Oleh Kek Atek
1. Sekilas Mengenal Penyair D. Zawawi Imron
Menurut laman NU Online [1]: Penyair D. Zawawi Imron berasal dari Batang-Batang, Madura, Jawa Timur. Dia lahir pada tahun 1945. Penyair ini juga dikenal sebagai seorang kiai, mubaligh, dan pengasuh pondok pesantren. Sejak usia 13 tahun sudah mulai menulis puisi.
Pertama kali puisinya tayang berjudul Sembari Diri Berangkat Tua di media lokal Minggu Bhirawa, pada tahun 1979. Setelah itu berbagai ajang lomba karya puisi berhasil diraih, diantaranya Juara lomba dari Perhimpunan Indonesia Amerika, yaitu pada tahun: 1983, 1984, 1985. Puisi “Nenek-moyangku Airmata” karyanya memperoleh hadiah Yayasan Buku Utama pada tahun 1985. Penyair D. Zawawi Imron juga berhasil meraih Penghargaan berturut turut, misalnya dari: Majelis Sastra Asia Tenggara pada tahun 2010, South East Asia Write Award pada tahun 2011 yang dianugerahkan pada tanggal 16 Februari 2012 di Bangkok.
Kali ini, satu diantara puisi karya Penyair D. Zawawi Imron yang berjudul /Sungai Kecil/ menarik minat Penulis sebagai Penikmat puisi untuk menikmatinya. Puisi ini pernah dibacakannya pada 28 Maret 2012, ketika Orasi Kebudayaan di Gedung PBNU, di hari lahir Lesbumi-NU ke-50 Th. Judul orasinya “Menimba Ilham Vitalitas Nilai-nilai Pesantren”. Penyair D. Zawawi Imron juga dikenal sebagai Penyair Celurit Emas.
Adapun Puisi /Sungai Kecil/ karya Penyair D. Zawawi Imron adalah di bawah ini [1]:

2. Memindai Aroma Surealisme Segar Alami Di Puisi
Puisi yang berjudul /Sungai Kecil/ guritan Penyair D. Zawawi Imron, hanya terdiri dari satu bait, dengan gaya bertutur dari baris pertama, sampai terakhir. Untuk memudahkan langkah bedah penikmatan puisi, baris baris di bait puisi diberikan nomor urut, dari baris pertama sampai dengan baris terakhir, seperti di bawah ini.
Sungai Kecil
sungai kecil, sungai kecil! di manakah engkau telah kulihat? (1)
antara cirebon dan purwakerto atau hanya dalam mimpi? (2)
di atasmu batu-batu kecil sekeras rinduku dan di tepimu daun-daun (3)
bergoyang menaburkan sesuatu yang kuminta dalam doaku sungai kecil, (4)
sungai kecil terangkanlah kepadaku, di manakah negeri asalmu? (5)
di atasmu akan kupasang jembatan bambu agar para petani mudah melintasimu (6)
dan akan kubersihkan lubukmu agar para perampok yang mandi merasakan juga (7)
sejuk airmu sungai kecil, sungai kecil! mengalirlah terus ke rongga jantungku (8)
dan kalau kau payah, istirahatlah ke dalam tidurku! (9)
Kau yang jelita kutembangkan buat kekasihku. (10)
1980
Penyair D. Zawawi Imron mengawali puisi /Sungai Kecil/ karyanya, dengan aroma mengingat ingat, kemudian bertanya, seperti yang disampaikan pada baris (1) dan (2). Kedua baris ini, bisa ditulis ulang, dalam susunan berbeda, agar mudah terbayang, kira kira apa:
makna, logika, dan rasa yang hendak disampaikan di kedua baris tersebut?.
Susunannya menjadi di bawah ini.
sungai kecil, sungai kecil!
di manakah engkau telah kulihat? (1)
antara cirebon dan purwakerto
atau hanya dalam mimpi? (2)
Kedua baris di atas berpotensi memadukan batas dunia nyata berupa letak geografis antara /Cirebon dan Purwakerto/ dengan dunia mimpi /hanya dalam mimpi/. Sehingga menimbulkan efek logika yang sulit diprediksi dengan tepat, apa jawaban dari pertanyaan:
“keberadaan /sungai kecil/ itu, sebenarnya di dunia nyata, ataukah hanya di dalam mimpi?”
Gaya bertutur seperti di baris (1) dan (2) ini bisa membimbing penikmat puisi pada perkiraan adanya aroma surealisme yang tercium oleh indra penikmat puisi. Betapa tidak, bagaimana nuansa alam mimpi dan kenyataan hampir tidak bisa dibedakan, atau masih bersisa pada kenyataan yang berujung pada pertanyaan. Hal ini seolah mampu dirasakan bahwa bisa jadi /sungai kecil/ itu memang berada di alam mimpi, bukan di alam nyata antara /Cirebon dan Purwakerto/. Jika hal ini dipandang sebagai acuan rasa, maka aroma surealisme semakin menyengat. Karena pada gaya surealisme puisi, biasanya ditandai adanya narasi yang mengungkapkan kejadian yang hanya mungkin terjadi di alam bawah sadar, bukan di alam nyata, dan cenderung memiliki kebebasan asosiasi bagi penyair [2].
Di sisi lain, diksi /sungai kecil/ juga mempunyai makna polisemi alias satu kata bermakna ganda [3]. Sungai kecil bisa bermakna sungai di dunia nyata, semacam parit yang segar alami di persawahan, atau sungai kecil di pedesaan, namun bisa juga bermakna semisal semacam sungai pipa saluran aliran air yang berada di tubuh tanaman [4]. Pipa saluran air ini terhubung mulai dari akar penghisap air di dalam tanah, kemudian mengalir ke batang tanaman, terus ke cabang, anak cabang, ke ranting, dan anak ranting, lalu ke dedaunan. Selanjutnya menguap ke udara bebas, dan kembali lagi ke tanah dalam wujud air hujan, mengalir lagi ke tubuh tanaman.
Bisa juga bermakna metafora serupa aliran rindu yang menelusuri relung jiwa, lebih lebih tatkala sampai pada baris (3), dan (4).
Keduanya bisa ditulis ulang dengan susunan di bawah ini.
di atasmu batu-batu kecil sekeras rinduku
dan di tepimu daun-daun (3)
bergoyang menaburkan sesuatu yang kuminta
dalam doaku sungai kecil,(4)
Susunan narasi baris (3), dan (4), dibuat seperti di atas, agar memudahkan pemberian makna dan logika pada kedua baris tersebut. Diksi /batu kecil/ dan /daun daun/ disandingkan dengan rasa /rindu/, dilanjutkan dengan menjajarkan diksi /doaku/ dengan /sungai kecil/. Penjajaran diksi diksi ini berhasil memperkuat simbolisasi yang cenderung surealisme, karena mungkin Sang Penyair merasa tidak puas menyampaikan diksi puisinya kecuali dalam bentuk simbol [5].
Sehingga memacu menguarnya suasana transenden dari imajinasi tentang khusu’ berdoa di tepian sungai kecil. Suasana ini mampu membangkitkan rindu pada sesuatu yang tak terjangkau di dunia nyata. Meski, sekali pun /sungai kecil/ itu nyata adanya diantara letak geografis /Cirebon dan Purwakerto/. Dengan kata lain bahwa badan boleh di /sungai kecil/ di antara /Cirebon dan Purwakerto/, namun doa rindunya bisa tembus ke alam mimpi di luar sana, tak terjangkau indra manusia.
3. Penguatan Transenden Jembatan Menuju Dunia Nyata
Aroma surealisme, polisemi, serta simbolisasi yang tertuang di baris (1) sampai dengan baris (4) dari puisi /Sungai Kecil/ besutan Penyair D. Zawawi Imron, semakin menggugah minat untuk menikmati lanjut sampai pada baris terakhir di baris (10). Minat ini diawali dari dibukanya pintu gerbang transenden di atas, yakni: segala pengalaman spiritual yang melampaui kuasa manusia [6]. Ungkapan tersebut berupa diksi /rindu/, dan /doa/, lalu dilanjutkan pada baris (5), dan (6) berupa diksi /negeri asal/, dan /jembatan bambu/.
Untuk memudahkan telusur penikmatan, kedua baris disusun menjadi di bawah ini:
sungai kecil terangkanlah kepadaku,
di manakah negeri asalmu? (5)
di atasmu akan kupasang jembatan bambu
agar para petani mudah melintasimu (6)
Diksi di baris (5) memberi isyarat adanya semangat dari tokoh /ku/ lirik untuk bertanya tentang dari mana asal tokoh /mu/ lirik, dalam hal ini adalah /sungai kecil/. Pertanyaan ini bisa mengarah pada situasi transenden tentang sejatinya /negeri asal/ yang tidak lain mempunyai makna semangat spiritual untuk mengingat, bahwa suatu saat akan kembali ke negeri asal. Bukan lagi berada di makna dunia nyata, tetapi lebih kepada makna batin [7]. Rasa dan makna batin seperti ini diperkuat dengan ungkapan yang disampaikan di baris (6).
Setelah mengetahui bahwa negeri asalnya bisa jadi merupakan Negeri impian yang mempunyai ikatan batin yang sangat kuat untuk segera diwujudkan. Aktifitas untuk mewujud nyatakan Negeri impian ini, dengan cara memasang /jembatan bambu/. Berharap semua orang yang masih punya mimpi atau impian, atau cita cita bisa melintasi jembatan tersebut menuju terwujudnya harapan atau cita cita masing masing di masa depan.
4. Lompatan Struktur Penuh Misteri Di Diksi Puisi
Selepas menikmati sampai dengan baris (6) dan (7), kini tiba gilirannya menelusuri misteri baris selanjutnya, yaitu baris (7) dan (8). Kedua baris ini disusun ulang, agar mempermudah langkah penelusuran misterinya. Susunan tersebut di bawah ini.
dan akan kubersihkan lubukmu
agar para perampok yang mandi merasakan juga (7)
sejuk airmu sungai kecil, sungai kecil!
mengalirlah terus ke rongga jantungku (8)
Ternyata ke dua baris di atas berpotensi sebagai jawaban atas pertanyaan terdahulu, “keberadaan /sungai kecil/ itu, sebenarnya di dunia nyata, ataukah hanya di dalam mimpi?” yakni jawabannya berupa diksi yang menjadi semacam ungkapan adanya jalan damai sedamai suasana /sungai kecil/, sedalam dan /sekeras rinduku/ untuk menyediakan /jembatan bambu/ bagi /petani/ yang akan lewat, melintas menuju perjalanan berikutnya, atau /perampok/ sekali pun yang akan menumpang mandi di /sungai kecil/.
Bukan jawaban pilihan: Nyata atau tidak nyata.
Semua dipersilakan merasakan kedamaian /sungai kecil/ bersama jembatan bambunya, tanpa ada yang ditinggalkan, tidak dibeda bedakan, silakan memanfaatkan!
Meski pun itu semua merupakan kerja keras, dan kerja cerdas dari diri sendiri. Sampai sampai berani mempertaruhkan jantung kehidupan untuk dialiri /sungai kecil/ yang mungkin tidak jernih jernih amat.
Di baris (7) dan (8) ini, Penyair memberikan umpan misteri pada penikmat puisi, sehingga terkesan adanya struktur puisi yang melompat lompat dari dunia nyata, ke dunia mimpi, ke dunia penuh simbol, dan kembali lagi pada kesadaran nyata. Sehingga /sungai kecil/ bisa dianggapnya sebagai aliran yang mungkin merasa lelah. Silakan istirahat ke /dalam tidurku/ sambil berdendang tembang /buat kekasihku/, seperti yang tertuang di baris (9) dan (10).
Kedua baris ini disusun ulang menjadi:
dan kalau kau payah,
istirahatlah ke dalam tidurku! (9)
Kau yang jelita
kutembangkan buat kekasihku. (10)
Tentu makin ditelusuri akan semakin tumbuh misteri baru, yang mungkin bisa membuat penikmat puisi terkaget keget. Sebelum meningkat kaget beneran, sebaiknya cukup di sini saja.
Silakan terus berpuisi dan menikmati puisi!
Daftar Pustaka
- —, 2012, Puisi-Puisi D Zawawi Imron, NU Online https://nu.or.id/puisi/puisi-puisi-d-zawawi-imron-Eb7Jd
- Moh Kamil, 2023, Unsur-Unsur Surealisme dalam Puisi “Syaiun Sayabqa Bainana” Karya Faruq Juwaidah, Ajamiy, Jurnal Bahasa dan Sastra Arab, DOI: http://dx.doi.org/10.31314/ajamiy.12.1.159-169.2023
- Neni Maisa Putri, Winda Noprina, 2024, Analisis Relasi Makna Polisemi Pada Puisi People Pleaser Karya Choirul Trian, PREDIKAT: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 1. No.1.
- John S. Sperry, 2003, Evolution Of Water Transport And Xylem Structure, International Journal Of Plant Sciences, Int. J. Plant Sci. 164(3 Suppl.):S115 – S127, 2003 by The University of Chicago.
- Husnul Khatimah, 2023, Aliran Simbolisme Sebagai Gerakan Dalam Simbolisasi Karya Sastra Arab, Majalah Ilmiah Tabuah Volume 27, No. 2, Edisi Juli-Desember 2023.
- Gunta Wirawan, 2018, Dimensi Transendensi dalam Antologi Puisi Rahasia Sang Guru Sufi karya Odhy’s, DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 5(2), 2018, 196-218
- Sandi Setiawan, Rochmat Tri Sudrajat, Sary Sukawati, 2020, Analisis Unsur Batin Dalam Puisi “Kontemplasi” Karya Ika Mustika, Parole (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Volume 3 Nomor 3, Mei 2020
Penulis:
Kek Atek atau Kakek Atek, biasa dikenal juga sebagai Atik Bintoro
Penikmat Puisi tinggal di Rumpin, Bogor, Jawa Barat – Indonesia
Pegiat Komunitas Dapoer Sastra Tjisaoek
