Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Dongeng » Hikayat Si Miskin (Bagian 2)
    Dongeng

    Hikayat Si Miskin (Bagian 2)

    18 Januari 2020Updated:3 November 20212 Komentar4 Mins Read3,138 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    (Bagian 2)

    Singkat cerita, Marakarma dan adiknya, Nila Kesuma, sampai di kaki sebuah bukit. Badan lemas dan perut menahan lapar. Mereka berhenti untuk melepas lelah di bawah sebuah pohon rindang. Begitu mereka duduk, seekor burung hinggap di pundak Marakarma yang segera ditangkapnya. Lumayan buat pengobat lapar, pikirnya. Maka diajaklah adiknya untuk mencari api ke rumah petani di sebuah kampung. Ia hendak membakar burung tangkapannya itu untuk dimakan sebagai penangkal lapar. Tetapi apa yang terjadi? Marakarma dan adiknya ditangkap oleh paman petani karena dituduh hendak mencuri. Mereka berdua lalu dibuang, dilempar ke laut. Diterjang ombak sampai hanyut kesana kemari, sampai akhirnya Nila Kesuma terdampar di sebuah pantai entah di mana. Ia ditemukan oleh Raja Mangindra Sari, putra mahlota kerajaan Palinggam Cahaya. Nila Kesuma dibawa ke istana, kemudian dipersunting raja Mangindra Sari, menjadi permaisurinya dengan gelar Putri Mayang Mengurai.

    Sementara itu, Marakarma dibawa gulungan ombak dan terdampar di tepi pantai yang dijadikan pangkalan tempat mandinya Nenek Gergasi si raksasa tua. Kemudian ia diambil dan dimasukkan dalam kurungan di di depan rumahnya rumahnya, tak jauh dari pantai. Kebetulan di situ telah dikurung pula Putri Raja Cina bernama Cahaya Khairani yang tertangkap lebih dahulu. Mereka ini akan dijadikan santapan Nenek Gergasi.

    Alkisah pada suatu hari, ada sebuah kapal mendekati pantai. Sang nahkoda kapal yang melihat ada orang dalam kurungan segera memerintahkan anak buahnya untuk menolong orang yang ada dalam kurungan itu dan membawanya ke kapal. Kebetulan Nenek Gergasi sedang tak ada di rumah ketika itu. Setelah sampai di atas kapal, melihat kecantikan dari Cahaya Khairani, sang Nahkoda langsung jatuh cinta. Cahaya Khairani dipaksa masuk ke kamarnya dan Marakarma dilemparkan ke laut. Kapal pun meneruskan perjalanan.

    Dalam keadaan terapung-apung dipermainkan ombak yang gulung-gemulung, setelah kapal jauh berlayar, Marakarma ditelan seekor Ikan Nun yang sangat besar. Ikan itu kemudian terdampar di tepi pantai dekat rumah Nenek Kebayan. Bertepatan pada saat itu ada seekor burung Gagak yang melintas di atas pondok Nenek Kebayan. “Oowaak… Owaak…,” teriak si burung seakan memanggil Nenek Kebayan kalau ada seekor ikan terdampar, dan memberitahu agar segera membelah perut Ikan Nun yang terdampar di pantai itu dengan hati-hati, karena di dalamnya ada seorang anak raja. Petunjuk burung itu diikuti oleh Nenek Kebayan, dan setelah perut ikan dibelah, keluarlah Marakarma dari dalamnya. Nenek Kebayan sangat gembira karena telah mendapatkan mendapatkan seorang putra yang gagah dan tampan.

    Marakarma tinggal di rumah Nenek Kebayan dan sehari-hari ia ikut membantu membuat rangkaian bunga untuk dijual dan dikirim ke pembelinya di pelosok negeri. Dari cerita Nenek Kebayan tahulah Marakarma, bahwa permaisuri kerajaan tempat di mana ia tinggal bersama Nenek Kebayan bernama Mayang Mengurai, yang tiada lain adalah seorang putri yang dibuang ke laut oleh seorang petani ketika hendak mencari api untuk membakar seekor burung bersama kakaknya. Maka, yakinlah Marakarma bahwa putri itu sesungguhnya adalah adiknya sendiri.

    Kebetulan Cahaya Khairani maupun Mayang Mengurai sangat menyukai rangkaian bunga buatan Nenek Kebayan, yang sebenarnya dirangkai oleh Marakarma. Pada suatu ketika, Marakarma mencantumkan namanya pada karangan bunga yang dirangkainya. Maka, daripada nama itulah Cahaya Khairani dan Nila Kesuma mengetahui bahwa Marakarma masih hidup. Benih-benih cinta pun mulai bermekaran di hati Cahaya Khairani bila teringat pada Marakarma yang pernah satu kurungan akan menjadi santapan Nenek Gergasi. Akan halnya Nila Kesuma, ia pun rindu ingin berjumpa dengan kakaknya yang ternyata masih hidup. Bersama suaminya ia segera mencari kakaknya, ke rumah Nenek Kebayan.

    Betapa gembiranya Mayang Mengurai ketika berhasil menemukan kakaknya di rumah Nenek Kebayan. Selanjutnya, dengan mudah, Marakarma bersama iparnya, Raja Palinggam Cahaya, dapat menemukan tempat Cahaya Khairani disembunyikan oleh nakhoda kapal. Setelah Cahaya Khairani ditemukan, dan ternyata ia belum ternoda oleh sang nakhoda, maka dilangsungkanlah pernikahan antara Marakarma dengan Cahaya Khairani, setelah sang nakhoda yang menggoda Cahaya Khairani itu dibunuh di Kerajaan Palinggam Cahaya.

    Marakarma bersama Cahaya Khairani kemudian pergi ke tempat ayah-bundanya yang telah jatuh miskin di Puspa Sari. Dengan kesaktiannya, Puspa Sari yang telah lenyap itu diciptakannya kembali menjadi kerajaan yang lengkap dengan isinya.  Kemudian ia dinobatkan menjadi raja di sana menggantikan ayahnya. Kerajaan Puspa Sari berganti nama menjadi Mercu Buana.

    ***
    Dapoer Sastra Tjisaoek, Feb, 2020
    Diceritakan kembali oleh: Abah Yoyok

    Cerita sebelumnya: https://mbludus.com/hikayat-si-miskin/

     

    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleHujan
    Next Article Memesan Takdir

    Postingan Terkait

    Setana

    23 Januari 2025

    Legenda Batu Menangis

    13 Mei 2024

    Pohon Jati yang Lari-Lari

    23 Desember 2023

    2 Komentar

    1. HANIK MARDIYAH on 4 Mei 2021 9:14 pm

      Terima kasih. Sangat membantu.

      Reply
    2. Pingback: Hikayat Si Miskin - Mbludus.com

    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menakar Aroma Surealisme Puisi Penyair D. Zawawi Imron “Sungai Kecil”

    19 Mei 202660 Views

    Revolusi Kue Modern di Era Digital: dari Dapur Rumahan Menjadi Industri Kreatif Bernilai Jutaan

    18 Mei 202613 Views

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 202633 Views

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 202627 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (81)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (167)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.