Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Tradisi » Tradisi Carok Madura
    Tradisi

    Tradisi Carok Madura

    11 September 2021Updated:29 September 2021Tidak ada komentar4 Mins Read109 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah. Misalnya diselesaikan lewat jalur hukum, jalur adat, atau peraturan yang disepakati bersama. Tapi jika segala cara yang ditempuh sudah mentok, dan urusannya adalah menyangkut harga diri dan kehormatan pribadi, maka jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah adalah Carok. Bertarung dengan menggunakan senjata celurit.

    Carok adalah tradisi tarung yang disebabkan karena alasan tertentu yang berkaitan dengan harga diri dan kehormatan seseorang, yang kemudian bisa berkembang menjadi urusan antar kelompok.  Tradisi bertarung dengan menggunakan senjata ini banyak pihak dianggap sebagai perbuatan keji, tindakan negatip dan kriminal serta melanggar hukum.  Tapi itulah cara orang Madura dalam menyelesaikan masalah dalam mempertahankan kehormatan dan harga diri dari masalah yang cukup pelik dan penting. Secara individual masih banyak yang memegang tradisi Carok sebagai jalan terakhir yang ditempuh dalam menyelesaikan masalah. Sebagian besar masalah itu biasanya masalah perselingkuhan dan kehormatan keluarga.

    Soal harga diri dan menjaga kehormatan keluarga, adalah nomor satu bagi umumnya masyarakat Madura. Bila perlu nyawa jadi taruhannya. Namun demikian, setiap menghadapi persoalan serumit apapun tidak secara serampangan diselesaikan dengan jalan Carok atau duel maut. Mereka biasanya melakukan pendekatan-pendekatan secara kekeluargaan, dan ketika dirasa masalah tidak bisa lagi diselesaikan secara baik-baik, maka Carok menjadi pilihan terakhir. Carok dipilih sebagai solusi akhir untuk menyelesaikan masalah. Uniknya, cara ini bisa disepakati oleh masyarakat setempat. Carok dilakukan seperti duel sejati di mana sebelum melakukan pertarungan pihak yang terlibat akan terlebih dahulu menentukan tempat dan waktu. Carok yang sudah diputuskan sulit untuk dibatalkan.

    Tradisi Carok yang bisa membuat bulu kuduk kita merinding ini memang sudah menjadi ciri khas masyarakat pulau garam Madura. Akan tetapi Carok itu tidak asal main bacok. Ada peraturan dan syarat-syarat yang harus dipatuhi sebelum seseorang memutuskan Carok sebagai alternatip untuk menyelesaikan masalah. Peraturan dan syarat-syrat itu antara lain:

    1. Memberi Peringatan
    Sebelum memutuskan untuk Carok, orang yang merasa harga dirinya tersentuh mendatangi rumah si pembuat masalah, memberi peringatan dengan baik-baik agar tidak mengulangi kesalahannya lagi. Bila masih dulangi, dia akan diperingati lagi untuk yang terakhir kalinya. Bila kemudian kesalahan yang sama sudah dilakukan sampai tiga kali, orang yang merasa harga dirinya disepelekan datang lagi ke rumah si pembuat masalah dengan membawa celurit. Dengan kata-kata yang sopan menantang untuk Carok, sekaligus menentukan kapan waktunya dan di mana tempatnya. Pada saat itu, si pembuat masalah tidak bisa menolak atau minta maaf lagi. Dia harus Carok.

    2. Mandi Besar Sebelum Carok
    Beberapa saat sebelum berangkat ke tempat Carok yang sudah disepakati bersama, seseorang yang akan melakukan Carok melakukan Mandi Besar. Hal ini menandakan kalau dirinya sudah siap mati.

    3. Carok dilaksanakan di tempat khusus.
    Carok harus dilaksanakan di tempat sepi yang terpencil dan jauh dari pemukiman. Maksudnya supaya tidak ada seorang pun yang menyaksikan duel mengerikan tersebut.

    4.   Mengembalikan Celurit yang Kalah
    Carok adalah duel sampai ada yang mati. Pemenang Carok harus membawa pulang celurit lawan yang ia kalahkan dan mengembalikan kepada keluarganya sebagai rasa hormat kepada lawannya. Juga memberitahukan kepada keluarga sang pecundang di mana jasad keluarganya berada.

    Tradisi Carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda., Setelah pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, rakyat mulai berani melakukan perlawanan pada penjajah. Senjatanya pak Sakerah adalah celurit. Pada masa itu masyarakat bawah tidak menyadari, kalau mereka sudah dihasut oleh Belanda. Mereka diadu dengan golongan keluarga jagoan yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda, yang juga sesama pribumi. Karena hasutan  Belanda itulah, para jagoan seringkali melakukan carok pada masa itu.

    Tak ada Carok yang berakhir dengan dua orang dalam kondisi baik-baik. Minimal dua pelaku Carok akan luka-luka cukup parah, bahkan salah satu pelaku bisa meninggal dunia. Bila terjadi korban meninggal, maka pelaku yang menang akan menyerahkan diri ke polisi. Tapi sayangnya, hal ini tak selalu terjadi. Ada juga para pelaku Carok menghilang, menyembunyikan diri setelah berhasil mengalahkan lawannya.

    Meskipun dianggap sebagai budaya atau tradisi, Carok pada hakekatnya adalah aksi kekerasan yang dapat menghilangkan nyawa seseorang. Menyelesaikan masalah atau perkara dengan cara duel maut ala Carok, sepertinya kurang bijak, tidak sejalan dengan Pancasila yang menjadi dasar negara kita. Yaitu sila Perikemanusiaan Yang Adil dan Beradab serta  sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

    Dihimpun dari berbagai sumber oleh: Abah Yoyok

    Carok Celurit Tradisi Madura
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleMenuju Garis Batas
    Next Article Tokoh Nasional Bidang Teknologi Penerbangan dan Antariksa

    Postingan Terkait

    Tradisi Potong Jari, Papua

    17 Mei 2024

    Tradisi dan Riwayat Ketupat

    25 April 2024

    Perayaan Cap Go Meh

    7 Maret 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisintaksis dan Manusia Algoritma: Ketika Peluncuran Buku Menjadi Peristiwa Ontologis

    21 Februari 202687 Views

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 202614 Views

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 202613 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202695 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (207)
    • Bisnis (7)
    • Buku (84)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.