Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Pendidikan » Sekaleng Kopi dan Gimana Sih Caranya Saya Berpikir
    Pendidikan

    Sekaleng Kopi dan Gimana Sih Caranya Saya Berpikir

    27 Juni 2019Updated:15 November 2019Tidak ada komentar3 Mins Read3 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Begini, saya ingin menyampaikan kisah yang sifatnya hanya pendapat. Terserah mau dianggap benar, kisah nyata, atau apalah. Saya punya kawan yang berinisial F. F ini punya kebiasaan baru, yaitu menjelek-jelekkan orang lain di media sosial. Di dalam pendapatnya, ia mengutip suatu ayat dari Alquran yang jelas-jelas tidak ada sangkut pautnya. Dari mana saya mengetahui kalau pendapatnya dan ayat Alquran tersebut tidak ada hubungannya? Kalau mau membuka pikiran, dengan cermat kita bisa menganalisis kalimat-kalimat yang ia bangun, lalu mempelajari ayat Alquran yang dikutip, sesuai atau tidak. Selain itu, saya berusaha membuka kitab tafsir untuk mengetahui asal mula dan tujuan diturunkannya ayat tersebut. Celakanya, banyak orang yang mengamini pendapat F, dan membagikan pendapatnya tersebut dengan cara mengetuk ikon share. Anjrit.

    Hanya karena mendengar pernyataan dari idola dan kesepakatan banyak orang, dengan semena-mena kita menggunakannya sebagai “senjata” untuk menyerang orang lain yang tidak sependapat. Seolah-olah kita adalah makhluk bersih dan paling benar di alam semesta. Di pikiran kita saat ini pasti muncul pertanyaan, “Salah nggak sih?”

    Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya akan mengajukan pertanyaan lain, “Penting nggak sih?” mungkin, setelah ini akan muncul pertanyaan-pertanyaan lain yang juga membutuhkan jawaban. Kalau menurut kita tidak penting, jangan lanjut membaca pendapat saya ini, tapi jika menurut kita penting, silakan lanjut membaca.

    Dari kisah di atas, saya mempelajari beberapa hal. Pertama, saya harus berhati-hati dalam berucap. Apalagi ketika mengutip Alquran sebagai kitab suci agama Islam (dan tentu saja kitab suci agama lain juga). Kedua, saya harus cermat ketika membaca atau mendengar suatu pendapat. Ketiga, jangan malas untuk mengecek suatu fakta, kebenaran, bahkan sumber lain yang berkaitan dengan pendapat tersebut. Dari sini, saya akan mengajak para pembaca untuk memulai berpikir dengan benar.

    Ketika kita diberikan suatu pendapat, hendaknya kita membuka diri dengan suatu pertanyaan. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut  pikiran kita akan bergerak mencari data, fakta, dan pendapat lain. Lalu secara sadar kita akan menarik kesimpulan dari data, fakta, dan pendapat-pendapat lain yang kita dapatkan. Secara alur berpikir, kita tidak bisa menarik kesimpulan terlebih dahulu, lalu mengumpulkan data-data untuk mendukung pendapat kita. Hal tersebut sangat berbahaya, karena kita hanya akan memilih pendapat dan data yang sesuai keinginan kita, sedangkan yang tidak sesuai akan diabaikan. Di sisi lain, kebenaran memiliki sifat mutlak, dan tidak tebang pilih sesuka hati berdasarkan apa yang kita mau. Dunia ini bukan punya saya atau kamu doang. Orang lain ngontrak gitu?

    [iklan]

    Kemudian, penarikan kesimpulan itu tidak bisa asal-asalan. Dari data, fakta, dan pendapat yang kita temui, haruslah ditarik kesimpulan yang masuk akal. Supaya kesimpulan yang logis dapat diterima oleh semua orang dan dapat dianggap sebagai satu kebenaran.

    Rumit ya?

    Dengan metode berpikir seperti itu, kita akan semakin cermat dalam menghadapi suatu masalah, rasional dalam memberikan jawaban, dan tentu berhati-hati dalam menyampaikan suatu pendapat. Kehati-hatian seperti ini akan membuat kita tidak mudah mengklaim orang lain salah, dan kita paling benar.

    Saya jadi teringat judul yang saya tulis, “Sekaleng Kopi dan…” kalau tidak ada sekaleng kopi yang ngopi aja di gelas beling. Kalau tidak ada gelas beling ya pakai gelas plastik. Toh masa kini orang-orang lebih senang ngopi dengan gelas plastik. Tidak ada hubungannya sih, semoga di tulisan berikutnya ada sekaleng kopi beneran. (SN)

    cinta dan kopi filosopi kopi kopi robusta
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleSembilan Elemen Cinematic
    Next Article Mari Mengenal Teknologi Roket

    Postingan Terkait

    Membaca Peta Jalan Pemikiran Gus Dur: Catatan dari Esai Republik Bumi di Surga

    31 Mei 2025

    Bahasa Indonesia sebagai Alat Komunikasi dan Persatuan Bangsa

    23 Oktober 2024

    Perkembangan Bahasa Indonesia di Era Digital

    23 Oktober 2024
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 20269 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202665 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202636 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202613 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.