Cerita Jalanan
Banyak kendaraan di jalanan
Lupa memberikan perhatian
Kepada aspal yang menutupi kerikil dengan penuh cinta
Meski terkadang mereka harus terbakar
Atau habis dikikis air hujan
Mereka tanpa keluhan
Membuat orang merasa nyaman
Hilir mudik
Membawa kenangan
Ia memang tak hafal
Langkah mereka yang memilih masa depan
Yang tertatih di trotoar
Atau yang menetap di satu jalan
Tapi kepergian selalu menjanjikan
Meski berakhir samar dan temaram
Di jalanan mereka belajar melupakan
Tangerang, 24524
Karena Luka Kita adalah Sakit Semua Orang, Sayang
Kita sedang menikmati sakit yang berbeda di waktu serupa
Aku dengan kepala terapung di udara
Dibawa lari kereta dorong
Mengejar bulan agar tak pudar bila tiba pada siang
Karena bayangan
Akan berarti bila ia memilih pergi
Engkau dengan banyak luka di mulut yang sama
Merasakan perih diam diam
Seperti pada saat petang
Tak ada yang bersuara kecuali malam
“aku sariawan”
Bisikmu perlahan
Aku tersenyum
Merasakan bumi terguncang
Rindu teramat tua lama sekali ia pendam
Sampai terjatuh
Mencium aroma tanah yang hitam
Seperti napas kita
Beradu nasib dengan pujangga
Saling kuat
Meski sekarat
Karena luka kita, adalah sakit semua orang, sayang
Tangerang, 25425
Penjual Soto
Kau tahu penjual soto yang berkalung kain basah setiap sore di samping rumah?
Ia menyimpan banyak keringat
Merebusnya bersama keratan daging dan angan-angan
Esok bisa beli tiga pasang
Sapi yang belang kulitnya
Tebal dagingnya
Bila berjalan bokongnya kelihatan hamil tua
Penjual soto selalu sumringah
Tak ada pembeli, ia tabah
Menusuk-nusuk dadanya sendiri dengan garpu
Menyiraminya dengan doa-doa
Sambil berhentak
Tangannya mengumpulkan mangkuk-mangkuk yang tercecer menunggu ada antrian
Dalam otaknya
Dua lembar bon belanja harian belum terbayar tunai
Anak-anak masih suka jajan
Dompet terus merasakan kesepian
Tukang soto punya motor
Ingin ia jual
Tapi tak ada yang menawar
Padahal sudah tiga kali ia mandikan
Tetangga dekat melihatnya, heran
Ia tak tahu orang orang di sekitar juga banyak hutang
Kebutuhan pokok saja harganya main perasaan
Tangerang, 25425
Sepi Biarlah Pergi
Akhir-akhir ini aku lelah sekali memerah sepi dan mempekerjakannya setiap hari
Ia tak mau bersuara
Apalagi menanggapi ocehanku yang kadaluarsa
Padahal mulutnya lebih tajam dari Bu Tejo
Lebih berbisa dari ular
Apa karena aku tak pernah mengistimewakannya
Lantas dia menyimpan suara suara sumbang
Dan menyalakannya bila aku tumbang
Aku ingin ia pergi
Dari kotaku ke kota batu
Biar bertemu sesama anak balian
Menjadi patung-patung
Menjadi arca
Dipuja tapi tak terbukti luar biasa
Biarlah aku tak memilikinya
Sekali atau untuk selamanya
Tangerang, 27425
