Di Penghujung Musim Hujan
di penghujung musim hujan
kami bertiga: aku, kamu, dan kata
tidak saling percaya
banyak tanda ragu menusuk kalbu
jantung melipur dalam angin yang beringsut
di penghujung musim hujan
kami bertiga: tidak saling bicara
ada rahasia bisu menampar-nampar
bibir kelu
menunggu keajaiban
pada udara yang bertuba
2025
Rahasia Aku, Kau, dan Hujan
aku tahu engkau mengerti gelisahku
kegelisahan purba: Adam dan Hawa
pencariannya tanpa muara. Hampa
aku tahu engkau memahami rinduku
kerinduan sunyi: Aku dan Engkau
pemaknaannya tanpa arti. Sepi
besok hujan akan menemuimu
dengan air yang menetes satu-satu:
kesejukan Kautsar
besok hujan akan menemuimu
dengan angin yang menerpa sepoi-sepoi:
ketenangan Kama
aku akan menemuimu bersama hujan
apakah kau masih sendiri?
di bangku panjang lorong kelas itu
masih tabah menunggumu
Desember, ujarmu
hujannya begitu bijak
menyimpan rahasia langit
2025
Hujan Sore Ini
aku melihat kau di setiap tetes hujan
mengenakan topi dan mantel yang kusam
apakah kau tahu aku mengintaimu
dari balik topi itu tersimpan kenangan yang laas
ada dendam dalam cahaya matahari yang lama bersembunyi
aku melihatmu menatap bunga-bunga
akan aku temukan kau dengan senyuman senja
menciptakan kemauan yang fana
ah, kemana pula akan ku sampirkan rindu ini
2025
Aku dan Senja
Aku masih setia dengan senja
di kota ini langit memberitakan namamu
sepanjang jalan hujan tumpah menyapu kenangan
begitu deras dan purba.
perlahan kupacu laju kehidupan dengan tergesa
matamu seperti rintik yang membasahi tiap pori-pori
masuk ke dalam aliran darah
bermuara pada jiwa yang gelisah
betapa dalam cintamu padaku
sore itu
Bandung 2025
Laki-Laki yang Mencintai Hujan
Kepada Sapardi Djoko Damono
sore ini hujan turun dengan warna pelangi
daun di depan rumah tampak basah
kau berada di beranda: membaca buku
segelas susu berada di atas meja: dingin
dokter melarangmu minum kopi.
Terlalu banyak kafein, katanya.
sore ini kau rela menjadi apapun:
harum tanah yang basah sesekali disapu angin menerpamu
tubuh yang ringkih menopang cintamu pada hujan
ini bulan Desember, kau harus ingat.
Juni sudahlah berlalu
sore ini kau berubah menjadi hujan
titik-titiknya berpendar di sela-sela kenangan
kau begitu senang menjadi hujan
mengilhami semua jiwa di langit
menghidupkan seluruh tubuh di bumi
ah, kau terlupa
rokok yang sedari tadi kau hisap telah habis.
2025
Heri Isnaini lahir di Subang, Jawa Barat, pada tanggal 17 Juni. Heri sangat menyukai puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Pernah mengikuti acara “Temu Penyair Asia Tenggara 2018” di Padang Panjang, Sumatera Barat, mengikuti Festival Seni Multatuli 6-9 September 2018 di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Puisi-puisinya juga pernah dimuat pada Jurnal Aksara, Deakin University, Australia. Antologi puisinya, Ritus Hujan (2016); Singlar Rajah Asihan: Kumpulan Sajak (2018); Ah, Mungkin Kau Lupa Aku Begitu Merindumu (2019); Manunggaling Kawula Gusti: Kumpulan Sajak (2020); Montase: Sepilihan Sajak (2022). Cerpennya pernah dimuat pada koran Radar Banyuwangi, Radar Kediri, dan Harian Rakyat Sultra. Beberapa media daring di Indonesia seperti Radar Utara, Restorasi News Siber Indonesia, Tebu Ireng Online, Bali Politika, Berita Jabar News, Sip Publishing, Himpun.id, Negerikertas.com, Potret online, Tajdid.id, Madrasah Digital.co, Riau Sastra, Literatura Nusantara, Pustaka Ekspresi, Nolesa.com, Selingkarwilis.com, Pronesiata.id juga pernah memuat karya-karyanya. Kegiatan sehari-hari Heri adalah Dosen Sastra IKIP Siliwangi Kota Cimahi. Selain itu, Heri juga banyak beraktivitas sebagai editor dan reviewer di berbagai jurnal ilmiah di dalam dan luar negeri.

3 Komentar
Puisi-puisi yang bagus tentang hujan dan sore hari, dimana setiap bait yang dituliskan memiliki makna yang mendalam
menurutku, ini kata-kata yang sempurna untuk mendefinisikan hujan dan dia 😀
Terima kasih