Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Surat Cinta dari Fiksiku
    Puisi

    Surat Cinta dari Fiksiku

    10 Desember 2020Updated:24 Oktober 2021Tidak ada komentar3 Mins Read37 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Ketika kemudian puisi menjadi alat atau media untuk mengekspresikan diri, maka dari hati bening akan muncul karya yang juga bening, bahkan mampu mengalahkan beningnya embun pagi yang menggantung di ujung daun. Hati terasa sejuk ketika kita dengan ikhlas menikmatinya. Begitulah puisi-puisi yang ditulis oleh Arsy Fathya Ningrum. Bening, sejuk, membuat kita merasa adem tentram. Selamat menikmati.

    Sang Maha Cinta

    Dengan ibujari, aku berpuisi
    Tiap jengkal tubuhku adalah milik-Nya
    Sesempurna itu hidupku diatur-Nya
    Tak melihat dosa apa yang aku cipta Dia tetap cinta
    Tak pernah bosan mendengar apa yang ku pinta

    Tak ada yang bisa ku ucapkan selain kata sempurna
    Dia-lah yang tetap setia
    Pada tubuhku yang mulai renta
    Saat jatuh Dia selalu ada
    Dia-lah yang selalu ku puja

    Selalu ku titipkan namamu pada-Nya
    Agar hidupmu selalu terjaga
    Satu mimpiku yang masih disimpan di angkasa
    Semoga surga semakin dekat ketika kita bersama
    Bersama dalam ridho-Nya
    Menuju kehidupan yang abadi selamanya

    ***

    Serpong, Januari 2019

    Surat Cinta dari Fiksiku

    Tiap-tiap masa kelammu aku di situ
    Hela nafasmu adalah hal yang kurindu
    Menari-nari di ataskelabu, lalu kamu terpaku
    Mengapa menjadi bisu?
    Guratkan lagi penamu yang dulu

    Tak bisa ku dekap lama cinta kasihku
    Berdirilah semampumu
    Temui kelabumu jangan takut karena aku bersamamu
    Kemana kamu mencariku, aku ada di situ
    Bersama tumpukan buku-buku atau puisi baru
    akulah kamu dan fiksimu

    ***
    Serpong, Maret 2019

    Dari Aku Untuk Aku

    Tak siapa-siapa kecuali aku;
    Yang mengerti rintihan
    Yang percaya kekuatan
    Yang menyembuhkan kesakitan
    Yang memeluk tangisan
    Yang menguatkan ujung yang hampir usai
    Yang membangkitkan keyakinan yang hampir hilang

    Tak siapa-siapa kecuali aku;
    Bertahan pada tiang-tiang yang siap runtuh
    Pulang saat mulai ramai
    Datang pada malam-malam menemui kelam
    Berdiri di kalimat-kalimat mereka yang menghujam tajam
    Berdiam di sudut kota berminim cahaya
    Berteman dengan sunyi

    Tak siapa-siapa kecuali aku;
    Tak tahu siapa lagi
    Tak mengerti apa-apa kecuali diam
    Tak dengar suara siapa-siapa kecuali angin
    Tak terasa siapa-siapa yang cinta
    Tak takut pada pena yang menodai kertas
    Tak bisa mencium apa-apa yang busuk

    Tak siapa-siapa kecuali aku;
    Bermalam bersama pikiran yang runyam
    Berkebun di ladang rindu
    Berbalik arah melawan angin sendu
    Berbisik di balik secarik kertas
    Bercanda bersama secangkir kopi
    Bertukar rindu pada dini hari
    Aku adalah hadiah untuk diriku, tak siapa-siapa kecuali aku

    ***
    Serpong, Februari 2019

    Apabila Kamu

    Apabila kamu pagi
    jadilah pagi yang menyejukkan

    Apabila kamu siang
    jadilah siang yang menyilaukan

    Apabila kamu senja
    jadilah senja yang jingganya berkilauan

    Apabila kamu malam
    jadilah malam yang meneduhkan

    Kamulah yang paling membahagiakan,
    di awal dan di akhir kehidupan

    ***

    Serpong, April 2019

    Aku Aku dan Aku

    Bekerja paruh waktu sembari menuntut ilmu
    Menemui sunyi membaca buku
    Menikmati jerih payah sendiri atau bersama sendu

    Aku, aku, dan aku;
    Menarik diri, memilih sendiri, didampingi sunyi, tak bermain api, meski tak abadi
    namun tetap menyinari
    Menyinari aku yang setia menari-nari pada hujan di atas sanubari

    Aku, aku, dan aku;
    Berusaha terbiasa, menatap terik yang menyapu asa yang tak akan menjadi nyata
    Sibuk sendiri
    Membenahi pikiran-pikiran yang berserakan
    Menyapu jiwa-jiwa yang berantakan

    Asik sendiri
    Membuang rupiah untuk perut yang lapar
    Untuk wajah yang warnanya hampir pudar

    Diam
    Tapi hatinya berisik
    Karena pikirannya terusik
    Bosan
    Pada apa-apa yang merusak ketenangan
    Pada denting yang penuh angan

    ***

    Serpong, 2 juli 2019

     


    Arsy Fathya Ningrum
    , Penulis aktif, saat ini menetap di Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan. Kelahiran  Tangerang, 1 Maret 1997. Aktifitas sehari-hari mengajar les privat. Email : fathyaarsy@gmail.com

    Puisi Cinta puisi indah Puisi Romantis
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleRevitalisasi Pondok Pesantren
    Next Article 300 Ribu yang Membuat Bahagia

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Inspirasi Iptek Di Dalam Bismillah

    29 April 20267 Views

    Kolam Renang “Bukit Lumpang” Menjadi Destinasi Warga Lokal

    27 April 20269 Views

    Situs Ziarah KH. Abdul Hanan Babakan Ciwaringin Cirebon

    27 April 20266 Views

    Healing Murah Meriah di Pantai Kejawanan: Wajah Baru, Vibes Makin Seru!

    24 April 202612 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (162)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.