Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Tradisi » Sekaten
    Tradisi

    Sekaten

    22 Juli 2019Updated:15 November 2019Tidak ada komentar4 Mins Read269 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Jika kebetulan anda jalan-jalan ke kota Solo atau Yogyakarta di Jawa Tengah pada bulan Mulud (kalender Jawa) atau bulan Rabiul Awal (kalender Hijriah), anda akan menjumpai sebuah perayaan tradisi yang dikenal dengan SEKATEN. Yaitu rangkaian acara untuk memperingati  kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan setiap tahun oleh keraton Surakarta dan keraton Yogyakarta. Prosesi acara SEKATEN atau SEKATENAN dimulai dari tanggal 5 sampai dengan tanggal 12 Mulud, penanggalan Jawa atau bulan Rabiul Awal kalender penanggalan Hijriah.

    Beberapa acara penting pada perayaan Sekaten adalah dimainkannya gamelan pusaka keraton di halaman Masjid Agung masing-masing keraton, pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad dan rangkaian pengajian di serambi Masjid Agung. Puncak acara dari Sekaten adalah Grebeg Mulud sebagai bentuk rasa syukur pihak istana dengan keluarnya sejumlah Gunungan yang akan diperebutkan oleh masyarakat. Perayaan Sekaten ini dimeriahkan juga oleh Pasar Malam yang biasa disebut Sekatenan  yang berlangsung selama sekitar 40 hari, dimulai pada awal bulan Sapar.

    Tradisi Sekaten ini bermula di sekitar abad ke-15 dari Kerajaan Demak di pantai utara pulau Jawa. Ketika itu para Sunan dan Wali melihat kalau masyarakat Jawa sangat suka pada irama gamelan dalam setiap melakukan upacara, maka timbul gagasan dari Sunan Kalijaga untuk membuat acara Sekatenan yang tujuan adalah untuk memperingati hari kelahiran nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal. Seiring jalannya waktu tatacara perayaan Sekaten ini terus berlanjut sampai sekarang di Kasunanan Surakarta (Solo) dan Kesultanan Yogyakarta.  Sekaten ini diadakan sebagai syi’ar agama Islam. Di halaman kedua Masjid Agung di keraton Surakarta dan Yogyakarta dimainkanlah gamelan, dengan harapan warga masyarakat akan datang ke halaman masjid untuk menikmati alunan suara gamelan dan mendengarkan khutbah-khutbah mengenai keislaman.

    [iklan]

    PROSESI RANGKAIAN ACARA SEKATEN.

    1. Ngarak Gamelan

    Upacara Sekaten digelar selama satu minggu dengan diawali dengan keluarnya dua perangkat gamelan dari Keraton untuk dibunyikan di halaman Masjid Agung. Di keraton Surakarta gamelan terdiri dari gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Sedangkan di keraton Yogyakarta adalah gamelan Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga Wilaga. Setelah sampai di Masjid Agung, masing-masing perangkat gamelan diletakkan di sisi kiri kanan halaman masjid untuk kemudian ditabuh selama 7 hari.

    Puncak rangkaian upacara tradisional Sekaten adalah pada tanggal 12 Rabiul Awal, tepat pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang  ditandai upacara Grebeg Mulud. Grebeg ini merupakan sedekah dari pihak Keraton kepada masyarakat berupa Gunungan yang berisi hasil bumi yang tersusun melingar. Setiap orang yang hadir akan rebutan rangkaian gunungan tersebut. Masyarakat percaya, kalau mereka bisa mendapatkan bagian hasil bumi dari gunungan tersebut akan terbebas dari segala macam bencana dan malapetaka.

    1. Numplak Wajik

    Dua hari sebelum acara Grebeg Mulud, di halaman istana sekitar jam 16.00, ba’da Ashar, dilakukan upacara Numplak Wajik. Upacara ini dilaksanakan dengan Kotekan atau permainan musik  dengan menggunakan alat yang berupa: kentongan, lesung (alat untuk menumbuk padi), dan semacamnya.

    Permainan musik kotekan ini adalah pertanda kalau gunungan untuk acara Grebeg Mulud  yang nanti akan diarak dan diperebutkan sedang dipersiapkan. Lagu-lagu yang dimainkan dalam acara Numplak Wajik itu adalah lagu-lagu Jawa yang sudah populer dan lagu-lagu rakyat lainnya.

    1. Grebeg Mulud

    Acara puncak pada peringatan Sekaten adalah Grebeg Mulud yang dilaksanakan pada tanggal 12 Rabiul Awal, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, mulai jam 08.00 hingga 10.00 WIB. Dengan dikawal oleh 10 regu prajurit keraton,  sebuah Gunungan yang terdiri dari rangkaian beras ketan, makanan, dan buah-buahan serta sayur-sayuran akan dibawa dari istana menuju Masjid Agung keraton. Setelah didoakan, Gunungan yang melambangkan kesejahteraan kerajaan Mataram ini dibagikan kepada masyarakat yang menganggap bahwa bagian dari Gunungan tersebut akan membawa berkah bagi mereka. Bagian Gunungan yang dianggap sakral ini akan dibawa pulang dan ditanam di sawah/ladang agar sawah mereka menjadi subur dan bebas dari segala macam bencana dan malapetaka.

    1. Arti dan makna Sekaten

    Menurut  KRT Haji Handipaningrat dalam buku Perayaan Sekaten, kata Sekaten adalah adaptasi dari Bahasa Arab, Syahadatain, yang berarti kesaksian atau syahadat dua. Selanjutnya makna dari Sekaten ini meluas, dikaitkan dengan istilah:

    Sahutain, yaitu: menghentikan atau menghindari perkara dua. Sifat lacur dan menyeleweng
    Sakhatain, yaitu: menghilangkan perkara dua. Watak hewan dan sifat setan
    Sakhotain, yaitu: menanamkan perkara dua. Memelihara budi suci atau budi luhur dan menghambakan diri pada Tuhan.
    Sekati, yaitu: setimbang. Orang hidup harus bisa menimbang atau menilai mana baik mana buruk.
    Sekat, yaitu: batas. Orang hidup harus membatasi diri untuk tidak berbuat jahat serta tahu batas-batas kebaikan dan kejahatan. (AY)

    Sumber foto: https://www.suara.com –ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

    Perayaan Sekaten Tradisi Jawa Tengah Tradisi Sekaten
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleBunga Merah dan Kisah Hidup Penyair
    Next Article Komunitas Literasi Ngumpul di Tangsel

    Postingan Terkait

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 2026

    Tradisi Potong Jari, Papua

    17 Mei 2024

    Tradisi dan Riwayat Ketupat

    25 April 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 202618 Views

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 20266 Views

    Menikmati Panjat Tebing Puisi Penyair Darmanto Jatman “Memandang Padang Alang-Alang Pada Suatu Malam”

    9 Mei 202647 Views

    Wisata Dataran Tinggi Dieng Kembali Ramai Dikunjungi Wisatawan

    5 Mei 20267 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (80)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (166)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.