Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Sajak di Skypiea
    Puisi

    Sajak di Skypiea

    6 September 2021Updated:6 September 2021Tidak ada komentar5 Mins Read92 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Hisyam billya al-wajdi Penyair kelahiran Yogyakarta, yang kini berbisnis di kampung halaman ini, ternyata masih menyimpan tenaga untuk melahirkan beberapa Puisi di tengah kesibukannya.

    Latar belakang pendidikan dan lingkungan sekitar, kadang bisa menyeruak begitu saja, mungkin tanpa disadari oleh Sang Penyair, bahwa diksi diksinya memang beraroma tentang latar belakang Penyair.

    Sebut saja beberapa Judul Puisi besutan Penyair yang pernah belajar Filsafat di Kampus UIN Sunan Kalijaga, berlanjut belajar di Universitas Negeri Yogyakarta dengan mengambil Prodi Pendidikan Kewarganegaraan, serta bisnis yang dijalankannya.

    Di Puisi Sajak Buat Alina ada satu penanda bahwa Penyair memang pernah belajar filsafat. Kalimatnya bisa terpindai sebagai ungkapan filosofis, semisal: Dari balik jendela, tuhan terus saja menuangkan hujan ke cawan-cawan semesta.

    Demikian juga tentang latar prodi pendidikan yang biasanya membahas tentang seputar mengerti dan tidak mengerti, tahu dan tidak tahu, serta bagaimana agar menjadi paham. Hal seperti ini bisa dinikmati pada Puisi Sajak di Skypiea pada kalimat: “Aku tau kesumat apa itu,” Warna putih yang menyebul ke arahku, “Aku tak tau kesumat apa itu,”

    Begitu juga kehidupan bisnisnya pun juga mewarnai aroma puisi, Hal ini bisa dibaca pada usungan angka angka, semisal di Puisi Bunga Lima Puluh Hari.

    Puisi puisi berikutnya, tentu tidak terlalu jauh dari latar belakang Penyair, baik dalam pemilihan logika kata, rasa bahasa, maupun diksi misteri yang ditayangkan di dalam puisi puisinya.

    Pilihan katanya pun masih belum terendus bebas dari latar belakang si Penyair, dan justru mampu melekat menyatu pada setiap gaya ungkapnya.

    Selamat menikmati, dan temukan misteri diksinya!

    Sajak  Buat Alina

    Kita menghabiskan malam-malam yang halus Alina; Berdua saja
    Rembulan di wajahmu, tawa kecil yang lepas tiap kali kita bertatapan
    Seperti di film-film roman itu; Angin melukis wajah kita di angkasa
    Ada birahi yang lepas, Terjun bebas layaknya daun pakis
    Kita setengah amnesia, Seperti wartawan koran ketika merekontruksi angle berita
    Di luar hujan mulai renyai, di sini cinta menyergap kita,
    Segelas sirup Tjampolay itu masih suci menyiksa mata
    “Kau pernah mendengar lagu Moon River?” tanyamu
    Tidak,aku penggemar kidung dan kakawin Alina
    Dari balik jendela, tuhan terus saja menuangkan hujan ke cawan-cawan semesta
    Mungkin di belahan bumi yang lain, para penyair menulis puisi-puisi masygul atau prosa yang gabuh
    “Tapi Alina, kau pernah dengar kisah Shimamura dalam untaian haiku seputih salju?”tanyaku
    (Lampu tugur itu mulai mengkerut,udara dingin mengalir)
    “Aku pernah baca sekilas, rimanya cukup menyenangkan seperti suara empuk Sebastian Bach”
    “Ya seperti freddie ia mungkin bisa melampaui empat oktaf Alina”
    Kemudian ia menggengam tanganku, wajahnya mendekat bibirnya tiba-tiba merekah, senyum tipis itu mengembang mirip bunga gladiul
    “kau membuatku terpukau”pujinya
    Dan kita berciuman sangat lama
    sangat-sangat lama

    2021

    Sajak di Skypiea

    Sungguh kita memang tak tau apapun tentang lautan, dan dataran awan ini. Kita tak mungkin mengambilnya meski sejumput saja
    “Hampir saja kita di lumat habis oleh knock up stream itu Nami,“ katanya
    “Aku tau kesumat apa itu,” Warna putih yang menyebul ke arahku,
    “Aku tak tau kesumat apa itu,” Flora fauna yang bermukim di sana, doa-doa yang tergantung di sekitar kita
    Menit demi menit menyusut di sini; matahari menyala seperti tuan besar di kerajaan Alabasta. Luffy ini tanah nenek moyang kita, yang terpaut pada layar dan desir angin. Di bumi yang letih, barangkali akan senantiasa ada sepasang kurcaci, peri dan kerinduan tak bertepi
    Diam-diam mimpi mengeras seperti bongkahan emas, ketika kau teguk umur dan puisi masa kecilmu
    Akankah ada peramu kata di sini, di hamparan awan dan derak panas ini?
    “Seseorang telah menginjakan kaki di sini, sebelum kita, waktu memang selalu mengulur rahasia demi rahasia,” ucapnya.

    2021

    Bunga Lima Puluh Hari

    Bunga lima puluh hari telah sampai mengecup pipi
    Linang-linang embun yang menyertai
    Bunga lima puluh hari
    Kecemasaan dan ragu-ragu tak lagi hinggapi
    Bunga lima puluh hari
    Mengikat janji dengan kupu-kupu dan lebah
    Untuk esok yang lebih cerah

    2021

    Stairway to Heaven
    -Led Zeppelin

    Nona, gigi hujan yang rontok ke bumi; dari langit ketiadaan
    Suara angin mencuat, teralis-teralis perak bersedekap
    Cahaya matahari menyusup di Alpen dan menguyur town house
    September tiba mirip bom waktu tertanam di bawah jantungmu
    Di tengah-tengah arus dan batu
    Nona, seringkali kata-kata memiliki dua arti mirip seruling Hamelin sebelum punah dan terkuduskan
    Tiba-tiba angin mengantarmu ke langit
    Dan berguling-guling diatas hamparan awan, lukisan nabi dan para rahib mencecap mata
    Surga yang di janjikan jadi tawar
    Nona kau julurkan leher,kepingan-kepingan pelangi melilit
    Hawa panas menembus, Viennese emona memanjang jadi kaki bagi langit
    Dimana warna laut, matahari meleleh tubuhku kau bungkus dengan turtleneck
    Panas membara, burung-burung kabur

    2021

    Lorong Mei

    Mei
    Menitikan air mata padamu
    Dari kejauhan
    Sangat jauh
    Sayup-sayup suaramu merambat kesana
    Menyelinap pada lorong mei
    Kuncung angin sekitarmu telah membabar jati diri
    Dan kabut
    Makin tebal

    2021

    Hisyam billya al-wajdi lahir di Yogyakarta, 11 februari 2002. Penulis mempelajari filsafat secara formal selama dua semester di UIN Sunankalijaga kemudian berhenti dan melanjutkan studi di Universitas Negeri Yogyakarta dengan mengambil Prodi Pendidikan Kewarganegaraan. Puisinya dimuat dalam berbagai antologi dan media baik cetak maupun online. Kini tengah menyibukkan diri merintis bisnis di kampung halaman.

    Komunitas Penulis Yogyakarta penyair indonesia puisi naratif
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleSiganjang Laleng Lipa
    Next Article Menuju Garis Batas

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 202610 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202676 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202639 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202615 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.