Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Bidadari Penjelajah Masehi
    Kritik Sastra

    Bidadari Penjelajah Masehi

    11 Juli 2020Updated:12 Juli 2020Tidak ada komentar10 Mins Read113 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Nana Sastrawan
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Bidadari Penjelajah Masehi

    Nana Sastrawan

    Suatu ketika saya bertemu dengan seorang anak muda di Yogyakarta pada acara sastra tingkat Asia Tenggara. Dia masih mahasiswa, pembaca buku dan pemerhati teori-teori sastra. Singkatnya, dia adalah seorang penjelajah ilmu. Namanya, Shinny.ane el’poesya. Ya, unik memang nama pena yang dipilih. Belakangan diketahui nama itu pemberian seseorang yang sangat dekat dengannya.

    Beberapa tahun kemudian, saya menemukan buku puisi berjudul ‘Kotak Cinta’ di rak buku seorang teman, sempat saya terkejut, nama penulis buku tersebut sama dengan nama anak muda yang saya temui di Yogyakarta. Lembar demi lembar saya baca. Semakin saya terkaget, puisi-puisi yang ditulis Shiny sangat berbeda dengan yang lain. Semakin yakin dalam diri, bahwa dia memang penjelajah ilmu.

    Tak selang beberapa waktu, saya pun menemukan kembali buku puisi berjudul ‘Sains Puisi’ di rak buku seorang kritikus sastra termasyur ketika berkunjung ke rumahnya. Penulisnya pun Shiny. Penasaran, saya baca buku itu, semakin gamblang bahwa anak muda ini memang serius mendalami bahasa, khususnya sastra. Puisi-puisi dalam buku itu sangat unik dan segar, dia tidak menggunakan kata sebagai media pembentuk puisi, tetapi angka, gambar dan lainnya dikemas menjadi puisi. Dia menggabungkan berbagai macam keilmuan, seperti matematika, fisika dan lainnya menjadi puisi yang multitafsir.

    [iklan]

    Jika kita cermati lagi tentang seorang penjelajah ilmu, tentu akan timbul pertanyaan, di manakah batas lingkup penjelajahannya? Atau Di manakah letak ilmu bisa terhenti untuk dikaji, atau apa yang menjadi karakteristik obyek ontologis ilmu yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya? Inilah bab yang akan saya buka, ketika tak sengaja saya kembali bertemu dengan Shiny di kota Cirebon dan dia menyodorkan buku puisi terbarunya berjudul ‘Bidadari Masehi’.

    Buku itu memuat 77 Puisi dan terbit pada Juni 2020. Puisi-puisinya pun ditulis antara tahun 2014 hingga 2020. Akan tetapi, puisi-puisi dalam buku ini sangat berbeda dengan puisi-puisi pada dua buku sebelumnya meskipun rentang penulisannya pada tahun-tahun yang sama. Puisi-puisi pada buku ini, tak ada bedanya dengan jenis puisi pada umumnya, gaya penulisannya pun datar. Naratif.

    Misalnya pada puisi ‘Maryam’, Shiny begitu hening, lembut dan sendu dalam menuliskannya.

    Maryam adalah Ibu
    dan sebab Ibu
    ia adalah sumber kelahiran kasih
     
    sebab sifat ibu
    pula Tuhan melahirkan
    alam semesta
     
    Ibu, adalah tempat mengarah segala
    tempat tergumpal dendam dan cinta
     
    Dendam sebab sebesar apapun kasih ibu
    seorang anak selalu merasa kurang dan tak puas
    Dan cinta sebab dalam dendam itu
    seorang anak selalu tak mampu membalas
     
    Ibu, adalah darah yang mengalir
    dari ujung ubun-ubun hingga kaki
    sebelum air anggur dan cawan
    jadi penting dalam perjamuan suci
     
    Ibu, adalah daging sejati
    ketika ruh seorang anak
    masih melayang-layang dalam mimpi
     
     Ibu adalah Maryam
     dan Maryam adalah Ibu
     yang hidup dalam pelukan
     keinginan ilahi
     
     Oleh karenanya, setelah almanak sepi
     dalam menghitung mimpi duniawi
     ke dalam rumahmu aku kini diam kembali
     
     Menghadap Tuhan–yang turun mencari
     anak-anaknya yang jatuh dalam cemas–
     di luar surga dan kolam susu abadi

    Sepertinya ada kegelisahan yang lain pada diri Shiny dalam proses menjelajah dan mendalami ilmu. Pada buku puisi ini, keresahan yang paling terlihat adalah ruang keagamaan dan keimanan. Simak puisi berikutnya berjudul ‘Di Yudea’.

    Di Yudea, oleh seorang perawan lahirlah seorang anak kepada kita
    yang ditakdirkan untuk mengumpulkan para gembala
               
    Maka datanglah di pinggir palungan
    kepada Yohannes, Gabriel
    membawa kabar gembira
    bahwa telah sampai waktunya
    berbuah pohon angggur dan ara
     
    Di Yudea, di Bait Laila,
    pada awal bulan Sivan
    telah turun kepada kita, bukan …
    bukan kata-kata,
    melainkan seorang anak manusia
     
    Seperti rembulan, bintangnya
    atau asap minyak Mur yang seringkali
    masih tersebar harumnya di luar malam hari
    –seperti cinta yang kerap menembus jiwamu
     
    Bahwa telah sampai waktunya
    yang dari musim telah lama
    berbuah pohon anggur dan ara
    yang kelak dapat kau simpan
    dalam kain lampin mabuk sajakku
     
    Yang dari langit turun ke dadamu
    ke Bait Lahmimu–ke rumah dagingmu
     
    Di Yudea. Ya, di Yudea.
     
    Oleh seorang Ibu–yaitu Maria yang jiwanya
    senantiasa memuliakan Tuhannya,
    telah lahirlah seorang anak kepada kita
    yang ditakdirkan untuk membebaskan
    manusia dari seluruh rasa bencinya

    Seorang penyair, hakikatnya memang selalu mencari dan mengikuti kegelisahan dalam dirinya. Mengamati keadaan di sekitar dan mengasah kepekaan. Yang saya tahu, Shiny adalah seorang muslim, dia dibesarkan di Cirebon dengan latar belakang kebudayaan Islam yang sangat kental. Lalu, mengapa dia menulis puisi bertemakan keagamaan Kristen atau Katholik? Apakah dia akan pindah agama?

    Akan tetapi, pada dua puisi itu Shinny telah memberikan simbol pemaknaan yang lain dari konsep kepercayaan Kristen atau Katholik. Shinny masih melihat dari kacamata di luar keagamaan tersebut. Pemahaman keilmuan dan kebudayaan Islam masih melekat pada dirinya, tampak pada Ibu adalah Maryam dan Maryam adalah Ibu. Atau pada kalimat Oleh seorang Ibu–yaitu Maria yang jiwanya senantiasa memuliakan Tuhannya. Dua puisi itu sepertinya ingin menegaskan bahwa Maryam dan Maria adalah orang yang sama, dan ia adalah seorang manusia yang diistimewakan oleh Tuhan, melahirkan seorang anak laki-laki yang istimewa pula. Di sini, Shinny masih belum beranjak untuk berpaling dari agama Islam.

    Lalu, apa sebenarnya yang sedang dijelajahi oleh Shinny pada konteks kebudayaan Kristen atau Katholik di dalam puisi-puisinya. Benarkah Shinny tengah mengembara ke bidang keilmuwan spiritual setelah dia berkutat dalam ruang-ruang sains? Atau hanya sebagai onani, memuntahkan segala pikiran-pikiran yang berkecamuk dalam kepala melalui puisi. Atau, memang keyakinannya telah bergeser?

    Sebagai penyair, hal itu tidak pernah salah. Sebab penyair memiliki keluasaan dalam mengekspresikan dirinya, pikirannya melalui puisi. Saya kira, penyair-penyair Barat lebih besar kebebasannya, dan sejarah para nabi menjadi sumber yang tak kering-keringnya. Sebut saja penggambaran Isa, peristiwa sejarah dan perjalanan hidupnya dari pengorbanan, penderitaan dan kematiannya menjadi sumber inspirasi sehingga mewujud karya-karya yang fenomemal. Atau, di Timur Tengah, banyak sekali karya sastra yang mengupas Nabi Muhammad sebagai teladan sosok manusia yang sempurna.

    Di sini, Shiny menyadari bahwa dia sedang menulis karya sastra, bukan sedang menggoyahkan keimanannya. Atau, bisa jadi dia semakin teguh imannya ketika mengenal kebudayaan agama lain selain agama yang dianutnya. Sebenarnya, dia sedang menguliti keimanannya sendiri yang kelak akan dijahit dengan benang-benang keteguhan. Itu tergambar di puisi ‘Suatu Hari, Di Bukit Perea; Ketika Orang-Orang Tengah Riuh’ pada sebagian larik-lariknyanya.

    Tetapi, memang begitulah sebuah permainan yang berlaku di
    dalam iman. Nyatanya, meskipun peristiwa sejarah Nampak begitu
    mengenyukan, tak jarang yang membuat seperti itu adalah
    justru ketika Allah kita yang maha kuasa begitu bisu. Membiarkan
    segala sesuatunya terjadi begitu saja, menerocos bersahut-sahutan
    tanpa sebuah amnesti; seakan di luar tembok kota, pula hadir
    sekelompok serigala melolong susul-menyusul tak mau raib bersama
    ribuan suara kelepak sayap malaikat yang bolong di sana-sini
    melipatgandakan gaduh.
     
    Pada saat yang sama seperti itu seorang penyair kecil pun gemetar,
    antara gemerincing wahyu dan badai, antara kitab yang turun
    dan kitab yang hadir, antara surga dan neraka yang dikabarkan
    dan surga-neraka yang saling bertautan pada tubuh yang semakin
    remuk dan cucur.

    H.B. Jassin dalam ‘Tuhan, Imajinasi Manusia dan Kebebasan Mencipta’ di buku Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam (2017) menyatakan Maka apabila seorang pengarang atau pelukis menggambarkan Tuhan dengan kata-kata, dengan lukisan, ataupun dengan patung, dia tahu bahwa itu bukanlah Tuhan, tapi ide ketuhanan. Demikian pula orang lain, umat yang melihat, mereka tahu bahwa itu bukanlah Tuhan, tapi ide ketuhanan. Jadi, yang dituliskan Shiny bukanlah penyesatan dirinya sebagai muslim, tetapi penuangan gagasan dirinya sebagai penyair.

    Itu pun bisa kita temukan pada puisi ‘Di Masjid Ini’.
    Di masjid ini–di masjid malam ini
    aku tak melihat seorang pun
    ruku atau bahkan bertakbir
    hanya kudengar suara sebuah tangisan
    gaib yang menggema sudah begitu tua
     
    Suara itu entah mengapa aku rasa
    ingin sekali memeluknya
    mengasihi dan mencintainya

    Tarik-menarik pengetahuan ilmu dan keyakinan keagamaan pada diri Shiny begitu kuat dalam buku ini. Di satu sisi, dia mempelajari sejarah dan kebudayaan Kristen atau Katholik, di sisi lain dia adalah seorang Muslim sejati. Bisa jadi, ide penulisan puisi-puisi ini di latar belakangi oleh peristiwa politik di Negeri ini, di mana hampir sering berseliweran politik keagamaan yang muncul ke permukaan, yang disadari olehnya bukan dari bagian kehidupan keagamaan itu sendiri, melainkan kehidupan kekuasaan.

    Shiny seolah ingin menempatkan bahwa sejarah manusia pada dasarnya hanya satu sumber, memiliki langit dan tanah yang sama. Dia pun memunculkan tokoh ‘Aku’ yang dapat direpresentasikan sebagai manusia pada puisi ‘Gnossienne 01.’

    Dengarlah …
     
    Pada mulanya angkasa sunyi
    di pelukan senyap seorang bidadari
    yang tertidur tanpa mimpi
     
    Dengarlah …
     
    Pada mulanya angkasa sunyi
    di pelukan lelap, sebelum masehi
    yang berputar tanpa inti
     
    Segalanya hanya ADA
    dan kata-kata hanya DADA
     
    Lalu, tumbuh di angkasa sunyi
    setangkai mawar di sayap sang penghuni
    di sayap Jibril, ruh suci
     
    Segalanya kemudian Cahaya
    dan kata-kata melayang-layang
    di antara panas dan dingin udara
     
    Di antara
     
    rindu tubuhmu
    dan pengawasanNya.
     
                Aku …

    Pada puisi ‘Prelude’ pun tergambar bagaimana seorang Shiny menempatkan dirinya sebagai manusia yang diliputi keresahan akan keruwetan duniawi, pada larik Apa yang kau rindukan?/ Suasana Agung yang selalu kau buang/ kau bungkam; dan selalu seperti itu. Dan juga dipetegas di puisi ‘Bayangkan’ pada bait Bayangkan …/ Jika semua orang di awal abad ini sudah sama seperti mereka/ yang terlahir sebagai generasi bunga–dan Hippie/ dan tak ada satu pun jiwa lagi yang masih kukuh berebut/ pada tujuan suci: perang-perang agama, perang kebudayaan, perang ideologi, hegemoni, perang filsafat, high politics?/ tetapi, toh nyatanya justru yang muncul apa yang paling menakutkan/ yaitu perang demi kerakusan yang terbuka/ juga sekaligus perang-perang yang dibuat oleh iman kepada semua itu.

    Kenyataan, memang latar belakang inilah yang membuat Shinny menjelajahi ilmu di bidang keagamaan selain agama yang dianutnya. Meskipun demikian, dalam penjelajahan ilmu pasti akan terbentur dengan batas-batas. Sebab, ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Misalnya, apakah ilmu mempelajari Surga dan Neraka, tentu jawabannya akan tidak jika berdasarkan pengalaman manusia, sebab surga dan neraka di luar jangkauan manusia, begitu pun dengan keyakinan seseorang dalam mengenal Tuhan. Kita tidak bisa menjangkau pengalaman seseorang dalam berkeyakinan, begitu pun orang lain tak bisa menjangkau pengalaman kita. Yang bisa kita implementasikan adalah ajaran-ajaran agama yang kita anut dalam kehidupan berkemanusiaan.

    Shinny pun menjawab keresahan-keresahan yang muncul dalam dirinya tentang situasi spiritual, pada bait puisi ‘Di Taman Sebuah Apartemen’.

    Di taman sebuah apartemen
    Di antara sepi katedral dan suara masjid
    Mendengar itu, tentu angin pun tak tiba-tiba
    mendadak berhenti seolah Tuhan
    memberi tanda Ia takut dan ngeri
                pada dosa;
     
    nyatanya semua biasa-biasa saja
    Kota terus bergerak, kesiur musim terus bergerak
     
    Hanya saja,
    dari jauh tercium sedak, bau parfum juga arak

    Ya, bait puisi itu seolah memberikan gambaran bahwa agama pada akhirnya hanya jalan keyakinan seseorang untuk menuju kepada hal yang lebih baik, yang pencapaiannya suci, hidup abadi dalam surga. Pada puisi-puisi Shinny sesungguhnya tidak mengulas tentang agama, melainkan menjelaskan tentang manusia-manusia yang ‘katanya’ beragama dan berketuhanan.

    Kali ini, Shiny berusaha menjadi penyair yang ingin mencerahkan pembacanya melalui puisi yang gamblang, tidak gelap seperti puisi-puisi sebelumnya. Sebab, seperti Dick Hartoko nyatakan dalam artikel yang berjudul ‘Penyair Sebagai Bendahara Sabda’ bahwa kepada penyairlah sabda itu diserahkan untuk dipelihara. Sabda itu lebih padat daripada gagasan saja: sabda adalah gagasan yang telah mendarah dan mendaging. Karena jiwa dan badan itu terlebur menjadi satu keesaan, maka sabda adalah lebih daripada suatu hembusan napas yang hanya mengisyaratkan suatu gagasan.

    Maka terbanglah wahai penyair dengan sayap kata-kata, seperti bidadari atau malaikat menjelajahi masehi.

    Juli 2020

    KLIK WAWANCARA KHUSUS DENGAN PENULIS BUKUNYA DI SINI
    https://www.youtube.com/watch?v=FfBDQGSqWlI

    Shinny

    Nana Sastrawan, Peraih Penghargaan Acarya Sastra IV Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI 2015.

    bidadari masehi penyair indonesia puisi keagamaan sastra puisi indonesia
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleHikayat Sunan Bonang
    Next Article Maryam

    Postingan Terkait

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 2026

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Diksi Unik di Puisi Emha Ainun Nadjib “Doa Terampun Ampun”

    12 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202612 Views

    Wisata Waterpark Tiga Bintang Firdaus Indramayu

    24 April 20266 Views

    Wisata Modern Pantai Kesambi

    24 April 202613 Views

    Pesona Kolam Renang Cikomboy

    24 April 202612 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (160)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.