketinggalan gerak meliuk-liuk seperti ular naga. Dalam permainan ini anak-naka juga belajar mengatur emosinya untuk tetap berada dalam kekompakan. (AY)

    permainan anak zaman dulu permainan anak-anak Tradisi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleMinta Maaf
    Next Article Jangan-Jangan Corona itu Antivirus?

    Postingan Terkait

    Tradisi Potong Jari, Papua

    17 Mei 2024

    Tradisi dan Riwayat Ketupat

    25 April 2024

    Perayaan Cap Go Meh

    7 Maret 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 20252 Views

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 202514 Views

    Ketika Bahasa Tegal Hampir Padam, Sastra Tegalan Menyalakan Api

    2 Desember 202510 Views

    Jika Cinta Datang: Tunduk dan Menyerahlah

    1 Desember 202510 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (158)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (77)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (187)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (22)
    • Sosial Politik (29)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.