Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Sosialita » Menelusuri Jejak Sejarah di Keraton Kasepuhan Cirebon
    Sosialita

    Menelusuri Jejak Sejarah di Keraton Kasepuhan Cirebon

    7 Juni 2026Tidak ada komentar4 Mins Read11 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Siapa sih yang tidak kenal Cirebon? Pasti kita semua ingin merasakan suasana kota Cirebon.

    Cirebon pada awalnya merupakan bagian dari daerah kekuasaan kerajaan pajajaran. Perubahan status Cirebon dimulai ketika Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam di Jawa Barat dan menjadi pemimpin di Cirebon. Pada safar 887 Hijrah atau 2 April 1482, Cirebon pada akhirnya menjadi kerajaan Islam yang berdaulat penuh karena Sunan gunung Jati menghentikan pemberian upeti kepada kerajaan Pajajaran.

    Cirebon berdiri megah di jantung Kota Cirebon, Keraton Kasepuhan bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah saksi bisu kejayaan Kesultanan Islam di Jawa Barat sekaligus simbol akulturasi budaya yang masih terjaga hingga hari ini. Salah satu kemegahannya adalah Arsitektur dan Akulturasi Budaya.

    Keraton Kasepuhan dibangun oleh Pangeran Mas Zainul Arifin pada tahun 1529. Saat pertama kali melangkah masuk, pengunjung akan disambut oleh tembok bata merah ikonik yang mengingatkan kita pada gaya arsitektur Majapahit.

    Uniknya, keraton ini tidak hanya mengusung gaya Islam. Di setiap sudutnya, kita bisa melihat sentuhan budaya Tiongkok, Eropa, dan Hindu. Keramik-keramik asli Belanda dan Tiongkok tertempel rapi di dinding bangunan utama (Mande), menciptakan pemandangan yang eksotis dan penuh filosofi.

    Kemegahan yang kedua ada Museum Pusaka atau Rumah bagi Benda Keramat. Tepat di area keraton, terdapat Museum Pusaka Keraton Kasepuhan. Museum ini telah direnovasi menjadi lebih modern, sehingga pengunjung merasa nyaman saat mempelajari sejarah. Banyak sekali barang barang peninggalan sejarah yang terdapat didalamnya.

    Salah satu koleksi unggulan di museum ini antara lain:

    1. Kereta Singa Barong: Kereta kencana legendaris buatan tahun 1549 yang desainnya merupakan gabungan dari singa (budaya Islam/Timur Tengah), gajah (budaya Hindu/India), dan naga (budaya Tiongkok).
    2. Gamelan Sekaten: Perangkat musik yang hanya dibunyikan pada hari-hari besar Islam.
    3. Senjata Tradisional: Berbagai jenis keris, tombak, dan zirah perang peninggalan para sultan.

    Yang lebih menarik laginya adalah Mesuem Pusaka Keraton kasepuhan ini diresmikan oleh Presiden republik Indonesia kita yang ke 7 yaitu Bapak Joko Widodo pada tanggal Cirebon, 18 September 2017.

    Selanjutnya kita akan melihat Tata Ruang dan Area Keraton. Keraton Kasepuhan memiliki pembagian wilayah yang sangat teratur:

    1. Siti Inggil: Area terbuka yang digunakan sultan untuk melihat latihan prajurit atau memberikan pengarahan.
    2. Bangsal Utama: Tempat sultan menerima tamu agung dan melangsungkan upacara adat.
    3. Keputren: Area tempat tinggal bagi para putri keraton.

    Setiap bangunan memiliki filosofi tersendiri tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta. Tapi saya hanya ada foto Keputren atau area tempat tinggal para putri keraton, walau hanya ada foto ini semoga tidak mengurangi rasa penasaran teman-teman semua untuk menggali informasi tentang sejarah.

    Hingga saat ini, Keraton Kasepuhan masih aktif menyelenggarakan upacara adat. Salah satu yang paling dinanti adalah Panjang Jimat saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ribuan warga dari berbagai daerah biasanya berkumpul untuk mendapatkan berkah dari tradisi ini.

    Pihak keraton berkomitmen agar sejarah tidak hanya menjadi pajangan, tapi tetap relevan bagi generasi muda (Gen Z dan Milenial) melalui pemanfaatan museum yang edukatif.

    Foto ini menunjukan suasana Museum Pusaka yang modern, tertata rapi dan juga disimpan dengan baik.

    Yang terkhir adalah Informasi Tiket dan Jam Operasional

    Bagi Anda yang berencana berkunjung, berikut adalah detail tarif masuk terbaru :

    Kategori Pengunjung Harga Tiket Keraton Harga Tiket Museum Pusaka
    Umum / Dewasa Rp 20.000 Rp 25.000
    Pelajar / Mahasiswa Rp 15.000 Rp 15.000
    Wisatawan Asing Rp 50.000 Rp 50.000

    Jam Operasional : 08.00 – 18.00 WIB (Setiap Hari).

    Tips dari saya sangat disarankan menggunakan jasa pemandu wisata (guide) resmi di lokasi agar mendapatkan penjelasan sejarah yang lebih mendalam.

    Lebih detailnya lagi lihat foto dibawah ini:

    Mengunjungi Keraton Kasepuhan bukan sekadar berwisata, melainkan perjalanan spiritual dan sejarah. Dengan harga tiket yang sangat terjangkau, kita bisa ikut berkontribusi dalam menjaga warisan leluhur bangsa agar tetap lestari. Semoga teman teman semua bisa datang dan melihat sendiri secara langsung ke Keraton Kasepuhan lokasi tempatnya ada di Lemahwungku Kota Cirebon. (Vivi/7/6/26).

    Kasepuhan Cirebon Keraton Cirebon sunan gunung jati
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleKetika Tradisi Menjadi Tekanan Sosial dalam Novel Siti Nurbaya

    Postingan Terkait

    Bahasa Toxic Jadi Trend, Keren atau Ngerusak?

    4 Juni 2026

    Parenting dan Berhala Performa: Menolak Menjadi Orang Tua “Katalog”

    4 Juni 2026

    Revolusi Kue Modern di Era Digital: dari Dapur Rumahan Menjadi Industri Kreatif Bernilai Jutaan

    18 Mei 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menelusuri Jejak Sejarah di Keraton Kasepuhan Cirebon

    7 Juni 202611 Views

    Ketika Tradisi Menjadi Tekanan Sosial dalam Novel Siti Nurbaya

    5 Juni 202621 Views

    Bahasa Toxic Jadi Trend, Keren atau Ngerusak?

    4 Juni 20265 Views

    Parenting dan Berhala Performa: Menolak Menjadi Orang Tua “Katalog”

    4 Juni 202615 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (89)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (81)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (170)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.