Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Dongeng » Dua Kerbau yang Berjalan
    Dongeng

    Dua Kerbau yang Berjalan

    23 September 2022Tidak ada komentar4 Mins Read119 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Di petak sawah yang berlumpur, kerbau-kerbau melangkah diikuti suara lonceng, mereka tak menghiraukan kaki-kaki mereka yang kotor. Beberapa lalat mengerumuni pantat mereka, sebelum kemudian para kerbau mengibas-ibaskan ekor, membuat lalat-lalat berhamburan. Di belakang lalat-lalat yang terbang tak karuan, Tuan berseru sambil memecut pantat para kerbau.

    “Tidakkah dia bosan memecut pantat kita?” tanya Kerbau Hitam.

    “Apa jalan kita kurang cepat?” tanya Kerbau Coklat.

    “Aku tidak bisa berjalan lebih cepat karena lumpur ini,” Kerbau Hitam melihat ke bawah, lumpur menyelimuti keempat kakinya.

    “Setelah ini, apa yang akan ditanam?”

    “Entahlah. Ah, aku bosan dia terus-terusan memecut pantatku, lebih baik jika aku dibiarkan berjalan dengan tenang.”

    “Aku sudah terbiasa, mungkin sudah jadi kebiasaan.”

    Kerbau Hitam tiba-tiba berhenti membuat Kerbau Coklat ikut berhenti, mereka saling tatap untuk beberapa saat. Baru kemudian berjalan lagi setelah Tuan memecut kembali dengan tali.

    “Iya, memang kebiasaan,” ucap Kerbau Hitam mengangguk.

    Kerbau Hitam tak mempermasalahkan pecutan Tuan, lagi pula yang dirasakannya sama seperti irama kibasan ekornya. Kerbau Coklat menggeleng, mengusir lalat yang hinggap di wajahnya.

    Perlahan matahari ditutupi awan kelabu membuat lumpur menjadi lembab. Semakin banyak lalat yang mengerumuni badan kerbau-kerbau, menciumi bau yang mereka suka. Kerbau Coklat tiba-tiba berhenti.

    “Ada apa?” tanya Kerbau Hitam.

    “Seharusnya  sekarang kita dibawa ke sungai,” ucap Kerbau Coklat menggerakkan rahangnya seolah sedang mengunyah.

    Tuan berseru sambil mengayunkan lagi cambuknya, mengarahkan kerbau-kerbau agar keluar dari lumpur, berjalan di atas rerumputan membuat kaki-kaki para kerbau terasa lega. Beberapa lalat masih mengikuti, menempel di pantat juga sekitar hidung mereka.

    Rimbunan pohon menyejukkan membuat kulit kerbau-kerbau terasa segar, ditambah dengan udara dan angin yang sejuk membuat mereka sedikit mengantuk. Namun rasa kantuk mereka lekas sirna, mengingat tujuan mereka sekarang; sungai. Kerbau-kerbau berjalan dengan tenang, namun beberapa kali Kerbau Hitam mempercepat lajunya, ingin segera mendinginkan kulit.

    Suara air mengalir membuat telinga kerbau-kerbau berdiri, seketika mereka jadi lebih bersemangat. Mereka mempercepat langkah sambil bersenandung riang. Tuan duduk di bawah pohon, membiarkan kerbau-kerbaunya girang bermain dengan air. Kerbau-kerbau membiarkan tubuhnya menyatu dengan air. Hanya kepala mereka yang terlihat seolah mereka hampir tenggelam.

    “Segarnya…” ucap Kerbau Hitam mendengus, menenggelamkan wajahnya dalam air, membuat gelembung-gelembung keluar dari hidungnya.

    Begitu kerbau-kerbau masuk ke dalam sungai, lalat-lalat lekas menyingkir. Bergantian mengerumuni badan Tuan yang penuh bau keringat. Tuan langsung mengibas-ibaskan topi jeraminya. Sesekali pula dia berteriak—teriakannya sama seperti saat sedang memecut pantat kerbau. Mendengar teriakan Tuan, kerbau-kerbau saling menatap satu sama lain.

    “Apa maksudnya?” tanya Kerbau Hitam.

    “Aku tidak mengerti. Apa saat ini kita juga disuruh membajak sungai? Tapi Tuan tidak memecut kita dengan tali.”

    “Mungkin dia ingin kita berjalan lebih cepat.”

    “Tapi ke mana?” tanya Kerbau Coklat sambil melihat arus air yang datang dari kanan dan arus itu terus berjalan ke kiri.

    “Begini, kamu pergi ke kanan dan aku pergi ke kiri. Mungkin begitu maksudnya,” ucap Kerbau Hitam percaya diri.

    Lalat-lalat menempelkan lidahnya pada kulit Tuan yang berkeringat, beberapa hinggap di wajah, tangan, punggung, dan kaki Tuan. Karena jengkel, suara teriakan Tuan jadi lebih keras. Bersamaan dengan kibasan topi jeraminya, dia berusaha mengusir lalat yang tidak juga pergi. Setiap Tuan mengibas, lalat lekas terbang menjauh, kemudian kembali lagi ke kulit Tuan.

    Kerbau Hitam cemas, baru kali ini dia mendengar teriakan sekeras itu dari Tuannya. Apa Tuan sedang memarahi kita? pikirnya. Kerbau Coklat lebih cemas lagi, jalannya lambat karena harus melawan arus air. Dia kebingungan antara menyerah atau terus melanjutkan langkah. Tak lama kemudian kakinya terasa lebih berat. Lebih baik aku menginjak lumpur yang mengeras dari pada berjalan di dalam air, batin Kerbau Coklat tetap berusaha melangkah.

    Tuan mengusir lalat sambil berjalan menuju ke sungai. Setelah Tuan merendamkan diri, para lalat berhamburan menjauh.

    Tiba-tiba kaki Kerbau Coklat kaku. Dia mencoba terus melangkah lagi, namun justru tak sengaja menginjak batu licin yang membuatnya tergelincir. Badan Kerbau Coklat mengambang mengikuti arus, kaki-kakinya lemas dan tak bisa digerakkan. Tuan yang berada di belakangnya pun tertabrak. Karena tak sempat mempertahankan diri, keduanya sama-sama mengambang mengikuti arus. Kerbau Hitam merasa langkahnya ringan, dapat berjalan lebih cepat. Tuan dan Kerbau Coklat menabraknya, ketiganya sama-sama mengambang seperti daun gugur di sungai. Tuan berteriak meminta tolong, berharap seseorang mendengarnya. Kerbau-kerbau saling tatap, mereka tak dapat berjalan lagi.

    Mataram, April 2021

    Nuraisah Maulida Adnani lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 27 Januari 2001. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Mataram. Cerpen-cerpennya dimuat di berbagai media, baik online mau pun offline. Saat ini bergiat di komunitas Akarpohon, dan juga mengelola perpustakaan Teman Baca, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

    Cerita Anak Indonesia Cerita Binatang Fabel Binatang
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleTokoh-tokoh “Cahaya dalam Kehidupan”
    Next Article Terlambat Sudah : Sebuah Catatan Frustasi

    Postingan Terkait

    Setana

    23 Januari 2025

    Legenda Batu Menangis

    13 Mei 2024

    Pohon Jati yang Lari-Lari

    23 Desember 2023
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Kolam Renang “Bukit Lumpang” Menjadi Destinasi Warga Lokal

    27 April 20269 Views

    Situs Ziarah KH. Abdul Hanan Babakan Ciwaringin Cirebon

    27 April 20266 Views

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202612 Views

    Wisata Waterpark Tiga Bintang Firdaus Indramayu

    24 April 20267 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (162)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.