Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Dongeng » Dongeng Si Kelingking
    Dongeng

    Dongeng Si Kelingking

    10 Juli 2021Updated:10 Juli 2021Tidak ada komentar3 Mins Read2,439 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Dahulu kala di sebuah desa di Pulau Belitung, hiduplah sepasang suami istri. Walaupun hidup dalam kemiskinan dan belum mempunyai seorang anakpun, mereka tetap rukun dan bahagia. Siang malam tak henti-hentinya mereka berdoa, memohon kepada Tuhan yang Maha Kuasa. “Ya, Tuhan! Karuniakanlah kami seorang anak, walaupun hanya sebesar kelingking!” Begitulah do’a yang selalu mereka panjatkan.

    Alhamdulillah, Tuhan pun mengabulkan do’a suami istri itu. Sang istri pun mengandung. Beberapa bulan kemudian, ia melahirkan. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat bahwa ternyata bayinya hanya sebesar kelingking. Oleh karena itu, mereka memberinya nama Kelingking.

    Ternyata Si Kelingking ini mempunyai kebiasaan aneh. Walaupun badannya sangat kecil, tetapi makannya banyak. Tentu saja hal ini sering membuat orang tuanya jadi pusing. Untuk makan sehari-hari saja susah, eh punya anak makannya banyak dan rakus, tak pernah merasa kenyang. Selalu merengek minta makan. Saking bingungnya, maka kesabaran mereka pun jadi hilang. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk membuang jauh-jauh Si Kelingking. Berbagai macam usaha telah dilakukan untuk membuang anak mereka, namun selalu saja Si Kelingking kembali pulang ke rumah, merengek minta makan. Sampai akhirnya pada suatu hari, Sang Ayah mengajak si Kelingking pergi ke hutan untuk mencari kayu.

    Sesampainya di tengah hutan, Sang Ayah segera menebang pohon besar yang sengaja diarahkan kepada anaknya. Beberapa saat kemudian, pohon besar itu pun roboh menimpa si Kelingking. Setelah menunggu sejenak dan memastikan bahwa anaknya sudah mati, Sang Ayah segera kembali pulang ke rumahnya, melapor pada istrinya. Mendengar cerita suaminya, Sang Istri pun menjadi lega. Mereka lupa bahwa perbuatan membunuh anak sendiri adalah dosa dan merupakan perbuatan yang amat tercela.

    “Bang! Mulai hari ini, hidup kita akan jadi tenang,” kata sang istri kepada suaminya dengan senang hati. Akan tetapi, baru saja kata-kata itu terlontar dari mulut Sang Istri, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar rumah.

    “Ayah… ! Ini kayunya mau taruh dimana?” Suara keras terdengar dari luar rumah.

    Dengan penuh rasa heran Sang Istri pun bertanya, “Bang! Bukankah anak itu sudah mati?”

    “Ayo, kita keluar melihatnya!” seru Sang Suami penasaran. Sesampainya di luar rumah, mereka sangat terkejut melihat si Kelingking sedang memikul sebuah pohon besar di pundaknya.

    Setelah meletakkan kayu itu, si Kelingking langsung masuk ke rumah, mencari makanan. Karena merasa kelaparan, ia pun menghabiskan sebakul nasi. Sementara ayah dan ibunya hanya duduk terbengong-bengong melihat anaknya, tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.

    Ketika melihat Si Kelingking begitu lahapnya makan dan seolah tak pernah tahu akan niat jahat orang tuanya, akhirnya suami istri itu sadar. Si Kelingking adalah darah dagingnya, sudah seharusnya ia dirawat dengan baik. Maka sejak saat itu, mereka dengan hati ikhlas menerima keadaan si Kelingking apa adanya. Ternyata keberadaan si Klingking sangat berguna, dengan tenaganya yang besar, si Kelingking mampu melakukan pekerjaan yang berat. Pada akhirnya kehidupan mereka pun menjadi lebih baik, si Kelingking menjadi sumber tambahan penghasilan keluarganya. (AY)

    ***

    Dapoer Sastra Tjisaoek, Juli 2021

    cerita rakyat Cerita Rakyat Belitung dongeng
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleAntara Cobaan, Ujian dan Pilihan
    Next Article Tradisi Lompat Batu

    Postingan Terkait

    Setana

    23 Januari 2025

    Legenda Batu Menangis

    13 Mei 2024

    Pohon Jati yang Lari-Lari

    23 Desember 2023
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 202610 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202676 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202639 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202615 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.