Akhir pekan yang begitu menyebalkan! Begitu mungkin yang dirasakan Pasha. Seharian penuh ia berkeliling kompleks untuk mencari kucing Persia berwarna putih. Seketika itu, ia baru teringat saran temannya untuk tidak memberikan benda bernyawa sebagai hadiah ulang tahun anaknya yang baru berusia tiga tahun. Itu akan menjadi bencana.

Pasha belum makan siang. Namun, lebih baik lapar seperti ini daripada harus mendengar tangis anak perempuannya yang bernama Sendu. Dari pagi, Sendu tak henti-hentinya menangis. Disebutnya satu nama, “Miki! Di mana kamu!” Jerit yang sangat pilu dan seperti ada sedikit rasa penyesalan. Namun, apa yang bisa dirasakan anak usia tiga tahun? Mereka hanya bisa merengek dan meminta tanpa mengenal waktu. Pasha jenuh akan itu. Bagaimanapun, ia selalu berusaha untuk menjadi ayah yang baik selepas kepergian istrinya satu tahun yang lalu.

Beruntung, Pasha masih memiliki seorang ibu yang sangat menyayangi cucunya itu. Ketika Pasha bekerja, Sendu berdua saja dengan neneknya di rumah yang berjarak tak jauh dari rumah Pasha.

Cuaca sangat terik akhir-akhir ini. Pasha kelelahan. Ia teringat akan perkataan temannya.

“Menurutku, hewan peliharaan tak cocok untuk anak kecil,” ucap temannya ketika tak sengaja bertemu dengan Pasha di pet shop.¬† Ia sedang memilih hewan apa yang cocok untuk menemani anaknya.

“Lantas apa? Boneka, masak-masakan, atau apa? Sendu sudah memiliki semuanya, cuma satu yang belum, hewan peliharaan,” timpal Pasha.

“Dan juga seorang ibu. Kapan kau menikah lagi? Kuyakin Sendu sangat butuh seorang ibu.”

Pasha bergeming, mengedarkan pandangan seolah acuh dengan ucapan temannya yang terdengar memang sangat masuk akal, tapi tak semudah itu mencari tambatan hati yang baru. Mencari seorang ibu yang sayang kepada anaknya barangkali butuh waktu yang lama atau mungkin ia tak akan pernah menemukannya. Tidak ada yang bisa menggantikan hangat peluk istrinya. Lantas terbayang bagaimana perlakuan ibu tiri di filem-filem sinetron yang kerap ditonton ibunya. Mengerikan. Belum terpikirkan untuk hal itu, toh, ia bisa mengurus Sendu dengan baik.

“Tapi kalau kau tetap ingin memberikan hadiah hewan peliharaan, kupikir kucing Persia berwarna putih itu bagus.”

Kucing Persia putih yang sedang bermalas-malasan di kandang. Sesekali ia mengibas-ngibaskan ekornya yang panjang dan berbulu lebat. Ia mendengkur dengan tidur yang tak lelap dan tubuh melingkar membentuk huruf O.

“Bulunya sangat halus. Ini kucing terindah yang pernah kulihat.”

“Pasti mahal, ya.”

Jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitulah yang Pasha rasakan ketika melihat kucing Persia berbulu putih itu.

“Aku mau yang ini.”

“Oh, lihat! Dia jantan. Kukira betina. Aku tertipu dengan penampilannya yang cantik.”

Pasha pulang dengan bangga. Ia yakin Sendu sangat senang. Betul, Sendu begitu riang. Hingga ia tak ingin lepas dari pelukan kucing Persia yang diberi nama Miki itu. Sendu tak henti-hentinya menggoda Miki untuk bermain, meskipun ia tak mau dan lebih memilih tidur sepanjang hari.

“Ayolah kucing pemalas!”

Sendu menarik ekornya dengan bringas. Namun, Miki punya cakar yang menahannya dari guncangan itu dengan mengaitkan cakar-cakar tajam di atas karpet. Bekas cakaran yang kemudian ada di mana-mana, di sofa, sudut lemari, kasur, dan gorden. Rumah jadi berantakan. Pasha jadi tahu mengapa temannya menyarankan untuk tidak memberikan hewan peliharaan. Lebih dari itu, kucing Persia yang gemuk dan berwarna putih dengan ekor lebat itu kemudian jadi berwarna-warni. Sendu mewarnainya dengan lipstick yang diambil dari kamar neneknya. Kemudian pipi dengan kumis panjang berubah warna jadi hitam, kelopak warna jadi berwarna biru tua yang berantakan. Sendu bangga dengan itu. Barangkali ia merasa seperti seorang perias wajah profesional.

Setelah itu, Sendu menyeret Miki lagi ke teras rumah, menarik dan menggendongnya dengan langkah terhuyung sebab Miki terlampau berat. Di teras itu, ada meja kecil dan mainan masak-masakan.

“Waktunya minum teh,” ujar Sendu sementara Miki dengan raut wajah yang ngantuk tak berupaya untuk lepas dari pelukan Sendu. Jika ia jadi manusia barangkali Miki telah mengumpatnya dengan sumpah serapah, tetapi Miki diam, hanya diam dengan pasrah menerima secangkir kecil teh yang kosong dan berpura-pura menyecapnya dengan lenguhan panjang seolah-olah ia menikmatinya.

“Bagaimana? Enak, kan?” Sendu pun menyecap cangkir tehnya sendiri dengan suara ‘ah’ yang panjang. Lalu, ia merasakan matahari sore yang silau dan hangat.

“Ah, sudah sore. Waktunya mandi.”

Mandi? Oh, tidak! Kucing benci dengan air, tetapi mungkin tidak. Kucing peliharaan biasanya patuh terhadap tuannya. Sama halnya dengan Miki yang diam pasrah ketika Sendu menariknya dari teras menuju kamar mandi.

“Ayolah! Waktunya mandi,” bujuknya setengah memaksa. “Ugh! Kau berat sekali.”

Sejurus kemudian, Miki basah kuyub diguyur air. Ia berontak, tapi percuma. Tangan Sendu sigap mencengkeram badan Miki. “Ayolah, mandi yang bersih.”

Melihat kejadian itu, Nenek menyuruh Pasha untuk membeli sebuah kandang, tetapi pagi itu, Miki tidak ada di kandangnya. Pintu kandang berjeruji besi terbuka lebar. Pasha lupa menguncinya. Kini ia yang harus berpayah-payah mencari kucing Persia itu entah di mana, seperti mencari jarum di atas tumpukan jerami, sukar sekali tanpa adanya petunjuk.

Satu-dua rumah ia ketuk untuk menanyakan, “Apakah kau melihat kucing Persia berwarna putih dengan ekor lebat di sekitar sini?” Lalu, mereka menjawab tidak, tidak ada kucing di sini.

Di lapangan tidak ada, di jalan menuju kantornya, di semak-semak, dan di lapak-lapak penjual makanan pun tidak ada. Miki tidak pernah kelaparan dan kehausan. Ia tidak mungkin mencari makanan sisa di sini. Itu akan merusak bulunya. Pasha selalu memberikan Miki makanan terbaik dari supermarket. Lalu, di mana kini berada? Harus ke mana lagi Pasha mencari? Sejenak ia berpikir biarlah, barangkali Miki tengah mencari kucing betina untuk meluapkan birahinya. Namun, Sendu masih menangis. Ia merasa sangat kehilangan. Atau barangkali Miki pergi gara-gara perlakuan Sendu?

Matahari mulai turun hingga suasana jadi sepi dan remang. Pasha memutuskan untuk duduk di bangku kayu di bawah pohon kersen. Ada sinar emas di langit, pertanda senja akan jadi malam sementara ia belum menemukan Miki. Belum lagi masalah pekerjaan yang menumpuk. Berbagai laporan yang harus segera ia setor ke atasan belum selesai digarap. Benar-benar melelahkan.

Lampu-lampu rumah mulai dinyalakan. Jalanan perlahan terang. Tiang-tiang lampu  yang piatu nampak memancarkan keindahan, terang dan redup seperti cahaya kunang-kunang di padang ilalang. Saat langit seutuhnya tertutup kelam, di bawah salah satu tiang lampu, ada seorang anak laki-laki dengan baju dan celana pendek berwarna putih. Pasha mendekat.

“Nak!” Anak itu menoleh.

“Apa kau melihat kucing berwarna putih dengan ekor lebat di sekitar sini?”

Anak itu bengong sesaat. Ia tak acuh dan malah nampak sibuk mencari sesuatu.

“Nak!”

“Tidak, aku tidak melihatnya,” jawabnya sekenanya.

“Oh, baiklah. Jika kau melihatnya, tolong kabarkan padaku, ya. Rumahku di ujung sana. Nomor 25.”

Anak itu termangu sesaat sementara Pasha berpaling dan memilih untuk mengakhiri pencariannya hari itu.

“Anak tak tau sopan santun!” rutuk Pasha.

“Hey, tunggu!” Anak itu memekik dari jauh, sontak menghentikan langkah Pasha yang enggan berbalik arah.

“Apa kau benar-benar menyayangi kucingmu?”

“Mmm, ya, ya, tentu. Kau pikir untuk apa aku mencarinya? Tapi anakku, Sendu, ia yang sangat menyayanginya. Dia menangis sepanjang hari.” Pasha melanjutkan langkahnya.

“Apa kau tak pernah berpikir, mengapa kucingmu kabur dari rumah?”

“Entahlah. Padahal, masalah makanan tak pernah kurang. Sendu juga merawatnya dengan baik.”

“Apa kau yakin?”

“Tentu saja. Dia anak yang baik.”

“Mmm….”

“Tapi ya begitulah kucing. Barangkali ia butuh udara segar atau sedang mencari betina untuk kencan. Ngomong-ngomong dia kucing jantan.”

Pembicaraan yang kosong. Sebelum malam benar-benar larut, Pasha harus segera pulang meskipun Miki belum ditemukan. Setidaknya ia tak melewatkan waktu makan malam bersama Sendu. Jika memang Miki hilang, entah mati ditabrak mobil, masuk got atau gorong-gorong, ia masih bisa membeli kucing Persia yang baru, yang lebih bagus dan penurut dan tak suka kabur dari rumah. Iya, lah, begitu saja. Ia tak ingin menyusahkan diri.

“Oke, lah, Nak. Jangan lupa hubungi jika kau menemukan kucing itu.”

Pasha berlalu, dengan pasti langkahnya pelan-pelan menjauh. Bayangannya ditelan kegelapan.

“Titip salam buat anakmu, Pak! Katakan padanya, kucingnya pasti pulang. Ia akan pulang, tapi tolong perlakukan ia dengan baik! Kucing juga punya perasaan!” pekik anak itu dengan nada yang sangat meyakinkan seolah tahu betul bahwa Miki akan pulang. Pasha hanya mengacungkan jempol dengan malas.

Di bawah tiang lampu yang sepi, anak itu duduk bersimpuh. Bukan, bukan duduk. Ternyata memang tubuhnya menyusut menjadi kecil, mengecil, dan terus mengecil, hingga menyerupai bola kapas yang lembut. Dua bola matanya memancarkan kilat cahaya yang terang. Sejurus kemudian, enam helai kumis putih yang berjajar dalam dua shaf mencuat di samping sisi kanan-kiri hidungnya yang lembap dan ekornya tiba-tiba timbul seperti kecambah yang panjang menjuntai. Bulu ekornya amat rimbun seperti semak-semak. Di jari tangan dan kakinya mendadak tumbuh cakar yang ia gunakan untuk menggaruk telinganya. Lalu, ia jilat punggung tangan dan kakinya seperti biasanya ketika ia merasa tubuhnya kotor dan tidak nyaman.

“Meow!”

Ia siap berjalan, melenggang penuh percaya diri menuju rumah. Sendu telah menunggu.[]

Tanggamus, 15 Maret 2022

Penulis bernama Firman Fadilah, tinggal di Lampung.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *