Oleh Nurfaiqoh
Membaca sebuah kumpulan cerita pendek sering kali seperti bertamu dari satu rumah ke rumah lain. Namun, membaca Ilusi-Delusi karya Nana Sastrawan rasanya lebih seperti masuk ke dalam labirin pikiran seseorang. Dengan sub-judul “19 Kisah Realis Surealis”, penulis tidak hanya menyajikan cerita, melainkan sebuah perjalanan psikologis yang runtut. Lewat esai ini, kita akan membedah bagaimana ke-19 bab di dalam buku ini perlahan-lahan menguliti cara kita memandang dunia, lingkungan, hingga sudut paling gelap di dalam diri kita sendiri.
Sastra selalu memiliki cara tersendiri untuk memotret realitas kehidupan. Ia tidak hanya berfungsi sebagai cermin yang memantulkan apa yang tampak di permukaan. Dalam perkembangannya, para penulis sering kali merasa bahwa gaya penceritaan yang lurus atau realis saja tidak cukup untuk menggambarkan betapa kompleksnya isi kepala manusia modern. Hal inilah yang melahirkan genre realis-surealis, sebuah wilayah abu-abu di mana kenyataan hidup yang pahit bersanding dengan keliaran dunia mimpi atau imajinasi bawah sadar.
Salah satu karya kontemporer Indonesia yang berani menjelajahi wilayah batas ini adalah buku Ilusi-Delusi: 19 Kisah Realis Surealis karya Nana Sastrawan. Kehadiran buku ini menjadi sangat menarik di tengah membanjirnya karya sastra populer yang cenderung seragam. Sejak pertama kali melihat sampulnya, buku ini sudah membawa pesan visual yang kuat melalui ilustrasi anatomi otot manusia dan pohon yang gersang. Hal ini dipertegas oleh kutipan filosofis di bagian depan: “kau menyebutnya bumi manusia aku memaknainya dunia kata-kata”. Kutipan tersebut seolah menjadi fondasi awal bahwa realitas yang kita jalani sehari-hari sebenarnya sangat rapuh dan bentuknya sangat bergantung pada bagaimana cara kita membahasakannya.
Fenomena kehidupan modern yang serba cepat, ketergantungan pada teknologi, hilangnya identitas personal karena sistem birokrasi, hingga rapuhnya kesehatan mental menjadi pemantik utama lahirnya 19 kisah di dalam buku ini. Nana Sastrawan tidak mencari bahan cerita yang jauh; ia mengambil objek-objek yang sangat dekat dan akrab dengan keseharian kita seperti hujan, telepon seluler, arloji, secangkir kopi, hingga sebuah poster lalu menyuntikkan distorsi logika di dalamnya. Lewat pendekatan realis-surealis ini, hal-hal biasa tersebut berubah menjadi teror psikologis yang memaksa pembaca untuk mempertanyakan kembali batasan antara kewarasan (realitas) dan keyakinan yang keliru (delusi).
Oleh karena itu, mengulas buku Ilusi-Delusi bukan sekadar membaca kumpulan cerita pendek untuk mengisi waktu luang. Buku ini adalah sebuah respons kreatif sekaligus kritik mendalam terhadap kondisi manusia modern yang sering kali mengalami disorientasi jiwa akibat tekanan dunia luar. Memahami latar belakang penciptaan dan gagasan besar di balik 19 kisah ini penting dilakukan untuk melihat sejauh mana kekuatan bahasa dan sastra mampu memetakan, mengkritik, sekaligus menyembuhkan keretakan psikologis yang kerap kita sembunyikan di balik topeng kehidupan sehari-hari.
Perjalanan kita dimulai pada bab-bab awal yang berfungsi sebagai peletakan batu pertama dari dunia yang ingin dibangun oleh penulis. Melalui bab pembuka yang berjudul “Dunia”, kita langsung dihadapkan pada gagasan utama buku ini yang selaras dengan kutipan di sampulnya: “kau menyebutnya bumi manusia aku memaknainya dunia kata-kata”. Di sini, dunia tidak lagi dipandang sebagai ruang fisik yang kaku, melainkan sesuatu yang fleksibel, yang bentuknya ditentukan oleh bagaimana pikiran kita membahasakannya.
Gagasan tentang kebebasan berpikir ini kemudian dipertegas pada bab berikutnya, “Khairil”. Lewat gaya surealis, bab ini menjadi ruang dialog imajiner dengan semangat sang penyair legendaris, mengingatkan kita arti menjadi manusia yang merdeka di tengah dunia yang penuh kekangan. Atmosfer puitis itu lalu ditutup dengan manis namun getir dalam “Insiden Hujan”, di mana air yang turun dari langit berubah menjadi katalisator yang mengaburkan batas antara kenyataan di bumi dan lamunan yang ada di kepala.
Memasuki bagian berikutnya, penulis mulai membawa kita melihat realitas sosial yang lebih dekat, namun dengan kacamata yang mengusik. Dalam bab “Soliter”, kita diajak menyelami ruang sunyi manusia modern yang saking sepinya, mulai berkomunikasi dengan bayangannya sendiri. Kesendirian itu terasa semakin ironis saat kita membaca bab “Menonton Teater”, sebuah sindiran halus bahwa hidup di sekitar kita sebenarnya tak lebih dari panggung sandiwara tempat semua orang memakai topeng kepalsuan.
Pencarian akan ketulusan di tengah kepalsuan itu digambarkan secara apik dalam bab “Jarum dalam Lumpur”, sebuah metafora tentang betapa sulitnya mencari kebenaran di lingkungan yang sudah telanjur rusak. Puncaknya, kritik sosial ini dirangkum dengan sangat tajam lewat bab “Kota Ilusi”. Di sana, gemerlapnya kehidupan urban digambarkan sebagai fatamorgana indah dari kejauhan, namun sebenarnya hampa dan perlahan-lahan mematikan jiwa manusia yang tinggal di dalamnya.
Sisi menarik dari gaya bercerita Nana Sastrawan adalah kemampuannya mengubah objek sehari-hari menjadi sesuatu yang meneror pikiran. Tengok saja bab “Selular”, yang menyentil bagaimana ponsel pintar yang kita genggam setiap hari justru memutus ikatan batin yang nyata antar-manusia. Kegelisahan modern ini berganti menjadi kecemasan eksistensial yang mencekam dalam bab “Ambulan”, di mana suara sirine berubah menjadi pengingat yang dingin bahwa kematian selalu mengintai di tikungan jalan.
Namun, di tengah kecemasan itu, Nana menyediakan ruang kontemplasi yang sangat intim lewat bab “secangkir kopi pahit tuhan”. Ditulis dengan huruf kecil seolah menegaskan betapa kerdilnya manusia, bab ini menyajikan dialog spiritual yang getir tentang bagaimana manusia belajar menerima takdir hidup yang sepahit kopi tanpa gula. Setelah perenungan yang berat itu, pembaca diguncang kembali oleh bab “Cincin dan Celana Dalam”, sebuah cerita berani yang membongkar kemunafikan hubungan manusia dengan mengontraskan simbol kesucian dan hasrat privat yang tabu.
Paruh akhir buku ini mulai bergeser ke arah distorsi waktu dan hilangnya kendali diri. Bab “Arloji” hadir sebagai visualisasi dari kecemasan kita terhadap waktu yang terus memburu tanpa ampun, menjebak manusia dalam rutinitas yang monoton. Ketika tekanan itu tak lagi tertahankan, muncullah sosok dalam bab “Seorang Wanita Mabuk”. Lewat bab ini, kita diajak untuk tidak menghakimi pelarian seseorang, melainkan melihat luka batin dan trauma yang sedang berusaha ia lupakan di balik racauannya.
Uniknya, penulis menuliskan bahwa masa lalu tidak hanya tinggal di dalam ingatan, tetapi juga tumbuh bersama tubuh kita, seperti yang diceritakan dalam bab “Rambut”. Rambut digambarkan sebagai ruang penyimpanan memori yang terus memanjang dan mengikat pemiliknya. Semua akumulasi ingatan, penyesalan, dan waktu yang berlari itu akhirnya bermuara pada suasana senja yang melankolis dalam bab “Suatu Sore di Hari Terakhir”, sebuah refleksi mendalam tentang jam-jam terakhir sebelum datangnya sebuah perpisahan yang mutlak.
Pada bab-bab penutup, Ilusi-Delusi mencapai puncak distorsi realitasnya. Bab “Nomor” hadir sebagai protes keras terhadap dunia modern yang sering kali mereduksi kemanusiaan kita menjadi sekadar angka statistik atau data birokrasi. Kehilangan identitas ini diperparah dalam bab “Poster”, yang membedah kepedihan seseorang yang harus menampilkan citra diri yang sempurna di depan publik, padahal jiwanya hancur berantakan di dalam rumah.
Sebelum sampai di akhir, kita diajak melakukan perjalanan spiritual yang agak mistis dalam bab “Petilasan”. Di sini, batas waktu benar-benar lebur, menunjukkan bahwa sejarah dan jejak masa lalu leluhur sebenarnya tidak pernah mati dan selalu membayangi langkah kaki kita di masa kini.
Petualangan hebat ini akhirnya ditutup oleh bab “Dokter Jiwa”. Bab ini adalah muara sekaligus kesimpulan dari seluruh tema ilusi dan delusi yang dibangun sejak awal. Di dalam ruang praktik dokter jiwa ini, sekat kewarasan yang kita pegang erat-erat sepanjang membaca buku ini akhirnya runtuh. Penulis menutup bukunya dengan sebuah pertanyaan besar yang menggantung di kepala pembaca: jika dunia luar sudah se-absurd dan sepalsu ini, siapakah yang sebenarnya gila? Karakter di dalam cerita, dokter yang merawatnya, atau kita yang menganggap dunia ini baik-baik saja?
Melalui eksplorasi mendalam terhadap 19 kisah yang disajikan, buku Ilusi-Delusi: 19 Kisah Realis Surealis karya Nana Sastrawan dapat disimpulkan sebagai sebuah karya sastra yang berhasil meruntuhkan dinding pembatas antara dunia nyata dan dunia imajinasi bawah sadar. Buku ini tidak sekadar menceritakan fiksi untuk menghibur, melainkan berfungsi sebagai cermin psikologis yang jujur sekaligus tajam dalam memotret kerapuhan manusia modern.
Akhir kata, Ilusi-Delusi adalah sebuah refleksi sastra yang komplet. Struktur ceritanya yang bergerak dari pembahasan dunia secara luas (makro) hingga menukik ke dalam konflik mental individu (mikro) mengajak pembaca untuk tidak lagi memandang dunia secara hitam-putih. Buku ini berhasil mengingatkan kita semua untuk sejenak mengambil jeda, menanggalkan topeng kepalsuan, dan berani jujur mengakui segala ketakutan serta kerapuhan yang ada di dalam jiwa kita sendiri.
Nurfaiqoh adalah seorang mahasiswi yang senang membaca dan jalan-jalan.
