Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Sumpah
    Puisi

    Sumpah

    3 November 2019Updated:11 November 2019Tidak ada komentar9 Mins Read38 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Kata-kata cenderung diberi peran terutama sebagai alat menciptakan dan menyampaikan imaji-gambar dalam pikiran serta hati dari penyair untuk pembacanya. Tetapi, kata-kata juga memiliki peran untuk menyampaikan pengalaman batin penyair, perjalanan spiritual penyair hingga mencapai titik yang paling ekstrim. Kata-kata seperti candu bagi penyair. Selamat Membaca. (Redaksi)

    [iklan]

    Puisi M Irfan Kurniawan

    sumpah

    (1)

    Aku di dalam waktu
    sementara kau menunggu
    bersumpah demi waktu

    di dalam waktu ada pisau dan duri
    siap menikam dan merobek diri
    walau tak tampak luka dan darah
    sungguh,
    rasa tikamannya seperti kita yang tak mau pisah
    ketika berdua dalam sepi
    begitu lirih

    di dalam waktu ada kisah dan sejarah
    menceritakan airmata
    para perantau yang tertanam di badan dunia
    walau tak tampak basah dan gelisah
    sungguh,
    basahnya seperti kita berdua yang akrab dengan rindu
    begitu rekah di dada

    di dalam waktu ada jalan dan rambu
    menuntun mata dan kaki manusia menuju rumahmu
    walau tak tampak warna dan musimnya
    sungguh,
    hasratnya seperti kita
    ketika intim di atas sajadah
    begitu tak lazim

    di dalam waktu ada ruang melepas lengang.
    walau tak tampak dinding dan atapnya
    sungguh,
    luas dan dalamnya seperti cinta
    ketika kita membaca semesta
    begitu purnama

    di dalam waktu ada perekat sangat kuat
    walau tak tampak ikatannya
    sungguh,
    kedekatannya seperti kita yang kadang berjarak.
    antara benar dan sabar begitu akrab

    Maka,
    demi kau
    kekasih,
    di dalam waktu ada suratmu, wujudmu.
    dan sungguh,
    tak kan henti kubaca kata-katamu
    (2)

    Kau meminta melihat kuda perang yang berlari kencang. Kupanggil ingatan. Saat ini yang ada hanya manusia-manusia berompi anti peluru yang suka berperang. Atau tank-tank baja yang membawa malaikat pencabut nyawa. Atau kuda-kuda dalam kerangka besi beroda yang menjauhkan kaki dari tanah tapi mendekatkan perjalanan ke rumah. Tapi karena kau yang meminta, kekasih, aku turuti permintaanmu.

    Di kepalaku napas kuda perang itu terengah-engah seiring ribuan langkah. Tak goyah. Cepat dan kuat. “Apakah langkahku menujumu, kekasih, harus seperti itu?” Senyummu pun lengkung seperti bianglala yang memenuhi dada.

    Terpercik api lantaran kaki besinya beradu dengan batu pagi. Debu-debu berterbangan mengelilingi matan. “Apakah akan seperti itu, selalu, kekasih, perjalananku menujumu? Debu-debu mengabutkan pandanganku.”

    (Ah, sepertinya tidak ada kata-kata ketika rasa berbicara.) Tanganmu membelai rambut panjang hitamku seperti sulur-sulur cahaya di malam gulita.

    “Cukupkah kekasih?”

    Kubuka mata. Kulihat mendung di langit siap memberi petir. “Ada apa kekasih? Apakah ada yang tertutup di telinga, mata, kepala, dan dada, hingga kau begitu? Atau kau tahu perselingkuhanku dengan permata dunia? Maafkan aku kekasih, buyarkan tatapan petir itu. Sungguh, aku takut jika kau begitu. Oh, aku tahu. Sepertinya aku belum berterimakasih atas segala pemberianmu.

    Alhamdulillah. Langit kembali cerah. Tapi kau meminta sekali lagi. Untuk memperhatikan pemakaman. Aku berjalan ke belakang rumah. Di sana ada ayah, kakek, buyut, guru, gurunya guru, dan saudara-saudaraku, yang disimpan tanah. Hanya sedikit gundukan dan batu nisan yang bisa bercerita tentang nama dan kenangan.

    Aku ingin bertanya, apakah aku harus selalu ingat batas usia, tapi kekasihku bertanya lebih dahulu. “Bagaimana jika tanah-tanah itu terbelah. Semua yang di dalamnya dibangkitkan lalu ditampakkan? Bagaimana jika itu dadamu?”

    Sebelum aku berkata-kata. Kau bersumpah atas semua itu bahwa segala semesta tidak diciptakan begitu saja dan sia-sia.
     
    (3)

    Kau bersumpah demi buah tin dan zaitun yang tumbuh di padang-padang gersang. Memberi minyak muka yang nyalang. Atau memberi bentuk pengetahuan yang masih remang. Kau pun bersumpah demi bukit sinai yang menyimpan batu-batu sejarah sedikit berdarah dan bergairah. Ada Musa yang luluh setelah merogoh kantong jubah dan menyala tangannya seperti purnama. Dan kau bersumpah demi mekah, kota tempat muara arah sujud keningku yang nestapa.

    Bilhak, anak cucu adam dan hawa tercipta dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dan mereka berada di tempat hinadan serendah-rendahnya. Bukan karena kau, tapi mereka sendiri yang memilihnya. Kecuali yang percaya pada kata-kata dan sumpah ketika kau menjadi hakim adil di hari ketika neraca-neraca perbuatan, sibuk menakar dan menimbang segala catatan tubuh.

    (4)

    Demi waktu duha ketika matahari mengantarkan awal keringat yang menetes ke bumi. Keringat-keringat dari tubuh-tubuh yang diajak main dunia. Dan demi malam apabila telah sunyi yang menyimpan hening untuk sepasang kekasih menyirami tanah di dada yang kering.

    Bilhak, kau tidak meninggalkan apalagi membenci. Karena akhir segala lebih baik bagi mereka. Kau puaskan dengan segala pemberian, menjaga mereka yang tak beribu atau berayah, menuntun yang bingung, dan memberi harta yang miskin.

    Lalu kau berpesan,
    Agar pada mereka yang tak berayah atau tak beribu, jangan semena-mena.
    Pada mereka yang meminta-minta, jangan mencela.
    dan terhadap segala nikmat, agar bercerita.

    “fa amma bini’mati robbika fahaddits”
     
    (5)

    Kau bersumpah demi malam apabila telah gelap. Dan siang apabila terang. Dan penciptaan laki-laki dan perempuan. Sungguh, usaha manusia berbeda-beda dalam mendapat harta. Ketika mendapat harta kemudian menyebarkannya di jalanmu, kau membuatnya makin mudah. Sementara yang kikir dan memandang dirinya kaya serta berdusta, kau membuatnya mudah untuk susah.Sungguh, harta tidak berguna jika kau tak memberi tanda. Karena kau pemilik akhirat dan dunia.

    Lalu kau bercerita padaku tentang neraka yang menyala-nyala, tempat orang-orang yang paling celaka, yang berpaling dan berdusta.

    Sungguh, kau bersumpah demi malam apabila telah gelap dan siang apabila terang dan penciptaan laki-laki dan perempuan, ridlomu adalah segalaku.

    (6)

    Kau bersumpah demi matahari dan silaunya. Demi bulan dan sinarnya. Demi siang dan wujudnya. Demi malam dan gelapnya. Demi langit dan penciptaannya. Demi bumi dan penghamparannya. Demi jiwa dan penyempurnaannya.

    Sungguh, beruntunglah orang-orang yang mencuci pakaian durhakanya. Dan merugilah mereka yang menghindari ketakwaannya. Seperti kaum samud yang berdusta dan musnah di bawah tanah, padahal nabinya berkata tentang siapa pencipta unta dan minumannya

    (7)

    Kau bersumpah demi mekah. Demi negeri yang didiami. Demi tali darah yang mengikat anak dengan orang tuanya. Sungguh, manusia berada dalam keadaan susah dan payah. Adakah yang lebih kuasa?

    Dan manusia berkata; “aku telah menghabiskan banyak harta untuk dunia”
    Tapi tak ada yang melihatnya?

    Kau bersumpah demi mekah. Demi negeri yang didiami. Demi tali darah yang mengikat anak dengan orang tuanya. Sungguh, kau ciptakan sepasang mata dan lidah dan sepasang bibir yang sangat berharga. Kemudian kau tunjukkan dua jalan.

    Jalan yang satu mendaki dan sukar? dengan melepas perbudakan dan semua memiliki kemerdekaan. Jalan yang satu mendaki dan sukar? dengan memberi makan orang-orang yang lapar terlebih kepada mereka yang ayah atau ibunya bahkan keduanya telah tiada atau orang miskin yang sangat fakir. Jalan yang satu mendaki dan sukar? dengan saling berpesan untuk bersabar dan berkasih sayang.

    Jalan satunya lagi sungguh mudah mengantar ke neraka.

    (8)

    Kau bersumpah demi fajar. Demi malam yang sepuluh. Demi yang genap dan ganjil. Demi malam apabila telah berlalu. Sungguh, ada pesan bagi orang-orang berakal tentang fajar, tentang malam yang sepuluh, tentang yang genap dan ganjil, dan tentang malam apabila telah berlalu.

    Kau memintaku melihat kaum ‘adyang mempunyai bangunan-bangunan tinggi. Dan fir’aun
    yang mempunyai bangunan-bangunan besar. “Bagaimana keadaannya?”

    Dan manusia yang berucap “tuhanku telah memuliakanku,” ketika rezeki melimpah. Tapi berkata “tuhanku telah menghinaku,” ketika rezeki tak banyak rupanya.

    “Sekali-kali tidak!” ucapmu. Itu karena mereka tidak memuliakan anak yatim. Tidak  saling mengajak memberi makan orang miskin. Dan mencampurbaurkan yang halal dan haram karena cinta buta pada harta.

    Kau bersumpah demi fajar. Demi malam yang sepuluh. Demi yang genap dan yang ganjil. Demi malam apabila telah berlalu. Lihatlah ketika bumi terus bergoncang, dan malaikat berbaris memperlihatkan neraka jahanam. Manusia sadar lalu menyesal.

    Demi fajar. Demi malam yang sepuluh. Demi yang genap dan yang ganjil. Demi malam apabila telah berlalu. Ikatanmu begitu erat di jiwaku. Kau pun memanggil jiwa yang tenang untuk kembali padamu.

    “yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah
    irji’ii ilaa robbiki roodiyatammardiyyah
    fadkhulii fii ‘ibaadii
    wadkhulii jannatii”
     
    (9)

    “Apakah kau tahu tentang bintang dan sinarnya yang tajam ketika malam? Dan setiap satu malaikat menjaga satu manusia? Ingatkah tentang pancaran air mani yang keluar dari antara tulang punggung dan tulang dada lalu manusia tercipta?” Tanyamu sambil bersumpah demi langit dan yang datang pada malam hari.

    “Hal mudah bagiku mengembalikan nyawa orang-orang yang mati. Mengembalikan daging pada tulang-tulang orang yang mati, ketika segala rahasia terkuak dan manusia tidak berdaya.” Ucapmu sambil bersumpah demi langit dan yang datang pada malam hari.

    kau bersumpah demi langit yang mengandung hujan dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan. Sungguh, al-quran itu ayat-ayat pemisah antara hak dan bathil dan bukan kata-kata sia-sia. Walau orang kafir merencanakan tipu daya, jahat dan dahsyat. Tapi kau sungguh pemaaf, memberikan kesempatan mereka, walau sementara.

    (10)

    Kau bersumpah demi langit yang mempunyai gugusan bintang. Demi hari yang dijanjikan. Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan. Sungguh, Binasalah para pembesar Najran di Yaman yang membuat parit berapi dan memiliki kayu bakar ketika mereka hanya duduk memperhatikan sekitar saat orang-orang mukmin mereka jadikan hewan buruan. Menyiksa. Membuat luka. Hanya karena sebuah iman kepada tuhan yang maha perkasa, yang maha terpuji, pemilik kerajaan langit dan bumi

    Sungguh, mereka yang membunuh dan menyiksa lantas tidak bertaubat, jahanam yang membakar menanti-nanti mereka.

    Dan sungguh, surga-surga menanti orang-orang mukmin yang mengerjakan segala kebaikan. Sungai-sungai mengalir di sana membawakan kemenangan yang agung

    Sungguh azab tuhan (yang memulai penciptaan dan yang menghidupkan kembali mereka yang mati dan maha pengampun, maha pengasih, pemilik ‘arsy, maha mulia, mahakuasa, dan berbuat apa saja yang dikehendaki-nya) sangat keras

    Kau bertanya sambil bersumpah demi langit yang mempunyai gugusan bintang. Demi hari yang dijanjikan dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan. “Sudahkah sampai berita tentang bala tentara fir’aun dan tsamud?”

    Ah, kenapa orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal kau selalu ada mengepung mereka.

    Ah, kenapa mereka selalu menutup mata dan telinga, padahal al-quran mulia yang tersimpan di lauh mahfudz sungguh terjaga kesuciannya dan bercerita tentang segala.

    (11)

    Kau bersumpah demi cahaya merah ketika senja. Demi malam dan apa yang diselubunginya. Demi bulan apabila purnama.

    Sungguh,tingkat demi tingkat, tangga demi tangga, akan dilalui kaki-kaki manusiadalam perjalanan di dunia

    Kenapa masih saja tidak mau beriman?Ketika al-quran dibacakan, mereka tidak mau sujud, bahkan mendustakan. Padahal kau lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan dalam hati.

    Maka kau sampaikan berita tentang azab yang pedih. Kecuali bagi mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Sungguh, tidak putus-putus kebaikan mendatangi mereka
     
    (12)

    Kau pun bersumpah demi bintang-bintang yang beredar dan terbenam. Demi malam apabila telah larut. Demi subuh apabila fajar telah menyingsing.

    Sungguh, al-quran itu benar-benar firman-mu yang dibawa jibril sang utusan,yang memiliki kekuatan dan kedudukan di sisimu yang memiliki ‘arsy, yang di sana ditaati dan dipercaya

    (13)

    Demi malaikat yang mencabut nyawa dengan keras dan lemah lembut. Demi malaikat yang turun dari langit dengan cepat dan yang mendahului dengan kencang. Dan demi malaikat yang mengatur urusan dunia.

    Sungguh,manusia akan dibangkitkan pada hari itu, ketika tiupan pertama mengguncang-guncang alam. Menyusul tiupan kedua. Lihatlah hati manusia sangat takut. Pandangannya tunduk.

    (14)

    Dan aku bersumpah demi sumpahmu. Dalam sumpah ada kata-kata pembisik telinga, agar merayu mata, hati, dan kepala untuk membaca tentang dunia sebagai tempat singgah.

    puisi kehidupan puisi renungan Puisi Sufi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleSantet
    Next Article Malam Midodareni

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Situ Bagendit: Danau Melegenda di Banyuresmi, Garut

    30 April 20263 Views

    Inspirasi Iptek Di Dalam Bismillah

    29 April 20267 Views

    Kolam Renang “Bukit Lumpang” Menjadi Destinasi Warga Lokal

    27 April 202610 Views

    Situs Ziarah KH. Abdul Hanan Babakan Ciwaringin Cirebon

    27 April 20266 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (163)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.