Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Tradisi » Tradisi Makan Sirih
    Tradisi

    Tradisi Makan Sirih

    1 Januari 2022Tidak ada komentar3 Mins Read85 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Makan Sirih atau mengunyah daun sirih adalah merupakan tradisi leluhur nenek moyang  kita dahulu yang sampai saat ini masih bisa kita jumpai di masyarakat pedesaan di beberapa tempat di seluruh Indonesia. Seperti di Jawa, Sumatera, dan Indonesia bagian Timur. Sirih (Piper betle L) adalah sejenis tanaman yang tumbuh merambat atau bersandar pada batang pohon lain.

    Tradisi Makan Sirih ini dikenal dalam bahasa daerah, misalnya ‘Nginang’ atau ‘Nyusur’ di Jawa ‘Nyirih’ atau ‘Nyisig’ di Betawi.  Yaitu mengunyah daun sirih disertai dengan bumbu pelengkapnya berupa buah pinang, gambir kapur sirih (njet) dan tembako. Tradisi Nginang atau Nyirih ini dilakukan sampai membuat mulut berwarna oranye kemerahan. Nah, itulah yang disebut dengan menginang, atau tradisi memakan sirih.

    Fungsi Makan Sirih
    Makan sirih, Nginang, Nyisig, atau Nyirih ini, sama halnya dengan merokok, minum teh atau kopi. Pada awalnya, orang makan nyirih atau nginang hanya sebagai penyedap di mulut, akan tetapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan yang menimbulkan kesenangan dan terasa nikmat sehingga akhirnya ketagihan. Selain mendapatkan kenikmatan, konon katanya makan sirih itu diyakini bisa menguatkan gigi, menghilangkan luka di mulut, menghilangkan bau mulut serta menghentikan pendarahan di gusi. Padahal kalau kita cermati, itu gigi para pemakan sirih rata-rata sudah pada ompong semua, dan bau mulutnya? Ampun dah.

    Walau begitu adanya,  mengapa tradisi makan sirih itu masih juga dilakukan orang?

    Begini kiranya, bahwa ternyata masyarakat Indonesia sudah cukup lama mengenal daun sirih sebagai bahan untuk nginang atau nyirih atau nyisig dengan keyakinan bisa menyembuhkan beberapa jenis penyakit yang ada sangkut pautnya dengan mulut. Selain itu, makan sirih ini juga berfungsi di dalam  tata pergaulan dan tata nilai kemasyarakatan. Misalnya, bahan-bahan untuk makan sirih itu dijadikan hidangan penghormatan untuk tamu, dan sebagai alat pengikat dalam pertunangan sebelum menikah. Daun sirih dalam kelengkapannya juga digunakan sebagai sesaji yang merupakan syarat utama dalam upacara adat istiadat dan upacara religi yang diyakini oleh masyarakat tertentu.

    Filosofi Makan Sirih
    Selain sebagai kesenangan, simbol sosial dan adat, sirih, pinang, dan bahan-bahan adalah simbol-simbol yqng memiliki makna-makna tertentu, yaitu:

    Daun Sirih
    Daun sirih merupakan symbol dari sifat rendah hati dan memuliakan orang lain. Hal ini dikaitkan dengan hidupnya pohon sirih yang memerlukan sandaran untuk hidup tanpa merusak.

    Buah Pinang
    Pinang melambangkan keturunan yang baik, karena dilihat dari pohonnya yang lurus, menjulang ke atas. Harapan mendapatkan keturunan yang baik dan sukses.

    Kapur
    Kapur melambangkan keturunan yang baik.

    Kapur dan Tembakau
    Kapur dan Tembakau melambangkan hati yang tabah dan rela berkorban demi orang lain.

    Makan sirih, Nginang, Nyisig, atau Nyirih ini  yang merupakan tradisi khas Indonesia yang masih ada sampai saat ini, sering dijumpai dalam perjamuan tamu, perkawinan, dan upacara adat. (AY)

    Nginang Nyirih Nyisig
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleLaunching Buku Puisi dan Cerpen mbludus.com 2021
    Next Article Mengitari Tubuhmu

    Postingan Terkait

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 2026

    Tradisi Potong Jari, Papua

    17 Mei 2024

    Tradisi dan Riwayat Ketupat

    25 April 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Revolusi Kue Modern di Era Digital: dari Dapur Rumahan Menjadi Industri Kreatif Bernilai Jutaan

    18 Mei 202610 Views

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 202626 Views

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 202610 Views

    Menikmati Panjat Tebing Puisi Penyair Darmanto Jatman “Memandang Padang Alang-Alang Pada Suatu Malam”

    9 Mei 202664 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (80)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (167)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.