Oleh Najla Ainurroghibah
(Mahasiswa ISIF Cirebon)
Ketika pertama kali melihat judul buku Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, saya mengira isinya hanya kumpulan cerita sederhana yang ringan untuk dibaca. Namun, anggapan itu langsung terpatahkan sejak saya membaca cerita pertamanya. Penulis seolah sengaja membalik ekspektasi pembaca dengan menghadirkan kisah yang jauh lebih kompleks dan mengandung persoalan sosial yang mendalam.
Cerita pertama yang berjudul sama dengan judul bukunya, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, membuat saya harus berpikir lebih keras. Sekilas, pembaca mungkin mengira cerita ini hanya membahas larangan atau stigma masyarakat terhadap kebiasaan bernyanyi saat mandi. Akan tetapi, cerita ini ternyata mengangkat persoalan yang lebih rumit. Tokoh utamanya adalah seorang perempuan bernama Sophie yang tinggal di sebuah permukiman padat penduduk. Melalui kisah Sophie, penulis menunjukkan bagaimana nyanyian yang terdengar dari kamar mandi dapat memicu imajinasi dan prasangka para lelaki di lingkungan tersebut.
Sebagai pembaca, saya merasa geram sekaligus prihatin terhadap apa yang dialami Sophie. Ia harus menanggung akibat dari pikiran dan penilaian orang lain yang sebenarnya tidak pernah ia sebabkan. Pada akhirnya, Sophie memilih meninggalkan permukiman itu karena tidak tahan menghadapi pandangan dan imajinasi liar yang terus ditujukan kepadanya. Melalui cerita ini, penulis tidak hanya menyajikan sebuah kisah, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan bagaimana seseorang dapat menjadi korban dari cara pandang masyarakat yang tidak adil.
Pada cerita selanjutnya, penulis kembali menghadirkan percakapan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan makna yang mendalam. Seorang cucu bertanya kepada kakeknya mengapa ayahnya tidak pernah mengajarinya mengaji dan mempelajari kitab suci, padahal kitab suci diyakini memuat pedoman kehidupan. Pertanyaan itu membuat sang kakek terdiam. Ia tidak menjawab apa pun, hanya memandang aliran sungai di hadapannya.
“Kenapa bapak tidak mengajari aku mengaji sekarang?”
“Kalau memang kitab suci mengajarkan hidup yang benar, seharusnya menyuruh aku belajar mengaji.”
Diamnya sang kakek terasa lebih kuat daripada seribu kata. Pembaca diajak merenungkan bahwa terkadang ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan alasan sederhana. Ada penyesalan, ada kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan ada tanggung jawab yang mungkin pernah terabaikan. Melalui percakapan singkat ini, penulis mengajak pembaca untuk mempertanyakan kembali nilai-nilai yang selama ini dianggap penting namun sering kali tidak diajarkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Bayang-bayangkuuuu!!! Kembali!! Kami meninggalkan hati nurani cuma sekali-kali.” (Kutipan dari Bayang-bayang Elektra)
Kutipan tersebut menjadi salah satu kritik sosial yang kuat dalam buku ini. Penulis menyampaikannya dengan cara yang sederhana, melalui kisah seorang gadis bernama Elektra yang kehilangan bayang-bayangnya. Sekilas cerita ini tampak seperti dongeng atau cerita fantasi biasa, tetapi semakin dibaca, semakin terlihat bahwa bayang-bayang dalam cerita tersebut bukan hanya sekadar bayang-bayang. Ia menjadi simbol dari hati nurani, kesadaran, dan sisi kemanusiaan yang seharusnya selalu melekat pada diri seseorang.
Melalui kisah Elektra, penulis seolah mengingatkan bahwa banyak manusia pada masa sekarang yang perlahan kehilangan nuraninya. Mereka hidup, bekerja, berbicara, dan berinteraksi seperti biasa, tetapi sering kali mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Kepentingan pribadi, ambisi, dan keinginan untuk selalu menang terkadang membuat seseorang lupa untuk mendengarkan suara hatinya sendiri. Akibatnya, mereka bertindak tidak lagi sebagaimana mestinya seorang manusia bertindak.
Selain itu, cerita ini juga menyampaikan pesan tentang kehilangan. Tidak ada sesuatu yang benar-benar akan selalu bersama kita. Orang-orang yang kita sayangi dapat pergi, hal-hal yang kita miliki dapat hilang, bahkan sesuatu yang tampak paling setia seperti bayang-bayang pun dalam cerita ini dapat meninggalkan pemiliknya. Melalui gambaran tersebut, penulis menunjukkan bahwa kehidupan selalu dipenuhi kemungkinan perpisahan dan kehilangan yang tidak bisa dihindari.
Yang membuat cerita ini menarik adalah cara penulis menyampaikan kritik dan pesannya. Tidak ada ceramah panjang atau nasihat yang menggurui. Penulis hanya menghadirkan sebuah cerita sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan pertanyaan besar tentang kemanusiaan, hati nurani, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Karena itulah, Bayang-bayang Elektra tidak hanya menjadi cerita tentang seorang gadis yang kehilangan bayang-bayangnya, melainkan juga refleksi tentang manusia yang perlahan kehilangan bagian terpenting dari dirinya.
Pada cerita Duduk di Depan Jendela, penulis kembali menyampaikan sesuatu yang besar melalui percakapan yang sangat sederhana.. “Kalau tidak ada kamu, Max ” “Sudahlah Ira, itu sudah lama sekali.” “Max.” “Ya?” “Kamu terlalu cinta padaku.” Hanya beberapa kalimat pendek, tetapi cukup untuk menggambarkan hubungan yang rumit antara dua orang yang telah lama berjalan bersama.
Max tetap menemani Ira, seorang wanita yang tak lagi muda, dengan kesetiaan yang nyaris tanpa syarat. Namun, selama itu pula ia harus menerima kenyataan bahwa hati Ira tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Hati perempuan itu masih tertinggal pada seseorang yang telah lama hilang dari hidupnya. Dari cerita ini saya beranggapan bahwa dalam urusan cinta, logika sering kali kehilangan tempatnya. Sebab perasaan tidak selalu tumbuh kepada mereka yang paling setia menemani, dan tidak selalu pergi dari mereka yang telah lama meninggalkan.
Pada cerita lainnya “Kriiinggggg”, penulis menghadirkan kisah yang tampak sederhana: sebuah telepon yang terus berdering. Bukan sekali atau dua kali, melainkan terus berbunyi hingga berganti zaman. Sebagai pembaca, saya dibuat penasaran tentang siapa yang berada di balik dering itu dan pesan apa yang begitu penting hingga terus disampaikan selama ratusan tahun.
Jawaban dari rasa penasaran itu baru muncul di akhir cerita, ketika telepon akhirnya diangkat.
“Hallo! Bagaimana sih ini? Kenapa baru diangkat sekarang? Dua ratus tahun kami menelpon! Katanya mau membela rakyat kecil!! Kami buta hukum, kami tidak tahu prosedur, makanya kami menelpon!…”
Kutipan tersebut menjadi puncak dari kritik yang ingin disampaikan penulis. Dering telepon yang tak pernah berhenti ternyata mungkin merupakan simbol suara rakyat kecil yang terus memanggil keadilan, tetapi tidak pernah benar-benar didengar. Melalui cara penyampaian yang sederhana, penulis menyampaikan kritik yang pedas terhadap para penegak hukum dan pemegang kekuasaan yang terlalu lama mengabaikan janji mereka untuk menegakkan hukum dan keadilan. Telepon yang baru diangkat setelah dua ratus tahun menjadi gambaran betapa lambatnya respons terhadap penderitaan dan harapan masyarakat yang selama ini menunggu untuk didengar.
“Mabuklah, mabuklah,” bisikku. “Hidup cuma sekali, kenapa kenyataan harus selalu mengecewakan.” Kutipan dari cerpen “Midnight Express” ini langsung menghadirkan suasana putus asa sekaligus pemberontakan terhadap kenyataan yang dianggap begitu menyakitkan. Kalimat tersebut bukan sekadar ajakan untuk mabuk secara harfiah, melainkan dapat dimaknai sebagai keinginan untuk melarikan diri dari kenyataan yang terasa semakin sulit diterima. Penulis membuka cerita dengan nada yang kelam, seolah menggambarkan manusia yang berada di titik jenuh terhadap keadaan di sekelilingnya.
Di sepanjang cerita, pembaca tidak hanya diajak mengikuti sebuah perjalanan, tetapi juga menyaksikan gambaran dunia yang kacau dan penuh ketidakpastian. Jalan layang yang terbakar, bangunan yang hampir runtuh, serta ledakan bom yang terus-menerus berjatuhan menghadirkan suasana mencekam yang terasa seperti potret sebuah negeri yang sedang dilanda krisis. Kekacauan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai latar cerita, tetapi juga menjadi simbol dari kondisi sosial dan politik yang penuh gejolak.
Mungkin melalui gambaran-gambaran itu, saya beranggapan bahwa penulis ingin menyinggung berbagai kerusuhan yang pernah terjadi pada masa Orde Lama maupun Orde Baru. Kehancuran yang tampak dalam cerita seolah merepresentasikan rapuhnya kehidupan masyarakat ketika kekuasaan, konflik, dan kekerasan saling bertabrakan. Dengan gaya penceritaan yang sederhana namun penuh simbol, “Midnight Express” berhasil menyampaikan kritik sosial sekaligus menunjukkan bagaimana manusia sering kali mencari pelarian ketika berhadapan dengan kenyataan yang terasa begitu mengecewakan.
Di akhir cerita novel ini, penulis menutupnya dengan sangat epik dengan kembali menghadirkan sosok bernama Sukab. Kehadiran tokoh ini terasa seperti kritik halus yang sengaja disisipkan penulis. Jika sebelumnya cerita berbicara tentang seseorang yang hanya mampu mencintai sekali seumur hidupnya, maka Sukab menjadi simbol dari kesetiaan yang bertahan meskipun waktu terus berjalan. Ia tetap menyimpan perasaannya pada orang yang sama, bahkan ketika keadaan telah berubah dan harapan nyaris tidak tersisa. Melalui Sukab, penulis seolah ingin menunjukkan bahwa tidak semua orang mudah berpindah hati; ada pula mereka yang memilih hidup bersama kenangan dan cinta yang tak pernah benar-benar selesai. Karena itu, akhir cerita ini tidak hanya menyentuh, tetapi juga meninggalkan pertanyaan bagi pembaca apakah kesetiaan seperti Sukab adalah kekuatan, atau justru sebuah luka yang terus dipelihara?.
Setelah membaca semua cerita ini penulis sepertinya ingin menyampaikan kritik terhadap kehidupan manusia dan masyarakat yang disampaikan secara sederhana bahkan seringkali tak terduga. Setiap cerita menghadirkan peristiwa yang tampak biasa, bahkan terkadang absurd. Yang menarik dari buku ini, penulis tidak menyampaikan pesannya secara langsung, tetapi membiarkan kami pembaca menemukan makanannya sendiri melalui percakapan atau mungkin gambaran peristiwa. Beberapa cerita memperlihatkan tentang bagaimana manusia sekarang yang kehilangan kepedulian, mengabaikan suara rakyat kecil atau bahkan melupakan nilai-nilai kemanusiaan.
Saya tutup tulisan ini dengan kutipan indah dari sang penulis.
“Dalam hatinya sukab bertanya-tanya apakah masih mungkin pada zaman seperti ini seseorang bisa tidak mempunyai dosa. Di zaman kerasukan dan ketamakan dihalalkan asal tidak menyalahi peraturan, atau tidak ketahuan menyalahi peraturan, dosa bukan lagi sesuatu yang patut diperhitungkan”.
