Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Bintang dan Bintang
    Puisi

    Bintang dan Bintang

    13 Oktober 2019Updated:19 November 2019Tidak ada komentar3 Mins Read440 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    piek ardijanto
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Piek Ardijanto sebagai penggembala para penyair di masanya yang telah melahirkan para penyair yang masih eksis sampai sekarang. Puisi-puisinya memiliki kekuatan dalam menyampaikan kehidupan sosial lokal. Hubungan antara keluarga, manusia dan alam menjadi ciri khasnya dalam karyanya yang naratif. Satu di antaranya yang belum sempat diterbitkan, dikumpulkan oleh Bu Piek, istri tercintanya yang kemudian diberi judul ‘Baladaria’ atas bantuan Dewan Kesenian Tegal. Buku ini diberikan kepada orang-orang tercinta sebagai cenderamata. (Redaksi)

    [iklan]

    Puisi Piek Ardijanto Soeprijadi

    Bintang dan Bintang

    1
    anakku lanang pulang petang
    dari ibukota membawa bintang
    indah tersemat di dada bidang
    tanda jasa dalam juang

    kujemput dia dengan tetangga
    berduyunduyun di pagar desa
    pipi mandi airmata
    kuyupnya karena gembira

    betapa hangat pelukan rindu
    kami lama tak bersua
    betapa padat otak anakku
    sudah lama di ibukota

    2
    malam pertama kembali ke desa
    anakku melamun di beranda muka
    dering jengkerik membentur dada
    menyadarkan dia atas napas desa

    di bulan muncul tetangga kumpul
    omong-omong di halaman
    di unggung api asap mengepul
    ketela bakaran pengisi kekosongan

    mereka berebut menanya anakku
    tiap orang dijawab terang
    hingga larut malam belum juga jemu
    sebab di langit masih ada bintang

    3
    deras-deras embun jantan turun
    bumi damai mandi embun
    di malam sepi di dini hari
    anakku lanang kutanya sendiri

    anakku lanang anakku sayang
    di ibukota apa yang kau alami
    bisakah hidup senang
    karena doa cuma kami membekali

    anakku lanang anakku sayang
    di ibukota siapa yang kautemui
    bersuakah dengan orang-orang
    yang dulu gerilya dan mengungsi di sini

    4
    duhai ramanda tua ramanda renta
    tanya ramanda amat manis
    menceritakan ibukota
    sehari semalam takkan habis

    ibukota sejuta warna berseri
    tiap jengkal bangunan baru
    pembagian rejeki tiap hari
    sepanjang jalan oto melulu

    yang dulu di sini kini goyang kaki
    bersiul lega di gedung indah
    jangan ingat tempat mengungsi
    menyebut desa  pun tak pernah

    ibukota banyak pembangunan
    orangnya seperti rayap
    daerah kita belum ada perubahan
    hilang matahari desa pun gelap

    janganlah ramanda luka meliang
    dengar berita dari ibukota
    banyak yang dapat mereguk uang
    ada yang menerima tanda jasa

    5.
    anakku lanang anakku sayang
    aku tahu sejarah dunia
    tiap bangsa menang perang
    banyak berita lupa segala

    dalam dada aku bangga
    sebab tanah air sudah merdeka
    engkau turut berjasa
    mendapat bintang gerilya

    kini tinggal satu tanya
    pilih satu antara dua
    kembali ke ibukota
    atau tetap tinggal di desa

    bila kembali ke ibukota
    bintang gerilya sematkan di dada
    pekikkan tiap bangun di pagi hari
    seluruh tanah air merdeka abadi

    kuharap segera kau berangkat
    bersama tentara dan sukarelawan
    merebut irian barat
    demi kemerdekaan

    bila tetap tinggal di desa
    bintang gerilya simpanlah segera
    sebab yang petani tahu
    hanya bintang weluku

    kuharap segera kau panggul bajak
    tiap bangun sebelum subuh
    menggarap tanah pusaka sepetak
    mumpung kini musim labuh

    6
    anakku lanang pernah berperang
    merebut tanah pusaka dari belanda
    anakku lanang turut berjuang
    di dadanya bintang gerilya

    anakku sayang kembali terharu
    di desa damai di malam sepi
    tenang memandang bintang weluku
    pedoman hidup para petani

    anakku lanang memilih tepat
    menyemat di dada bintang gerilya
    mau merebut irian barat
    kembali lagi memanggul senjata

    bintang weluku yang dipandang malam-malam
    disematkan di desa sepi
    bila seluruh tanah air sudah merdeka tenteram
    barulah dia kembali jadi petani

    piek

    Piek Ardijanto Soeprijadi, lahir di Magetan, Hindia Belanda, 12 Agustus 1929 – meninggal di Kota Tegal, Jawa Tengah, 22 Mei 2001 pada umur 71 tahun adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Piek merupakan salah satu sastrawan angkatan 1966. Sejak tahun 1970, puisi-puisinya telah dimuat di berbagai media massa di Indonesia. Selain itu dia juga menulis esai sastra, mengulas karya-karya para penyair muda saat itu. Piek juga salah satu pelopor perintis Komunitas Negeri Poci (tahun 1993).

    penyair indonesia puisi indonesia puisi piek ardijanto Puisi Sastra Indonesia
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePidato Sastra Umbu Landu Paranggi
    Next Article Maafkan Aku Papa Sayang

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 2026

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 202621 Views

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 20266 Views

    Menikmati Panjat Tebing Puisi Penyair Darmanto Jatman “Memandang Padang Alang-Alang Pada Suatu Malam”

    9 Mei 202658 Views

    Wisata Dataran Tinggi Dieng Kembali Ramai Dikunjungi Wisatawan

    5 Mei 20267 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (80)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (166)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.