Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Diksi Unik di Puisi Emha Ainun Nadjib “Doa Terampun Ampun”
    Kritik Sastra

    Diksi Unik di Puisi Emha Ainun Nadjib “Doa Terampun Ampun”

    12 Desember 2025Tidak ada komentar9 Mins Read160 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Oleh Atik Bintoro

     

    1. Puisi “Doa Terampun Ampun” Karya Emha Aninun Nadjib

    Sebagian besar warga bangsa pecinta Puisi khususnya, hampir dipastikan pernah mengetahui sekilas tentang Penyair yang bernama Emha Ainun Nadjib atau sering dikenal sebagai Cak Nun, bahkan tidak sedikit yang mengenal secara pribadi. Sumber Wikipedia menuliskan bahwa [1]: Emha Ainun Nadjib lahir di Jombang, Jawa Timur, Indonesia, pada tanggal 27 Mei 1953. Disamping sebagai Penyair, Cak Nun juga dikenal sebagai esais, kiyai, dan budayawan nasional.

    Pada tahun 1976, terbit kumpulan puisi pertamanya “M” Frustrasi dan Sajak Sajak Cinta, kemudian disusul karya buku kumpulan puisi berikutnya, yaitu: Pada tahun 1978 terbit Kumpulan puisi Sajak-Sajak Sepanjang Jalan. Tentu masih banyak lagi, karya Sastra yang telah dilahirkan oleh Cak Nun; baik Puisi, Cerpen, atau Essay.

    Satu diantara puisi karya Cak Nun, yakni berjudul “Doa Terampun ampun”. Teks puisi ini dapat ditemukan di laman https://www.caknun.com/2024/doa-terampun-ampun/. Sekilas puisi ini terpindai memiliki diksi unik, yang memadukan antara kosa kata lama dengan rasa kekinian. Dari pindaian sekilas inilah, muncul ide untuk menikmati dan memaknai puisi tersebut.

    Adapun teks puisinya seperti di bawah ini [2].

    2. Menikmati Puisi “Doa Terampun Ampun”

    2.1. Menikmati judul Puisi

    Sebenarnya siapapun penikmat puisi bisa menikmati, sekaligus memaknai puisi besutan Penyair Emha Ainun Nadjib yang berjudul “Doa Terampun ampun”, asalkan bersedia berfikir sejenak, dan menghirup aroma unik diksi diksinya. Sebagai langkah awal, untuk mempermudah jalan penikmatan, puisi tersebut perlu disusun ulang seperti di bawah ini.

    Doa Terampun-Ampun

    1.

             Duh Maha Resi yang mengetahui jumlah kelopak bunga seluruhnya yang telah gugur, (1)

    yang sedang kembang serta yang baru akan tumbuh, di bumi dan langit (2)
    Ampunilah kebodohan kami (3)

    2.

              Duh Maha Empu yang mengerti batas terkecil dan batas terbesar dari setiap jiwa dan (1) raga, penjaga yang terahasia dari kenyataan, pemelihara yang paling nyata dari rahasia, (2) seluruhnya di bumi dan langit serta yang tak di keduanya (3)
    Ampunilah kekerdilan kami (4)

    3.

              Duh Maha Guru cakrawala segala kemungkinan dan ketidakmungkinan, wilayah tak (1) berhingga dari segala ketinggian dan keagungan, penggenggam kunci misteri kebenaran dan (2) keadilan, satu-satunya yang sanggup menerangkan cinta dan keindahan (3)
    Ampunilah ketidaksabaran kami (4)

    4.

              Duh Maha Raja yang bertahta tanpa singgasana, yang bersemayam tanpa tempat, (1)

    yang bernapas tanpa udara, yang berenang tanpa samudera, yang menerangi tanpa cahaya, (2) yang hidup tanpa kehidupan, yang suci dari segala ilmu kandungan ruang dan waktu (3)
    Ampunilah keangkuhan kami (4)

    5.

         Duh Maha Pendekar yang sanggup meremas seluruh tata jagat raya menjadi setetes sunyi,(1) yang mampu meniup kehidupan ini sekarang juga sehingga menjadi tiada, yang dengan (2) seucapan ‘Kun’ bisa membuat segala sesuatu menjadi sia-sia.(3)
    Ampunilah kebusukan kami (5)

    6.

         Duh Maha Kekasih, kalau tak Paduka bangunkan kami dari tidur, (1)

    kalau Paduka potong seurat nadi kesadaran kami (2),

    kalau Paduka hempaskan dan aduk gunung-gunung dan samudera dengan ujung jari Paduka tanpa kami semua Paduka matikan (3),

    Duh Maha Kekasih, Duh Maha Kekasih (4)

    1988.

    Susunan puisi di atas berharap akan memudahkan pembaca dalam menikmati puisi, diantaranya berawal dari telaah makna kata yang terkandung di dalam Judul. Kata tersebut adalah: 1. /Doa/, dan 2. /Terampun ampun/.

    /Doa/ merupakan satu diantara unsur penting dari ritual agama secara umum. Misalnya bagi agama Islam, doa meliputi sarana untuk: mengajukan permohonan, amal ibadah, sikap tunduk, dan pengakuan keterbatasan manusia. Doa juga merupakan perwujudan hubungan langsung antara manusia dan Allah SWT [3].

    Sedangkan kata /Terampun ampun/, tersusun dari kata Ter + Kata ulang, misalnya mirip dengan:

    A). Termohon mohon, Tertani tani; namun berbeda semangat dengan kosa kata:

    B). Terapung apung, Tersedu sedu, dan Terpingkal pingkal.

    Pada kelompok A) kosa katanya terasa belum baku, karena belum tercantum di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Disamping itu, kosa kata kelompok A) masih sangat jarang bisa ditemukan penggunaannya di masyarakat luas, baik lisan maupun tulisan. Hal ini dapat dilihat ketika kosa kata di kelompok A) dimasukkan sebagai masukan kata di laman KKBI online, tidak ditemukan arti dari kosa kata tersebut, termasuk diksi /Terampun ampun/.

    Sedangkan kelompok B), contoh diksinya sudah tersedia di KBBI [4], sehingga kelompok B) ini relatif lebih mudah untuk memaknainya sesuai dengan arti yang ada di KBBI.

    Disisi lain, awalan Ter dapat menyatakan sebagai makna [5] dan [6]: 1. Proses sudah selesai, misal terhitung = sudah dihitung, 2. Dapat, misal terangkat = dapat diangkat, 3. Ketidak sengajaan, contoh terbawa = tidak sengaja dibawa, 4. Tiba-tiba, contoh teringat = tiba tiba bisa diingat, 5. Paling, misalnya terbesar = paling besar, dan 6. Dipakai sebagai pembentuk partikel dalam arti khusus, misal: terdiri.

    Dari beberapa jenis makna awalan Ter di atas, sepertinya yang bisa terasa tepat dengan semangat diksi /Terampun ampun/ adalah bermakna proses sudah selesai, dalam arti sudah mendapatkan ampun berulang ulang. Namun demikian tidak menutup kemungkinan masih bisa dimaknai dengan arti yang lain, bahkan sampai terduga adanya kesalahan kata yang memang disengaja oleh Penyair.

    Oleh karena itu, dapat diprediksi bahwa makna kosa kata /Terampun ampun/ termasuk kategori kesalahan kata yang menjadi ranah otoritas kreasi Sang Penyair, diantaranya untuk menghasilkan efek: makna, logika, dan rasa; yang sulit disampaikan dengan menggunakan kosa kata lain. Disinilah uniknya kosa kata ini. Penyair berhasil memasukkan nuansa emosional akan semangat mendapatkan ampunan bertubi tubi di dalam doa puisinya. Nuansa ini disampaikan melalui diksi yang tidak biasa digunakan di luar puisi. Kesalahan susunan kata yang demikian, masih bisa dimaklumi, karena memang berada pada otoritas kreasi penyair, dalam memilih kata yang tepat untuk dituliskan sebagai diksi di Puisinya [7].

    Dengan demikian, Penikmat puisi pun juga mempunyai kebebasan dalam menafsirkan apa maunya judul puisi /Doa Terampun-Ampun/ sambil menikmati bait dan baris di bawahnya.

    Hal ini sah sah saja, walau mungkin tidak sama dengan maksud dan tujuan Sang Penyair [8].

    Patut diduga bahwa Judul puisi /Doa Terampun-Ampun/ ini lebih menekankan pada aroma  spontan, dan lugas, namun masih menyisakan misteri makna tersembunyi. Misteri ini meliputi harapan agar dapat meningkatkan daya emosional dalam memperoleh ampunan berkali kali lipat dari Yang Maha Pemberi Pengampunan. Sehingga diharapkan bahwa diksi tersebut bisa menjadi daya gedor emosional dalam capaian doa dalam wujud puisi.

    Apakah dugaan ini masih relevan dengan isi Puisi?

    Untuk menjawabnya, bisa dilanjutkan pada langkah penikmatan bait dan baris di bawah ini.

    2.2. Menikmati Keunikan Diksi di Batang Tubuh Puisi

    Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa dari sisi diksi judul /Doa Terampun ampun/ sudah terasa unik, memancing hasrat untuk menikmati lanjut sambil terus menguliti misterinya. Kedalaman misteri puisi terasa lebih transenden ketika memasuki ke bait dan barisnya.

    Puisi /Doa Terampun ampun/ yang disusun ulang seperti di atas, terdiri dari 6 bait, dengan jumlah baris masing masing.

    Hampir di masing masing bait mengandung ungkapan yang jarang digunakan di masyarakat luas. Ungkapan ini termasuk istilah lama/kuno di alam Nusantara, padahal titi mangsa lahirnya puisi tersebut di tahun 1988. Tahun itu relatif sudah memasuki jaman kekinian alias berada di jaman modern.

    Ungkapan yang dimaksud adalah: /Maha Resi/ di bait 1, /Maha Empu/ di bait 2, /Maha Guru/ di bait 3, /Maha Raja/ di bait 4, dan /Maha Pendekar/ di bait 5.

    Ungkapan ungkapan tersebut bernuansa mengajak pembaca untuk berkelana di masa lalu ketika: Resi, Empu, Raja, Guru, dan Pendekar; masih memiliki otoritas kuat, dan masyarakat pun menghormati mereka sesuai bidangnya masing masing.

    Di sisi lain, ungkapan itu juga memunculkan semacam penanda bahwa tradisi berdoa di Nusantara, sudah terjadi sejak jaman berlakunya otoritas dari: Resi, Empu, Raja, Guru, dan Pendekar di ranah hidup dan kehidupan di masanya.

    Sehingga melalui ungkapannya, seolah Penyair akan berharap menjadi pemantik terjadinya efek: emosional, hikmat, dan transenden di dalam berdoa melalui puisinya, seperti yang terungkap di judul puisi /Doa Terampun ampun/.

    Sedangkan isi dari beberapa baris di masing masing bait, berpotensi merupakan penjabaran ungkapan, setelah disampaikannya diksi: /Maha Empu/ di bait 2, /Maha Guru/ di bait 3, /Maha Raja/ di bait 4, dan /Maha Pendekar/ di bait 5.

    Penjabarannya pun relatif lugas, sehingga kata kata puisinya bisa dimaknai dan dipahami sebagaimana apa adanya yang tertulis di baris baris puisi, tanpa harus menafsirkan misteri yang rumit. Beberapa diantara contoh diksinya di bait 4, baris (1) sampai dengan (3), adalah:

    Duh Maha Raja yang bertahta tanpa singgasana, yang bersemayam tanpa tempat, (1), yang bernapas tanpa udara, yang berenang tanpa samudera, yang menerangi tanpa cahaya, (2) yang hidup tanpa kehidupan, yang suci dari segala ilmu kandungan ruang dan waktu (3)

    Bait 4, baris (1) sampai dengan (3) tersebut melepaskan gairah pengertian akan informasi sikap /Maha Raja/, yaitu, bisa: bertahta tanpa singgasana, bersemayam tanpa tempat, bernapas tanpa udara, berenang tanpa samudera, menerangi tanpa cahaya, hidup tanpa kehidupan, dan yang suci dari segala ilmu kandungan ruang dan waktu.

    Untuk bait ke 6, ditemukan istilah yang tidak bernuansa kuno, yaitu /Maha Kekasih/. Istilah /Maha/, dan /Kekasih/, sampai saat ini masih sering digunakan oleh masyarakat umum: lisan maupun tulisan. Pasca ungkapan /Maha Kekasih/, isi baris puisinya bernuansa tidak jauh berbeda dengan ungkapan ungkapan sebelumnya. Ungkapan tersebut masih seputar penjabaran dari ungkapan pembuka, namun menggunakan kata awal /kalau/. Kata /kalau/ disini berpotensi bisa dipahami secara terbalik, bahwa /Maha Kekasih/, pastilah akan: membangunkan dari tidur, tidak memotong seurat nadi kesadaran, menghempaskan serta mengaduk gunung-gunung, dan samudera dengan ujung jari sambil mematikan yang masih hidup. Dari sini akan timbul: logika, rasa, dan makna, bahwa jika tidak demikian sepertinya bukan lagi sebagai Sang Maha Kekasih.

    Logika unik, rasa unik, dan makna pun juga unik
    /Duh Maha Kekasih, Duh Maha Kekasih/.

    Selamat menikmati Puisi.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. —, Emha Ainun Nadjib, Wikipedia Ensiklopedia Bebas,    https://id.wikipedia.org/wiki/Emha_Ainun_Nadjib
    2. Emha Ainun Nadjib, 1988, Doa Terampun-Ampun, Cahaya Maha Cahaya: Kumpulan Sajak, 1991, caknun.com, Terbit 26 Januari 2024 22:33 WIB, Diperbarui 30   Januari 2024 13:28 WIB
    3. Raysan Al Hakim, Deni Haryan Psb, 2025, Konsep Doa Dalam Islam: Sebuah  Kajian Tentang Makna, Adab, dan Keutamaannya, Jurnal Penelitian Ilmiah Interdisipliner. Vol 9 No. 8 Agustus2025 eISSN: 2118-7454
    4. KBBI, https://kbbi.web.id/
    5. J.S. Badudu, Lesmanesya, Livian Lubis, Muchtar, Husein Wijayakusumah, 1984, Morfologi Bahasa Indonesia (Lisan), Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta
    6. Dea Letriana Cesaria, 2013, Kata Sudah Sebagai Penanda Aspek dengan Awalan Ter, 2013, Sirok Bastra, Volume 1 Nomor 2 Edisi Desember 2013 ISSN 2354-7200
    7. Dra Henilia, M.Hum, 2021, Penyimpangan Bahasa dalam Sebuah Puisi,  Juripol, Volume 4, Nomor 2 September 2021, Jurnal Insitusi Politeknik Ganesha Medan
    8. Fadhil Rafi’ Uddin, 2019, Rahim Ayat, Sebagai Umat Saya Menggugat, Genta Fkip , Universitas Jambi, 22 November 2019. https://genta.fkip.unja.ac.id/2019/11/22/rahim-ayat-sebagai-umat-saya-menggugat/

    Penulis: Atik Bintoro atau sering dikenal sebagai Kek Atek. Penikmat Puisi tinggal di Rumpin, Kab. Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Pegiat Komunitas Dapoer Sastra Tjisaoek.

    cak nun emha ainun nadjib puisi cak nun
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleBurung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah
    Next Article Perbandingan Film Animal Farm (1954) dan Animal Farm (1999): Kajian Adaptasi dan Alih Wahana

    Postingan Terkait

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025

    Refleksi dalam Cerpen “Requiem Burung Gereja”

    11 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202681 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202539 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202543 Views

    Perbandingan Film Animal Farm (1954) dan Animal Farm (1999): Kajian Adaptasi dan Alih Wahana

    18 Desember 202528 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.