Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Hongcolomonyong
    Puisi

    Hongcolomonyong

    21 Juni 2020Updated:21 Juni 2020Tidak ada komentar4 Mins Read13 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Ada tiga unsur yang paling mendasar dalam punilasan sebuah puisi, yaitu: pilihan kata, bunyi, dan estetika. Ketiga unsur inilah yang kemudian menjadikan puisi sebagai Bahasa Rasa yang punya Rasa Bahasa. Nah seperti apa kiranya Rasa Bahasa dalam Bahasa Rasa itu. Silahkan menikmatinya dalam serangkaian judul puisi berikut ini. (Redaksi).

    [iklan]

    HONGCOLOMONYONG
    Hongcolomonyong pyekotok plonyot plonyot
    miyongmiyong konyolomunyeng munyeng
    clekinut mlenut-mlenut
    Plekunther
    Pret
    para kampret merepet dan hidup semakin bapet
    mulut-mulut membungkam, terbungkam dan dibungkam
    mata-mata memejam, terpejam dan dipejam
    telinga-telinga menuli, tertuli dan ditulikan

    nyolongnyo nyolongnyo. nyo nyo
    plekutuk kepruk kepruk
    tungplak tungpluk grayah grayah
    klepak klepok blegedhug bledher. plekunther. slup

    Maka ketika kaki melangkah, lihatlah apa terjadi
    jlegk… jlegh… regudhug regudhug istana mimpiku ambrug
    warakadah saoblah-oblah negara bubrah tatanannya

    Hancur moralnya gosong nuraninya
    ya siraja katrok penguasanya
    siasia tumpah suci darah para pahlawan
    siasia banting tulang peraskeringat siang malam
    siasia bicara
    siasia teriak
    siasia menangis
    siasia segala upaya
    siasia sajakku
    hongcolomonyong
    Preett!!!

    *

    Tjisaoek, mei 2011

     

    SUNGGUH BODOH ORANG PINTAR DI NEGERI INI
    :memo buat presiden

    Bermula dari sebuah peristiwa sederhana
    segenggam dua genggam tanah
    dan sejimpit tahi ayam,
    saya masukkan ke dalam kantong plastic warna hitam
    di atasnya saya taruh sebiji benih
    seminggu kemudian tumbuh sepohon tomat
    dua bulan kemudian
    buah tomat bergelantungan di setiap dahan

    Amboi, betapa subur tanahku
    seandainya satu desa menanam tomat
    seandainya satu kabupaten tidak hanya menanam tomat
    atau negeri ini serius tanam sayur, padi, palawija, dan buah-buahan
    rasanya tak harus kita bergantung pada amerika, eropa,
    apalagi asia.

    Padahal tak hanya tomat bisa tumbuh di bumi ini
    padahal tanah kita berhektar-hektar
    padahal banyak orang pintar di negeri ini
    atau kita memang bodoh atau malas
    Sungguh, pak presiden, ini cerita bukan rekayasa
    juga bukan upaya mencuri hati agar bapak berkenan
    mendengarkan suara hati nurani kami

    Silakan buktikan
    silakan bapak tanam sepohon tomat atau cabe
    di kebun belakang istana
    jika nanti tak terbukti ucapan saya
    itu berarti istana sudah terkontaminasi pupuk impor

    Tjisaoek, 31.08.15
    orang bodoh yang tidak malas
    abah yoyok

    ADALAH SEBUAH NEGERI

    adalah sebuah negeri
    dimana rakyatnya tak bisa lagi menapak di bumi
    hidup dalam halusinasi karena mimpi-mimpi
    telah habis dikorupsi

    adalah sebuah negeri
    dimana puisi menjadi pelangi
    yang mengajarkan kepada kita
    bagaimana membangun imaji menjadi jalan keluar
    dari segala penyakit dan lapar

    adalah sebuah negeri
    dimana keindahan langitnya menjadi hiburan
    menjadi obat penawar dendam dan sakit hati

    adalah sebuah negeri
    dimana harapan hanyalah segumpal awan
    yang tergantung pada angina dan cahaya matahari

    Negeri Awan, begitulah namanya
    bukan negerimu juga bukan negeriku
    adalah negeri dimana kita berseteru
    ragu-ragu
    dan bersatu

    ***

    Tjisaoek, 8 januari 2016

    PESUGIHAN DAJAL NUSANTARA

    Wangi kembang sebarkan bau melati
    Badut-badut menari
    Sorong kanan sorong ke kiri
    Comot sana comot ke mari

    O, negeriku yang gemah ripah loh jinawi
    Negeri surga, ya surganya para pencuri
    Barang siapa tak pandai mencuri
    Ia bisa mati berdiri

    O, setan segala setan
    Yang sembunyi di gelap kelam hati
    Yang menguasai jagat kesesatan
    Yang mencabik-cabik wajah ibu pertiwi
    Datanglah kalian
    Masuklah. Menyatu dalam jiwa ragaku.

    Heng wilahong
    manjing sira
    manjing marang hawa nafsuku

    Ya hu cak…
    Ya hu cak….

    bim salabim abra kadabra
    jadilah aku Dajal Nusantara

    Seibu topeng melapisi wajahku
    Seribu jurus tipudaya melekat di lidahku
    Seribu kamera memancar di mataku
    Tanganku, tangan seribu pencuri

    Waspadalah Indonesia!

    ***

    Dapoer Sastra Tjisaoek, 2012

    KUMANTRAKAN MANTRAKU

    atas nama kepedihan jelata rakyat di gelap kelam hati langit negeri ini. atas nama perih dukalara luka ibu bumi, ya ibuku si ibu pertiwi, kumantrakan mantraku di lidah sembilu katakata. Kumantrakan mantraku di dinding busuk beku hati para tiran, di meja-meja para penguasa, di bunga-bunga mimpi mereka para durjana

    wahai air mata darah
    menggelombang badailah
    luluhlantakkan segala niat keji para mereka
    membaralah wahai api kesedihan
    bumihanguskan setiap nyala nafsu serakah paling jahiliyah
    siji longkah kedele mampang ujung gunung seriwit kutil
    dempak kisut
    .
    Fuiih…!

    Duh engkau, tumpah darahku
    rekah lah rekah menggempabumi
    rubuh rebahkan menara-menara tipu daya
    bertiuplah angina semau-maumu
    jadlah putting paling beliung
    di perut para durjana yang menggelembung busung

    siji longkah kedele mampang ujung gunung seriwit kutil
    dempak kisut
    .
    Fuiih…!

    qulhuku qulhu dergabaliq. Larapati diwolak-walik
    allohuma sato berasa mati
    sato marah sato mati, hantu marah hantu mati
    syaiton marah syaiton mati, iblis marah iblis mati
    jalma marah jalma mati

    sapa sira sing khianat
    marang amanat penderitaan rakyat
    dilit maning bakalan modar
    Mo Dar
    DAR
    !

    Tjiasoek, 2011

     

    Abah Yoyok, seorang penyair dari Banten. Penulis yang dikenal dengan puisi-puisi asal gobleg adalah marbot dari komunitas dapoer sastra tjisaoek.

    Komunitas penyair indonesia Puisi asal gobleg Puisi Kritik Sosial puisi satire
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleKota Tikus
    Next Article Teh Talua ; Sajian Teh Telur Berlapis-lapis Anti Amis

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Puisi-Puisi Riki Utomo

    21 September 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Keliling Dunia Hanya di Majalengka

    4 April 202652 Views

    Puisi dan Cerpen Terpilih mbludus.com Tahun 2026

    29 Maret 202687 Views

    Puisintaksis dan Manusia Algoritma: Ketika Peluncuran Buku Menjadi Peristiwa Ontologis

    21 Februari 202691 Views

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 202615 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (208)
    • Bisnis (7)
    • Buku (84)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (144)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.