Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Tradisi » Tradisi Nyadran
    Tradisi

    Tradisi Nyadran

    11 April 2021Updated:13 April 2021Tidak ada komentar2 Mins Read100 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Tanah air kita tercinta, Indonesia memiliki berbagai suku yang tersebar dari Sabang sampai Marauke dan masing-masingn suku mempunyai kebudayaan unik. Di sisi lain, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbanyak di dunia. Perpaduan dari kedua hal  itulah yang kemudian memunculkan banyak tradisi unik di Tanah Air ketika menyambut datangnya bulan puasa Ramadhan yang mewajibkan setiap muslim berpuasa penuh selama satu bulam. Salah satu tradisi tersebut adalah Nyadran yang biasa dilaksanakan oleh masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah.

    Nyadran pada hakekatnya adalah adalah suatu rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga (nyekar), dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur.

    Kegiatan Nyadran ini konon kabarnya berasal dari tradisi Hindu-Budha yang sudah ada sejak abad ke 15. Dan pada saat itu para Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima oleh para penduduk di pedesaan. Di awal dakwahnya, para Wali berusaha untuk meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa pada saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agam Islam dinilai musrik. Agar tidak berbenturan dengan tradisi yang sudah mendarah daging di masyarakat pedesaan itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelasraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa. Sehingga akhirnya Nyadran dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan.

    Nyadran biasanya dilaksanakan di hari kesepuluh pada bulan Rajab, atau saat datangnya bulan Sya’ban.Dalam ziarah kubur, biasanya para peziarah membawa bunga sebagai lambang adanya hubungan yang akrab antara peziarah dengan arwah yang diziarahi.  Makam-makam  yang diziarahi antara lain makam leluhur (kakek, nenek, buyut), orang tua serta saudara-saudara yang sudah meninggal dunia. Seusai tabur bunga dan berdoa, masyarakat menggelar kenduri atau makan bersama di sepanjang jalan atau tempat tertentu di area makam yang telah digelari tikar dan daun pisang. Setiaap keluarga yang mengikuti kenduri harus membawa makanan sendiri. Makanan yang dibawa harus berupa makanan tradisional, seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayuran (gudangan) dengan lauknya  ikan asin, perkedel,  tempe dan tahu bacem, dan lain sebagainya.

    Kegiatan Nyadran atau ada juga yang menyebutnya Ruwahan, pada umumnya adalah terdiri dari:

    1. Melakukan kenduri atau selamatan dengan pembacaan ayat Al-Qur’an, Zikir, Tahlil dan Doa. Lalu ditutup dengan acara makan bersama.
    2. membersihkan makam leluhur, keluarga dan karib kerabat.
    3. Ziarah kubur dengan tabur bunga dan kirim do’a kepada roh yang telah meninggal dunia di masing-masing kuburnya.(AY)

    Dikumpulkan dari berbagai sumber (redaksi)

    bulan puasa nyadran Tradisi ramadhan
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleSugeng Tindak Umbu Landu Paranggi
    Next Article Seonggok Tubuh di Gedung Putih Jalan Kaliurang

    Postingan Terkait

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 2026

    Tradisi Potong Jari, Papua

    17 Mei 2024

    Tradisi dan Riwayat Ketupat

    25 April 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 20264 Views

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 20265 Views

    Menikmati Panjat Tebing Puisi Penyair Darmanto Jatman “Memandang Padang Alang-Alang Pada Suatu Malam”

    9 Mei 202626 Views

    Wisata Dataran Tinggi Dieng Kembali Ramai Dikunjungi Wisatawan

    5 Mei 20265 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (80)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (166)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.